News Ticker

Denny Siregar: Alumni 212 dan Poros Tiga Gunakan SP3 HRS untuk Tikam Jokowi

Politik Politik

JAKARTA – SP3 kasus HRS digunakan oleh alumni 212 dan poros tiga untuk menikam Jokowi, ulasan menarik yang ditulis oleh pegiat media sosial Denny Siregar, siapakah poros tiga itu? berikut ulasan lengkapnya:

Dari banyak strategi oposisi, strategi kasus SP3 HRS inilah yang paling saya kagumi. Halus, terkoordinasi dengan baik dan sangat cantik. Saya harus angkat kopi untuk ini.

Baca: Denny Siregar: SP3 Kasus HRS Jurus Jitu Alumni 212

SP3 HRS yang keluar sejak Februari dan tidak dipublikasikan polisi karena bisa mengundang banyak keributan, oleh mereka dikeluarkan pada waktu yang tepat.

Mereka susun dulu bangunan persepsi bahwa Jokowi “berbaik2” dengan 212, dan -taraaaa- keluarlah pernyataan, “Terimakasih Jokowi, sudah mau mengikuti kehendak ulama”. Barisan pendukung Jokowipun kocar kacir saling mengumpat sesamanya.

Dan ini bukan gaya Prabowo, sama sekali. Gaya Prabowo adalah menyerang, main hantam, cenderung kasar dan tidak elegan. Sedangkan gaya SP3 kemarin hampir mirip gaya Jokowi, main halus tapi menikam.

“Siapa kira-kira, bang?” Tanya seorang teman.

Seperti sudah kita cerita kemarin-kemarin, bahwa di Gerindra sekarang ada dua kubu, yaitu kubu Fadli Zon dan kubu Desmond. Kubu Fadli Zon tetap ingin Prabowo jadi Capres, sedangkan Desmon menawarkan Gatot Nurmantyo. Nah, Prabowo masih tetap mengikuti saran FZ untuk tetap nyapres. Makanya ia deklarasi dimana-mana dan kader Gerindra solid untuk mendukungnya. Masalahnya, apa artinya Gerindra tanpa koalisi?.

Baca: Denny Siregar: Seni Bertarung Politik Indah Ala Jokowi

PKS sendiri sudah agak ogah dengan Prabowo. Karena itulah mereka mempertahankan tagar #gantiPresiden sebagai model untuk mencuri perhatian. Meski PKS bilang masih mendukung Prabowo, sesungguhnya mereka juga sedang mendekati partai besar lain untuk berkoalisi.

Partai itu bernama Demokrat. Demokrat ingin kembali ke medan pertarungan melihat besarnya kemungkinan untuk kembali berkuasa. Dan untuk itu, PKS dan Demokrat mencoba menggandeng PAN, supaya bisa mencalonkan. Inilah yang mereka sebut POROS KETIGA.

Dengan koalisi ketiga partai itu -mungkin ditambah PKB kalau cak Imin tidak berhasil menarik minat Jokowi- maka Gerindra tidak punya pilihan lain. Gerindra pada akhirnya akan menyerah dan merapat. Prabowo harus legowo tidak mendapat apa yang ia idamkan selama ini. Ia harus menyerahkan jabatan itu pada satu orang.

Dia Gatot Nurmantyo. GN digadang untuk bisa melawan Jokowi, sedangkan AHY akan disiapkan Demokrat sebagai wakilnya untuk persiapan di 2024 nanti.

Baca: Surat Terbuka Denny Siregar Menohok SBY

Karena itulah oposisi membiarkan serangan-serangan bertubi-tubi ke Prabowo, supaya perhatian teralihkan. Oposisi fokus mempersiapkan GN sebagai calon alternatif untuk mewadahi pemilih yang tidak suka pada Prabowo, apalagi Jokowi.

Selain itu ada juga pemilih dari pendukung Jokowi yang patah arang karena “Jokowi tidak tegas dalam hukum” Selain itu ada massa mengambang yang belum memilih yang diperkirakan angkanya sekitar 30 persenan.

Kasus SP3 HRS ini memang mirip tangan dingin sang Mantan. Mantan yang pernah belajar di beberapa sekolah militer Amerika, memang ahli dalam strategi begini. Itulah kenapa ia bisa bertahan dalam dua periode, karena ia ahli memainkan permainan persepsi.

Jika begitu, lawan berat Jokowi akan muncul. Bukan GN, karena ia hanya simbol saja. Tetapi SBY yang memang handal dalam strategi perang, mengacak-acak kandang lawan tanpa kelihatan.

Pertama yang dilakukan adalah hancurkan karakter Jokowi. Bangun propaganda bahwa ia lemah menghadapi kelompok fundamental. Pakai 212 sebagai pasukan garis depan dan siapkan pengganti yang berbaju “militer dan Islami”. Masyarakat butuh pengganti bukan yang gagal nyalon beberapa kali.

Baca: Denny Siregar: Seni Bertarung Politik Indah Ala Jokowi

GN akan dimunculkan pada waktu yang tepat. Sekarang ini isu akan menghajar bahwa “negeri ini butuh tangan kuat dan kekuatan itu datang dari mantan militer”.

Dan ini akan menambah ketegangan- ketegangan baru seperti pertandingan catur antara Bobby Fischer dan Boris Spassky di tahun 1972. Sama-sama kuat bertahan dan sama-sama menyerang. Ketat dan menegangkan.

Saran saya untuk tim sukses Jokowi, mainkan narasi-narasi baru supaya isu SP3 HRS tidak terjaga oleh mereka. Jokowi yang selama ini bangga dengan sistem pertahanan, sudah seharusnya menggunakan sistem menyerang. Serangan ini untuk meredam isu SP3 yang akan dibesarkan.

Baca: Denny Siregar: Kawal Jokowi Berarti Lawan Agenda Kelompok Radikal

Sedangkan untuk pendukung Jokowi, jangan baperan. Politik itu bukan hitam putih. Politik adalah permainan seni kemungkinan. Kadang bertahan kadang diserang. Kadang kalah dan kadang menang.

Emosi kalian akan diaduk-aduk antara cinta dan benci. Sebagaimana halnya papan catur, kemenangan tidak dilihat pada awal permainan tetapi akhir pertandingan. (ARN)

Sumber: www.DennySiregar.com

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: