News Ticker

Fenomena Hijrah di Kalangan Artis

JAKARTA – Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand sekaligus dosen Monash University Prof Nadirsyah Hosen, atau yang akrab dipanggir Gus Nadir, melalui akun twitternya @na_dirs (27/05/2018), membeberkan fenomena “hijrah” di kalangan artis Indonesia yang kini marak terjadi. Berikut ini sepuluh poin catatan Gus Nadir:

1. Kalau hijrah itu dianggap pindah menuju sesuatu yang lebih baik, maka ujung dari hijrah itu apa? Dulu Nabi hijrah ke Madinah untuk membentuk masyarakat madani berlandaskan nilai etis. Sekarang hijrah secara individual tujuan akhirnya kemana? Harus menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

2. Apakah orang bercadar akhlaknya akan lebih baik dari orang yang berjilbab? Belum tentu. Sebaliknya, belum tentu pula yang tidak bercadar akhlaknya lebih mulia dari yang bercadar. Kita hormati saja pilihan masing-masing selama pakaian yang kita pakai itu tidak membuat kita merasa lebih mulia dari yang lain.

3. Ber-Islam itu sebuah proses. Lintasan hidup ini panjang dan babak finalnya nanti di akherat, bukan di dunia. Ada yang alim dan saleh/ah, tapi siapa yang bisa menjamin amalannya pasti diterima Allah dan kelak dia akan wafat dalam keadaan husnul khatimah?

4. Begitupula sebaliknya dengan para pendosa. Apakah selamanya mereka akan melakukan perbuatan dosa terus? Boleh jadi ada momen dia bertobat dan Allah siapa tahu berkenan mengampuninya. Siapa kita mau menghakimi nasib mereka kelak di akherat?

5. Maka hijrah pun jangan dimaknai sebagai hasil akhir. Ketika Rasul berhijrah pun ternyata sekitar 10 tahun, beliau dan para sahabatnya menghadapi tantangan dan ujian yang luar biasa. Hijrah itu satu hal. Tapi istiqamah dalam berhijrah itu juga tidak mudah.

6. Tantangan mereka yang selama ini melakukan hijrah adalah melakukan lompatan dari titik ekstrem ke titik ekstrem berikutnya. Saya menyarankan untuk pelan-pelan dan bertahap seraya menuntut ilmu. Islam itu sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Gak bisa serba instant.

7. Jangan sampai hijrah hanya jadi trend populer saja. Misalnya, para artis yang hijrah itu bagus, tapi jangan sampai itu hanya jadi “panggung” mereka berikutnya. Semula dari panggung sinetron dan musik, sekarang jadi panggung dakwah.

8. Makanya Rasul pun mengingatkan dalam hadits terkenal saat hijrah, yaitu setiap amal tergantung niatnya. Anda mau hijrah niatnya apa? Apa nyari panggung dakwah yang lagi trend karena gak laku lagi di panggung yang lama? Sudah sampai mana kapasitas ilmu & pribadi sampai berani dakwah?

9. Luruskan niat saat mau hijrah. Teruslah belajar. Perbaiki diri kita. Ujungnya adalah akhlak yang mulia, bukan sekedar berubah tampilan, atau asyik pindah ke panggung dakwah yang ujungnya nyari duit juga. Saya tidak menuduh, hanya sekedar memberi ‘warning’.

10. Kesimpulannya: hijrah sesuatu yang baik dan bagian dalam proses kita ber-Islam. Tapi harus dilakukan dengan niat yang bersih, tahap demi tahap seraya menuntut ilmu biar tidak kagetan, serta tidak merasa lebih baik dari yang lain, dan ujungnya itu akhlak mulia, bukan sekedar berubah tampilan. [ARN]

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: