NewsTicker

Kisah dari Yaman: Saya Ingin Perang Selesai dan Kembali Pulang

Selasa, 10 April 2018

HUDAYDAH, ARRAHMAHNEWS.COM – Bagaimana hari-hari berlalu di desa Al Moza’a, di pantai Laut Merah Yaman, sebelum perang? Kadijah, seorang wanita 42 tahun mengingatnya.

“Saya terbiasa bangun setiap pagi saat mendengar kokok ayam jantan. Saya melihat para nelayan memancing di laut. Perempuan-perempuan memerah sapi, melakukan pekerjaan rumah atau menjual sayuran dan roti buatan sendiri di pasar yang ramai di desa. Anda bisa mendengar tawa dan sukacita anak-anak berkeliaran, bermain sepak bola. Mereka punya impian menjadi dokter atau guru.

Namun hari-hari yang tampaknya biasa tetapi bahagia di Al Moza’a itu telah berakhir. Bukan hanya untuk saya, tapi untuk semua penduduk desa, ”kata Kadijah.

“Ketika perang dimulai, saya melarikan diri dari desa kami dengan dua saudara perempuan saya dan saudara laki-laki saya, meninggalkan rumah, kambing, pertanian dan semuanya di belakang. Ketika kami meninggalkan desa kami dan saya melihat keluar jendela mobil, hati saya hancur berkeping-keping dan saya menangis dalam diam. Desa bahagia saya tidak lagi bahagia. Desa itu telah hancur!” tambah Kadijah.

Sebagian besar penduduk desa Kadijah meninggalkan semuanya dan melarikan diri. Mereka takut akan serangan udara dan rudal (Arab Saudi) yang terus menghujani desa. Kadijah dan keluarganya cukup beruntung dan dapat melarikan diri dari desa dengan tetangga mereka, yang memiliki mobil. Yang lainnya melarikan diri ke kota Al Mokha di mana mereka memiliki anggota keluarga atau mencari tempat yang lebih aman untuk tinggal. Beberapa berjalan selama 10-12 jam untuk mencari tempat aman. Yang lain tidak berhasil. Mereka meninggal akibat pemboman, ledakan, tembakan atau ranjau.

“Ketika kami tiba di kota, kami pergi ke rumah bibi saya, tetapi dia tidak ada di sana. Kami tidak punya tempat tinggal. Kami menjual anting-anting ibu kami yang ia berikan kepada kami sebelum ia meninggal. Kami mendapat sejumlah uang yang cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan, ”kata Kadijah.

“Setiap kali saya ingat desa saya dan bagaimana hidup kami dulu, hati saya sakit. Satu-satunya harapan saya untuk masa depan adalah agar perang selesai dan kami bisa kembali ke rumah,” ujarnya. (ARN/Yemenextra)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: