News Ticker

Pejabat Venezuela: Upaya Pembunuhan Maduro Bagian dari Rencana Kudeta AS

CARACAS – AS berada di belakang upaya pembunuhan menggunakan drone terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Diosdado Cabello, pembicara Majelis Konstituante yang berkuasa di Venezuela mengungkap hal ini pada hari Senin (10/09).

“Upaya pembunuhan presiden yang telah digagalkan itu dimainkan oleh Amerika Serikat. Apakah ada yang ragu?” seru Cabello di acara yang diselenggarakan oleh Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV) yang berkuasa.

AS “mengakui telah bertemu setidaknya tiga kali dengan para pemimpin kudeta militer untuk melakukan kudeta” tambah Cabello, mengaitkan pembunuhan gagal itu dengan laporan baru-baru ini yang mengungkapkan minat AS dalam menghasut kudeta terhadap presiden Venezuela.

Baca: Analis: AS Berusaha Gantikan Rezim di Turki dan Venezuela

Pernyataan Cabello ini disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Venezuela, Jorge Arreaza, mengecam apa yang ia tuduhkan sebagai kerja sama AS dengan pemberontak anti-pemerintah di negara itu.

“Dihadapan masyarakat internasional, kami mengutuk rencana intervensi dan dukungan militer melawan Venezuela oleh pemerintah Amerika Serikat,” demikian diumumkan menteri luar negeri Venezuela itu dalam sebuah tweet, menambahkan bahwa “Bahkan di media AS sendiri, bukti-bukti baru dan terang-terangan telah terungkap.”

Pernyataan menteri Venezuela itu dibuat mengacu pada laporan New York Times yang mengklaim bahwa para pejabat administrasi Trump telah membahas penggulingkan presiden Venezuela bersama para perwira militer Venezuela yang membangkang.

Baca: Rakyat Venezuela Demo Dukung Maduro Pasca Upaya Pembunuhan yang Gagal

Media New York Times melansir penjelasan soal ini dari sejumlah pejabat AS dan seorang bekas komandan militer Venezuela, yang ikut dalam pembicaraan itu.

Hubungan jalur bawah tanah AS dengan kelompok perancang kudeta Venezuela merupakan perjudian besar bagi Washington karena latar belakang sejarah intervensi rahasia AS di Amerika Latin.

Banyak pihak di kawasan ini masih merasakan penolakan yang mendalam terhadap AS karena mendukung berbagai upaya pemberontakan, kudeta dan siasat licik di negara-negara seperti Kuba, Nikaragua, dan Chile. AS juga disebut sengaja menutup mata terhadap berbagai pelanggaran HAM oleh rezim militer yang berkuasa di kawasan Amerika Latin ini selama era Perang Dingin. (ARN)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: