Iklan
News Ticker

Cerita Unik Dibalik Juara Dunia Pelari 100 Meter, Muhammad Zohri

JAKARTA – Ada cerita dari keluarga di balik kemenangan Lalu Muhammad Zohri di cabang lari 100 meter putra di Kejuaraan Dunia Atletik U-20. Di kampungnya, Zohri dikenal punya hobi lari tanpa alas kaki.

Rasa bangga dan haru tidak bisa disembunyikan keluarga Lalu Muhammad Zohri di Desa Karang Pansor, Pamenang Barat, Nusa Tenggara Barat. Mereka mengikuti kabar tentang Zohri dari rumah sederhana di desa itu.

“Suka lari, suka main bola. Dia sering ke bangsal, keliling-keliling di kampung,” kata Baiq Fazila soal sosok Zohri saat diwawancara CNN Indonesia TV, Kamis (12/7/2018).

Lalu Muhammad Zohri adalah anak yatim-piatu. Karena tak mampu, Zohri dulu kerap berlari tanpa alas kaki.

“Nggak pernah dia pakai sepatu. Nggak punya,” ucap Baiq Fazila.

Sebelumnya diberitakan, di kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia itu, Lalu Muhammad Zohri mencatatkan waktu 10,18 detik. Atlet berusia 18 tahun itu mengalahkan dua pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang sama-sama mencatatkan waktu 10,22 detik.

Pencapaian Zohri merupakan sejarah baru dalam dunia atletik Indonesia. Sebelumnya, prestasi terbaik atlet Indonesia di nomor lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 adalah finis kedelapan di babak penyisihan pada 1986.

Gubuk Reot Zohri

Kondisi rumah atlet asal Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang, Kabupaten Lombok Utara itu, sangat menyedihkan. Seluruh bangunan rumahnya berupa gubuk bambu yang dilapisi koran bekas.

“Sebagai bentuk apresiasi, Insya Allah akan kami wujudkan dalam bentuk kebijakan. Saya akan bicara dengan TAPD mungkin kaitan dengan rumahnya,” katanya di Tanjung, seperti dilansir Antara, Kamis (12/7). [ARN]

Iklan

1 Comment on Cerita Unik Dibalik Juara Dunia Pelari 100 Meter, Muhammad Zohri

  1. Apriadi ENeste // Jul 12, 2018 at 7:18 pm // Balas

    Miris…pahlawan olah raga ini layak mendapat perhatian kepala daerah nya, uang APBD jgn cuma jd ajang banca an

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: