News Ticker

Kelompok HAM Ancam Tindakan Hukum Jika Prancis Masih Ekspor Senjata ke Saudi dan UEA

Jum’at, 23 Maret 2018

ARRAHMAHNEWS.COM, PARIS – Dua kelompok hak asasi manusia telah memberi tenggat waktu kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron sampai dua bulan ke depan, untuk mengakhiri ekspor senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang terlibat kejahatan perang dalam konflik tiga tahun yang menghancurkan di Yaman, atau menghadapi proses hukum.

Organisasi non-pemerintah ‘Droit Solidarite and Aser’, yang berspesialisasi dalam masalah persenjataan, berpendapat bahwa Perancis melanggar hukum internasional dengan menyediakan senjata untuk agresi yang dipimpin Saudi terhadap Yaman dan melakukan kejahatan perang di sana.

“Prancis tidak menghormati komitmen internasionalnya,” kata presiden Aser, Benoit Muracciole, kepada Reuters.

Pengacara yang bertindak untuk kedua LSM tersebut telah mengirimkan surat ke kantor Perdana Menteri Edouard Phillipe yang meminta lisensi ekspor untuk ditunda.

Droit Solidarite and Aser akan membawa kasus mereka ke otoritas hukum tertinggi Prancis, yang dikenal sebagai Conseil d’Etat, seandainya pemerintah Prancis gagal memenuhi tenggat waktu yang diberikan.

“Kami akan pergi ke Dewan Negara pada 1 Mei, jika ada penolakan eksplisit atau implisit dari pemerintah untuk merespon,” kata Muracciole.

Tindakan itu dilakukan karena Norwegia telah menangguhkan ekspor senjata ke Uni Emirat Arab.

Pemerintah Jerman juga mengatakan akan “segera” menghentikan ekspor senjata kepada siapa pun yang berpartisipasi dalam perang di Yaman.

Perancis, merupakan eksportir senjata terbesar ketiga di dunia, telah menjual senjata artileri dan amunisi, senapan sniper, dan kendaraan lapis baja ke Arab Saudi dan UEA.

Sekitar 14.000 orang telah tewas sejak awal kampanye militer Arab Saudi melawan Yaman pada Maret 2015. Sebagian besar infrastruktur Yaman, termasuk rumah sakit, sekolah, jalan, pasar dan pabrik, telah menjadi puing-puing akibat perang.

PBB mengatakan, 22,2 juta orang membutuhkan bantuan makanan, termasuk 8,4 juta orang yang terancam kelaparan.

Seorang pejabat tinggi bantuan PBB baru-baru ini memperingatkan “bencana” yang akan segera menyapu Yaman, dan menyatakan bahwa ada risiko kelaparan dan kolera yang semakin besar di sana.

“Setelah tiga tahun konflik, kondisi di Yaman menjadi bencana besar,” kata John Ging, direktur operasi bantuan PBB, kepada Dewan Keamanan PBB pada 27 Februari.

Dia menambahkan, “Kehidupan orang-orang terus terurai. Konflik telah meningkat sejak November dan mendorong sekitar 100.000 orang dari rumah mereka.”

Ging lebih lanjut mencatat bahwa kolera telah menginfeksi 1,1 juta orang di Yaman sejak April lalu, dan wabah baru difteri telah meluas di negara itu. [ARN]

About ArrahmahNews (14679 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: