News Ticker

Jokower dan Ahoker Pantang Golput

JAKARTA – Pernahkah Anda berpikir “menjadi” Pak Jokowi? Meskipun hanya sejenak. Semenit saja. Saya membayangkan betapa mumetnya beliau. Memilih pasangan “cawapres” bukanlah hal mudah.

Seandainya Pak Jokowi itu raja, tentu akan dengan mudah menunjuk si A atau si B yang dianggap cocok untuk menjadi “putra mahkota” atau apalah namanya. Meskipun kadang-kadang juga “mbulet” karena banyak keluarga bangsawan yang berkepentingan. Tetapi itu masih jauh lebih mudah ketimbang menentukan cawapres.

Penentuan “cawapres” bukan hanya kemauan Pak Jokowi saja tapi juga parpol-parpol pendukung. Karena itu tidak adil jika kesalahan tumpah ruah ditujukan ke Jokowi. Seandainya Pak Jokowi mempunyai wewenang mutlak untuk menentukan cawapres, tentu dia akan memilih sosok-sosok hebat yang bisa mengimbangi kerja kerasnya seperti Ahok, Bu Susi, dlsb.

Tapi ini dunia politik, tidak sehitam putih yang kita bayangkan.

Seperti Jokower dan Ahoker, saya juga kecewa berat dengan pilihan Pak Jokowi dan parpol pendukung. Apalagi saya Jokower dan Ahoker sekaligus, lebih nyesek lagi rasanya. Bukan berarti saya tidak menghormati Kiai Ma’ruf. Tapi menurutku, beliau bukan “sosok ideal” untuk mendampingi Pak Jokowi. Menurutku, beliau lebih tepat kalau dijadikan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden misalnya.

BacaAda Cukong Besar Dibalik Uang 1 Triliun.

Saya juga menyesal karena Pak Jokowi dan parpol pendukung lebih mengedepankan “pragmatisme” ketimbang “idealisme”. Tetapi dunia politik memang berada di antara dunia idealisme dan dunia pragmatisme itu.

Meskipun menyesal, saya bisa memaklumi kenapa Pak Jokowi dan parpol pendukung akhirnya memilih Kiai Ma’ruf. Meski kecewa, saya tidak ngambek dan ngamuk-ngamuk, apalagi mengancam golput. Kayak anak kecil saja kalau kemauannya nggak dituruti terus mewek.

Golput boleh kalau stok kandidat presiden yang ada itu “mbelgedes” semua. Tapi disitu masih ada Pak Jokowi sebagai capresnya, maka saya tidak akan golput. Saya akan ikut milih di Saudi.

Perlu juga Anda ingat: baik Pak Jokowi maupun Kiai Ma’ruf sama-sama melakukan pengorbanan: mengalah demi mencegah keburukan lebih besar terjadi. Sebab dengan dijadikannya cawapres, bukan hanya Pak Jokowi saja yang dikritik, Kiai Ma’ruf juga dihujat dimana-mana dituduh sebagai “kiai tua yang kemaruk dengan kekuasaan”.

BacaPesan Menko Luhut ke Prabowo: Jangan Pakai Agama untuk Kampanye.

Sisi positif dari Kiai Ma’ruf adalah beliau sosok ulama yang sangat fleksibel dan akomodatif, selain pragmatis (silakan baca tulisanku tentang beliau di postingan sebelumnya). Ia bukan seorang “aktivis-idealis sejati” yang kukuh berprinsip: “pokoknya harus begini, tidak boleh begitu”. Buktinya, setelah Pak Jokowi merekrut Kiai Ma’ruf, beliau langsung menjadi “pionir nasionalisme” melawan kaum ideolog-Islamis.

Saya berharap kelak, banyak kaum nasionalis dan agamawan moderat yang banyak mengelilingi beliau untuk memasok informasi akurat sehingga keputusan-keputusan yang beliau ambil bisa lebih akurat dan lebih bermanfaat untuk kepentingan masyarakat banyak.

Ingat: Pilpres, Pilgub atau apapun namanya kadang-kadang atau bahkan dalam banyak hal bukan untuk memilih sosok yang baik untuk menjadi pemimpin politik-pemerintahan tetapi untuk mencegah orang-orang jahat dan rakus berkuasa agar mereka tidak bisa seenaknya mengeruk kekayaan ekonomi-kultural sebuah negara.

Itulah sebabnya saya tetap akan memilih Pak Jokowi dan menghindari Golput karena tidak ingin Indonesia yang indah dan kaya ini kelak porak-poranda menjadi bancaan para drakula. [ARN]

About ArrahmahNews (15834 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Jokower dan Ahoker Pantang Golput - Islam Institute

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: