News Ticker

Reporter AS di Douma: Tidak Ada yang Mendengar atau Melihat ‘Serangan Kimia’

Selasa, 17 April 2018

ARRAHMAHNEWS.COM, DOUMA – Seorang wartawan Amerika yang memperoleh akses ke kota Douma, wilayah yang diklaim oleh AS, Prancis, dan Inggris menjadi target serangan senjata kimia terhadap warga sipil, mengatakan “tidak ada bukti” tentang serangan senjata kimia.

“Kami dibawa dengan pengawalan pemerintah dan menunjukkan daerah di mana serangan kimia diduga terjadi. Kami dapat berbicara dengan penduduk di daerah itu. Kami bahkan dapat mengunjungi rumah sakit tempat White Helmets memvideokan orang-orang yang disembuhkan,” reporter Pearson Sharp dari OAN melaporkan dari tanah di Suriah pada hari Senin (16/04/2018).

“Ketika saya pergi ke kota Douma, kami dibawa ke salah satu lingkungan yang dekat dengan tempat serangan terjadi. Saya berbicara dengan sejumlah warga, mungkin sekitar 10 warga di lingkungan itu, ada sekitar satu setengah blok dari tempat serangan itu terjadi … Um, tidak satu pun dari orang-orang yang pernah saya ajak bicara di lingkungan itu mengatakan bahwa mereka telah melihat sesuatu atau mendengar sesuatu tentang serangan kimia pada hari itu [Sabtu, 7 April],” Kata Sharp.

Reporter itu mengatakan dia kemudian berbicara dengan 30 hingga 40 penduduk lain di kota itu. “Saya mendatangi orang-orang secara acak. Saya tahu ada banyak kekhawatiran bahwa warga yang diwawancarai adalah pilihan. Kami secara acak pergi ke orang yang berbeda – untuk menghindari hal tersebut – hingga kami berhasil mewawancarai 30 samapai 40 orang. Hasilnya, tidak seorang pun di kota itu yang mengatakan mereka mendengar sesuatu tentang serangan,” kata Sharp.

“Ketika saya bertanya kepada mereka tentang serangan kimia itu, mereka mengatakan kepada saya, itu dipentaskan oleh para pemberontak yang menduduki kota pada waktu itu. Mereka mengatakan itu adalah bohong atau tipuan. Ketika saya bertanya mengapa, mereka mengatakan kepada saya, karena para pemberontak putus asa dan membutuhkan sebuah taktik untuk menghambat kemajuan tentara Suriah sehingga mereka bisa melarikan diri,” lanjutnya.

“Warga mengatakan kepada saya bahwa para teroris melancarkan ini untuk mendapatkan dukungan dari kekuatan Barat untuk menyerang Tentara Suriah, sehingga mereka bisa melarikan diri.”

Menyusul dugaan insiden di Douma, Trump, Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengijinkan operasi militer untuk menembakkan rudal ke berbagai target di Suriah. Damaskus dan Moskow mempertahankan bahwa tidak ada serangan kimia oleh pasukan pemerintah di Douma. [ARN]

About ArrahmahNews (14236 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: