News Ticker

Narasi Islam Konservatif yang Dipengaruhi oleh Wahabisme

JAKARTA – Hasil pengamatan saya dengan ahli narasi, psikolog dan sosiolog serta ahli strategi media sosial menyimpulkan bahwa narasi kelompok konservatif dipengaruhi oleh Wahabisme, yaitu:

1. Islam itu hanya satu, tidak ada Islam Nusantara, Islam Moderat, Islam Indonesia, dan lain sebagainya.

2. Islam yang satu itu Islam yang murni. Islam yang bersandar pada Al-Quran dan Hadits. Itu Islam yang seperti kami praktekkan.

3. Kalau praktekmu bukan Islam yang murni, dan pakai bid’ah, yang ikut tradisi-tradisi lokal maka kamu pasti Islam liberal.

4. Kalau kamu Islam liberal, kamu pasti antek Amerika. Amerika dikuasai Yahudi dan Nasrani. Dan kamu pasti tahu ayatNya orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho sampai menghancurkan Islam.

5. Jadi kalau kamu tidak ikut Islam murni, kamu menghancurkan Islam.

6. Dan itu artinya, kamu harus ikut kami.

Apa artinya menjadi orang Islam Indonesia? Kita punya PR besar untuk membangun narasi kita, dengan model yang lebih komprehensif.

Ed Husain dalam bukunya The Islamist, mengisahkan 3 hal proses dalam JI dan Hizbut Tahrir Inggris, setelah dirangkul dan direkrut oleh kawan sekolahnya:

1. Dignity as a Moslem
Dibangun sedemkian rupa kebanggaan menjadi seorang muslim yang modern, maju, tapi spiritual dan semangat membangun kejayaan Islam.

2. A clear imagined society
Dicekoki gambaran masyarakat sempurna yang diperjuangkan kelompok Islamis ini, yaitu masyarakat yang kaffah, 100% sistem Islami sesuai syariah, dan non muslim tunduk kepadanya.

3. Specific Role to Play
Ed dan setiap kader diberi tugas mulia untuk memperjuangkan Islam di lingkungan masing-masing. Dulu Ed mati-matian berjuang agar di sekolahnya ada musholla.

Dari seorang kawan mantan HTI dan PKS, saya dapat cerita soal futuh. Ini doktrin agar setiap kader memperjuangkan kemajuan Islam di tempat dia berkiprah. Jadi kalau dia diterima di sebuah perusahaan, tugasnya adalah melakukan asesmen, membangun musholla bila belum ada, atau menguasasi musholla yang sudah ada atau perkumpulan orang muslim, lalu memperjuangkan kepentingan kelompok Islam di perusahaan itu.

Makanya jangan heran, bila penyebaran kelompok ini sangat masif. Lha setiap kadernya dididik untuk mengejar futuh dan melakukan penguasaan lapangan.

Nah kalau kita perhatikan, sejak kita all-out untuk NKRI beberapa tahun terakhir ini, kebanggaan jadi warga NU menguat drastis. Apalagi jadi Banser.

Itu karena prosesnya secara tidak sengaja menjawab poin 1: dignity (martabat dan jatidiri). Jadi kalau sekarang mau memperkuat narasi, kata para ahli strategi narasi ini kita harus perkuat:

1. Kebangaan kita jadi orang Islam Indonesia, dengan Islam Nusantaranya.

2. Gambaran kehidupan masyarakat Islam yang kita banggakan selama ini dan kita cita-citakan di bumi Nusantara ini: Islam Ramah, masa depan Islam dunia, karena damai dan lentur, serta kuat dalam nilai-nilai dasar Islam seperti keadilan, ukhuwah, maslahah.

3. Apa tugas seorang muslim Nusantara di lingkungan masing-masing. Ini bagian yang selama ini kita belum terlalu kuat. Makanya dakwahnya belum terasa ke mainstream.public.

Kelompok sebelah itu sebetulnya bukan nggak paham atau nggak sejalan dengan Islam Nusantara. Mereka fokus untuk melemahkan pengaruh NU. Itu saja. Makanya semua ruang akan dipakai untuk memasukkan NU ke Narasi Islam Murni itu. [ARN]

About ArrahmahNews (15440 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Narasi Islam Konservatif yang Dipengaruhi oleh Wahabisme - Islam Institute

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: