News Ticker

Denny Siregar: SP3 Kasus HRS Jurus Jitu Alumni 212

Denny Siregar Cuitan Denny Siregar

JAKARTA – Cuitan pegiat medsos Denny Siregar dalam akun twitternya “Kasus SP3 HRS murni masalah hukum, kurangnya bukti polisi. Tidak ada intervensi @jokowi tapi dipolitisasi oleh 212. Kalau bukti hukum kurang tapi dipaksakan ke pengadilan, malah digoreng bahwa Jokowi campur tangan. Jadi saya tetap konsisten, akan mundur jika Jokowi INTERVENSI”.

Baca: Denny Siregar: Kawal Jokowi Berarti Lawan Agenda Kelompok Radikal

Buat saya kasus “Penghentian kasus HRS oleh Polda Jabar” ini adalah strategi jitu dari pihak oposisi. Mari kita perhatikan bagaimana cara mereka bermain catur.

Pihak oposisi pemerintah sudah tahu bahwa kasus “penghinaan Pancasila ala Soekarno” oleh HRS, sudah dihentikan sejak Februari. Alasan polisi, tidak cukup bukti untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

Pihak oposisi lalu memendam masalah SP3 dan membangun strategi baru, yaitu mengirimkan kelompok 212 untuk bertemu Jokowi. Jokowi yang ingin semua “aman dan damai” lalu menyetujui pertemuan itu karena ia adalah Presiden bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya bagi pendukungnya saja.

Lalu, setelah bertemu Jokowi, mulailah kelompok 212 membangun framing bahwa Jokowi bersedia mendengarkan mereka untuk menghentikan kasus HRS dan kriminalisasi ulama.

Baca: Denny Siregar: Jokowi Titisan Soekarno

Seperti langkah kuda troya.

Dan kemudian, pada waktu yang tepat, booomm… mereka keluarkan berita bahwa Polda Jabar sudah menghentikan kasus HRS. Lalu pihak 212 mulai konferensi pers mengucapkan, “Terimakasih Jokowi sudah menghentikan kasus HRS”. Dengan begitu, Jokowi akan dituding pendukungnya telah intervensi.

Sebuah langkah dengan pengaturan waktu yang sempurna yang saya harus akui sangat cerdik. Dan ini tidak mungkin terpikirkan oleh kelompok 212. Pasti ada “ahli strategi” dari mantan militer disana.

Baca: Satire Pedas Denny Siregar kepada Amien Rais ‘Jokowi Tukang Ngibul’

Siapa sasaran mereka?

Sasaran mereka adalah pendukung Ahok yang tidak terima Ahok masuk penjara. Mereka ini menyalahkan Jokowi atas kasus itu karena dianggap tidak melindungi Ahok.

Dan benar saja, sesudah berita kasus HRS dihentikan, mulailah mereka menyalahkan Jokowi atas semua masalah. Salawi, semua salah Jokowi. Mereka teriak, “Golput..Golput..” untuk memecah barisan pendukung Jokowi yang mudah panik, reaksional dan emosional. Strategi oposisi bisa dibilang berhasil. Rengganglah barisan pendukung Jokowi dengan menampakkan kekecewaannya. “Jokowi lemah terhadap hukum..” kata mereka.

Padahal Jokowi sejak awal bilang bahwa dia tidak intervensi terhadap hukum. Dalam artian, semua keputusan baik dan buruk diserahkan pada kepolisian. Tentu dia berharap polisi bekerja secara profesional.

Baca: Denny Siregar: Basuki Sang Jenderal Perang Jokowi

Memang kelemahan Jokowi ada di sebagian pendukungnya. Sejak lama pihak oposisi mengamati hal ini.

Ingat ketika Jokowi harus mengambil jalan memutar demi menyelesaikan kasus Polri vs KPK? Mereka-mereka juga yang berpandangan bahwa Jokowi itu lemah.

Sampai saya harus membuat tulisan tentang Jokowi bahwa “Dia orang Solo..”. Menggambarkan tentang bagaimana Jokowi menyelesaikan kasus per kasus dengan gaya yang tidak main langsung hantam, halus, dan membunuh pelan-pelan.

Berbeda sekali dengan barisan pendukung oposisi. Mereka solid dan militan. Mereka tidak penting bahwa Imam Besar mereka terbuka aibnya, mereka tetap berada dalam satu barisan. Buat pendukung oposisi, benar dan salah itu adalah apa kata Imam mereka. Tidak perlu membantah.

Baca: Denny Siregar: Perang Ciamik Jokowi

Permainan catur ini sangat mengasikkan dan memang bukan buat orang yang jantungnya lemah, mudah kagetan dan emosian. Bermain catur harus kepala dingin, kadang tarik mundur sejenak dan kemudian kembali mengatur bidak. Tidak bisa selalu Jokowi yang menang, kadang ia juga dalam posisi terancam.

Lucu memang untuk mereka pendukung Jokowi yang teriak-teriak, “Golput saja…”. Apakah dengan Golput mereka akan memenangkan pertandingan? Bukankah mereka akan kalah total?

Itu sama dengan kasus pendukung Ahok, yang akhirnya Golput karena “takut Jakarta akan seperti 1998 kalau Ahok menang”. Mereka sudah kalah sejak dalam pikiran. Jadi kemenangan lawan bukan karena lawan terlalu lihai, tapi karena pendukung yang tidak tahan tekanan.

Mereka pikir politik itu seperti di ring tinju yang saling baku hantam. Politik itu adalah seni kemungkinan. Semua strategi yang paling cantik akan keluar mendekati hari-hari pemilihan.

Disinilah akan diuji siapa pendukung sejati dan mana pendukung baperan. Siapa sahabat dan siapa teman yang lari terkincit ketika dicolek dikit.

Karena itu, sambil seruput kopi, saya sarankan atur kembali barisan. Jangan menari diatas bunyi genderang lawan. Mainkan genderang sendiri yang membuat lawan menari. Politik itu adalah seni memainkan persepsi. Yang setuju, silahkan angkat kopinya. Sambil menunggu yang dari Saudi pulang untuk menjelaskan kasus chat seksnya. (ARN)

Iklan
  • Andi Arief 'Kuwalat' Mahfud MD
  • Capres-Cawapres 2019
  • Mahfud MD, Acara FGD
  • Gubernur Jatim dan Kiai NU
  • Saiful Huda EMS
  • Amien Rais, Politikus
  • Bendera HTI dan ISIS

1 Comment on Denny Siregar: SP3 Kasus HRS Jurus Jitu Alumni 212

  1. Toast bang Setuju aku

1 Trackback / Pingback

  1. Denny Siregar: Alumni 212 dan Poros Tiga Gunakan SP3 HRS untuk Tikam Jokowi – ArrahmahNews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: