News Ticker

Rusuh Agama dan Hancurnya Sebuah Negara Karena Berita Palsu ‘Hoaks’

Sabtu, 10 Maret 2018,

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA –  Berita bohong alias hoaks merupakan kabar yang berisi informasi palsu dan diciptakan secara sengaja. Pencipta berita bohong sadar benar substansi isi dari berita kreasinya itu tidaklah benar.

Dalam berbagai catatan, hoaks dilaporkan telah muncul sejak dahulu kala, jauh sebelum revolusi teknologi digital seperti sekarang ini, yang direpresentasikan dengan hadirnya telepon pintar dan maraknya media sosial.

Baca: Opini Pedas Netizen kepada Bani Hoax dan Fitnah, Andai Jokowi Diktator

Hoaks jauh lebih banyak diasosiasikan dengan niat jahat. Karena hoaks yang tersebar, malapetaka dapat menimpa seseorang atau sekelompok masyarakat. Hoaks dapat pula memicu perang yang menghancurkan suatu negara.

Masih tercatat dalam ingatan kita, invasi Amerika Serikat yang meluluhlantakkan Irak pada 2003 diawali dengan hoaks bahwa Saddam Husein memiliki senjata pemusnah massal.

Hoaks di masa lalu cenderung diciptakan penguasa. Namun, dengan berkembangnya teknologi digital, siapa pun bisa memproduksi hoaks. Produsen hoaks dari kelompok yang disebut Muslim Cyber Army yang ditangkap polisi, misalnya, terdiri atas dosen, pegawai negeri sipil, dan wiraswasta.

Itulah pertumbuhan hoaks yang kini telah berkembang menjadi epidemi yang melanda dunia. Tanpa mampu dibatasi ruang dan waktu, produksi dan peredaran hoaks dari waktu ke waktu, hari ke hari, dan detik demi detik terus berkembang menghancurkan ikatan-ikatan dan kohesivitas individu serta masyarakat.

Baca: Video Hoax Sengaja Disebar untuk Sulut Perang Sektarian di Myanmar

Dalam perkembangan terbaru, misalnya. hoaks telah membuat Kota Kandy. sebuah wilayah yang terletak di Sri Lanka, mengalami ketegangan dan kerusuhan selama berhari-hari. Pemerintah negeri itu, Selasa (6/3), harus memberlakukan jam malam. Dua warga tewas dan sekolah-sekolah di wilayah itu ditutup.

Sumber kerusuhan dilaporkan berasal dari pesan berbau antimuslim yang diedarkan di jejaring sosial. Salah satunya berupa video yang dikirim seorang biksu Buddha garis keras

yang menggelorakan aksi kekerasan terhadap umat Islam di negeri itu. Kerusuhan agama pecah di Sri Lanka gara-gara hoaks.

Indonesia tentu saja tidak terbebas dari hoaks. Hoaks yang peredarannya di media sosial tidak kalah masif dengan narkoba membuat ikatan-ikatan sosial kita menjadi kian renggang, bahkan cenderung retak. Akibat masifnya hoaks, kita sulit menepis penilaian betapa bangsa ini telah terbelah dalam dua kelompok besar. Gejala ini terlihat nyata pasca-Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017.

Baca: Ini Sumber Foto-foto Hoax Rohingya

Hoaks memang telah mendorong semangat saling mencaci, memaki, dan membenci menjadi kompleks psikologis yang tidak tersembuhkan.

Jika gejala ini dibiarkan, niscaya negeri ini semakin berada dalam bahaya perpecahan dan konflik sosial. Benarlah peringatan Presiden Jokowi bahwa hoaks memicu disintegrasi bangsa. Kita tentu tidak menghendaki peringatan presiden itu menjadi kenyataan, seperti di Sri Lanka. Oleh karena itu, pemberantasan hoaks tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Proses hukum yang tegas dan adil harus diberlakukan kepada siapa pun dan dari kelompok mana pun yang terbukti memproduksi dan mengedarkan hoaks maupun hate speech.

Tanpa itu, kita hanya tinggal menunggu waktu datangnya konflik sosial dan huru-hara yang menghancurkan bangsa dan negara ini. Jangan sampai itu terjadi. (ARN/SuaraPembaca.net)

About ArrahmahNews (14679 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: