News Ticker

Arab Saudi Prihatin Jeish Al-Islam Dipaksa ke Idlib

Minggu, 25 Maret 2018

ARRAHMAHNEWS.COM, RIYADH – Riyadh menunjukkan keprihatinan yang mendalam setelah Jeish al-Islam dipaksa oleh serangkaian kekalahan yang menghancurkan untuk menyetujui rencana pemerintah Suriah, yang merelokasi mereka dari Damaskus ke Idlib, di mana tidak ada pengaruh Saudi dan digantikan dengan Turki sebagai pendukung baru dari kelompok militan.

“Relokasi Jeish Al-Islam ke Idlib berarti bahwa salah satu kelompok teroris paling penting akan dipindahkan ke wilayah yang dikendalikan oleh Jabhat al-Nusra (Tahrir al-Sham Hay’at) dan militan lainnya yang didukung Ankara. Pada gilirannya, akan menimbulkan pertikaian di antara kelompok-kelompok teroris yang berbeda di Idlib,” sebuah penilaian oleh ruang operasi gabungan tentara Suriah, dan menambahkan bahwa pertempuran internal seperti itu akan melunturkan kemampuan militer dari semua kelompok teroris yang ditempatkan di barat laut provinsi.

Riyadh sangat khawatir bahwa Jeish al-Islam melangkah keluar dari wilayah kekuasaannya dan dibujuk untuk menaati Ankara setelah relokasi mereka ke Idlib, disaat Arab Saudi dan Turki mengalami ketegangan dan persaingan politik di kawasan.

Jeish al-Islam dipaksa untuk berdamai dengan tentara Suriah di Ghouta Timur baru-baru ini.

Laporan mengklaim bahwa Tentara Suriah dan Jeish al-Islam setuju dengan ketentuan perjanjian yang akan memaksa mereka meletakan senjata.

Laporan itu lebih lanjut mengatakan menurut perjanjian, Jeish al-Islam akan membebaskan tahanan di Douma, termasuk mereka yang berasal dari Tentara Suriah, menyerahkan semua senjata berat mereka kepada pemerintah, dan memberikan akses penuh pada pemerintah dan tentara ke Douma untuk mengambil korban luka ke rumah sakit setempat.

Menurut kesepakatan itu, para militan di Douma akan memutuskan apakah mereka akan pergi ke Idlib, Dara’a, atau tinggal di Ghouta Timur untuk menyelesaikan kasus mereka dengan negara dan menerima amnesti.

Makanan pokok dan bantuan akan masuk ke Douma dan unit polisi setempat akan dibentuk oleh para pemimpin sipil di distrik tersebut, sesuai kesepakatan.

Lembaga pemerintah juga akan mulai bekerja di dalam Douma setelah “periode singkat”. Layanan dasar air, listrik, dan sistem pembuangan limbah akan menjadi prioritas.

Kepemilikan senjata individu akan diatur dalam hukum yang diatur oleh Negara.

Laporan itu menambahkan bahwa Rusia telah memediasi persyaratan antara kedua belah pihak. [ARN]

About ArrahmahNews (16638 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: