Penderitaan Bangsa Yaman yang Terlupakan

Jum’at, 23 Maret 2018

SANA’A, ARRAHMAHNEWS.COM – Arab Saudi telah gagal mencapai hampir semua tujuan politik dan militernya di Yaman. Namun ada satu tujuan yang nyaris berhasil dicapai Riyadh, yaitu mengisolasi Yaman dari komunitas internasional.

Pemberitaan media terhadap Yaman sangat jarang. Dan dalam pemberitaan yang jarang itupun kontennya begitu penuh dengan kebohongan dan penyimpangan untuk mengalihkan perhatian dari kejahatan perang Riyadh, Abu Dhabi, dan Washington.

Baca: Aktivis Letakkan 5000 Bunga untuk Anak Yaman di Halaman Gedung Capitol AS

Di antara pembungkaman media, larangan perjalanan, larangan wartawan asing memasuki negara itu, dan pemerasan keuangan di PBB, penderitaan bangsa Yaman benar-benar terlupakan.

Blokade yang diterapkan oleh Saudi dan yang diberlakukan oleh AS membatasi semua impor, ekspor, dan transportasi darat, laut, dan udara. Tidak hanya bandara Sana’a yang ditutup untuk sebagian besar perang, tetapi pesawat tempur koalisi juga menghancurkan infrastruktur komunikasi bandara.

Siapa pun yang ingin masuk atau keluar negara harus melewati Aden, di mana Riyadh dan sekutunya telah menyiapkan ibukota improvisasi. Meskipun media mainstream seperti Reuters dan The Guardian mengatakan bahwa Houthi membatasi kebebasan pers dan menahan wartawan, kebenarannya adalah koalisi Saudi yang telah menciptakan pemadaman media.

Baca: Saudi-AS Ciptakan Provokasi Media untuk Tutupi Kegagalan Mereka di Yaman

Arab Saudi memiliki cengkeraman kuat pada media Barat dan media Arab. Melalui ribuan “sumbangan” dan metode suap lainnya, Riyadh memastikan bahwa outlet-outlet berita utama menggunakan pendekatan “membela” atau “menutupi” saat memberitakan tentang tindakan mereka di Yaman.

Hal ini termasuk kebenaran tentang al-Qaeda di Yaman (AQAP). Meskipun Arab Saudi dan Amerika Serikat mengklaim memerangi terorisme, tapi milisi bayaran mereka, termasuk komandan seniornya, mengangkat senjata dan berperang bersama dengan kelompok-kelompok teror seperti AQAP dan ISIS untuk melawan Ansarullah. Sebagaimana diungkap Mohammad Ali Al-Houthi dalam wawancaranya dengan Mint Press News.

Al-Houthi mengatakan bahwa penentuan nasib sendiri ini adalah hak bangsa Yaman, mencakup pemilihan presiden demokratis dan transparan, pemilihan parlemen, dan referendum.

Baca: Bungkamnya Media Barat dan Saudi Dihadapan Jerit Tangis Kelaparan Ratusan Ribu Anak Yaman

Al-Houthi juga menunjukkan kemunafikan Amerika Serikat yang membanggakan diri sebagai pejuang demokrasi, namun mendukung monarki opresif, rezim reaksioner, dan pelanggar hak asasi manusia yang terkenal seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

“Saya pikir sangat bodoh bagi siapa pun untuk melihat negara-negara reaksioner seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara koalisi yang mendukung mereka sebagai pionir demokrasi atau mampu menawarkan solusi kepada Republik Yaman. Ini kontraproduktif dan tidak realistis. Sebuah monarki yang memenjarakan siapa pun yang mengkritik mereka selama bertahun-tahun, tidak dapat memberikan demokrasi kepada rakyat Yaman atau bekerja untuk memberikan hak penuh kepada rakyat Yaman,” ujar Al-Houthi lebih jauh.

Kerajaan itu (Arab Saudi) dikenal dengan aturan “reaksioner radikal”, perilaku kriminal, dan permusuhan sejati terhadap demokrasi di dalam dan di luar negeri. Bagaimana bisa siapa saja yang mengklaim mendukung hak asasi manusia dan kebebasan politik bersekutu dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab? (ARN)

About Arrahmahnews 30099 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.