News Ticker

Kekalahan Saudi-UEA di Yaman

YAMAN – Hari ini, banyak media global berbicara tentang kekalahan Saudi di Yaman. Masalah ini muncul ketika Arab Saudi terus membunuhi warga sipil tak berdosa di Yaman, terutama waita dan anak-anak.

Selama ini, pembunuhan warga sipil Yaman bukan hanya tidak dikutuk oleh Amerika Serikat dan sekutu Eropanya (terutama Inggris dan Perancis), tetapi masyarakat dunia justru disuguhi adegan mengerikan semacam ini yang berkelanjutan.

Tidak diragukan lagi, salah satu pecundang utama dari perang Yaman adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saat ini, kejahatan otoritas Arab dan Emirat di Yaman meningkat dari hari ke hari. Meskipun nyata-nyata telah terjadi pembunuhan brutal puluhan ribu orang Yaman oleh Riyadh, PBB masih menolak untuk mengutuk Saudi.

Baca: Nafas Terakhir Kerajaan Saudi

PBB bahkan menolak untuk menyebut kejahatan yang dilakukan Saudi sebagai kejahatan perang (yang pantas dihukum). Hal ini tentu saja mengundang kemarahan publik dunia, dan terutama orang-orang di kawasan.

Mereka marah dengan perang yang berkelanjutan ini, publik mengecam peran terbalik yang dimainkan oleh PBB dalam perang Yaman. Mereka juga marah dengan dukungan langsung dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB yaitu AS, Inggris dan Perancis terhadap perang yang dipaksakan Koalisi Saudi itu. Sejak dimulainya perang, puluhan ribu orang telah tewas.

Menurut data PBB di Yaman, sekitar 8,4 juta orang beresiko kelaparan, dan ada banyak korban kolera di negara itu. Tetapi Arab Saudi dan sekutunya melanjutkan pertumpahan darah mereka, dan membombardir orang-orang yang tak berdaya di negara itu. Pertanyaan utamanya, bagaimanapun, adalah bahwa meskipun mengetahui kondisi mengerikan dari orang-orang Yaman, mengapa PBB menghindar dari menghadapi kejahatan Arab Saudi?

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kedua negara yang menyerbu orang-orang Yaman itu kini berada dalam kondisi yang buruk! Riyadh dan Abu Dhabi gagal dalam perang Yaman dan di masa depan mereka juga akan mengalami masalah lebih besar.

Baca: Kekalahan Saudi di Yaman Serupa Kekalahan AS di Vietnam

Para analis dalam urusan internasional mengakui bahwa keluarga Al Saud dan rombongannya tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan perang Yaman, dan mereka harus secara resmi menyatakan kekalahan mereka dalam perang ini segera.

Surat kabar yang bermarkas di Inggris, The Times, telah menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Michael Burleigh yang menyebutkan bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman hanya memiliki beberapa hari tersisa dalam kekuasaan.

Burleigh memulai artikelnya dengan mengatakan: “Harapan bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman untuk menjadi seorang pembaharu yang dapat menyembuhkan kawasan menjadi tidak berarti.”

Dalam artikel tersebut, sang penulis menyoroti bagaimana media barat telah melaporkan secara luas tur dunia pangeran Maret lalu yang menggambarkan dirinya sebagai orang kuat Saudi yang bekerja untuk reformasi politik dan ekonomi. Namun, beberapa keraguan kemudian muncul sebagai akibat dari keputusan baru-baru ini yang diambil oleh ayahnya, Raja Salman.

Sementara itu, perang Putra Mahkota di Yaman dan sejumlah besar uang kerajaan yang dikurasnya, di samping perang dingin yang ia lancarkan melawan Qatar, menunjukkan tanda-tanda kegagalan yang jelas. Artikel itu menciptakan reaksi besar-besaran di dunia Arab. Beberapa orang Saudi bergegas membela Putra Mahkota mereka yang berusia 32 tahun tersebut.

Kegagalan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman adalah ketika Amerika Serikat mendukung perang untuk Riyadh dan Abu Dhabi. Di sisi lain, beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Jerman dan Perancis, bungkam dihadapan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang telah membunuhi orang-orang Yaman, dan bahkan mendukung Arab Saudi dengan mengirimkan senjata.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga, dengan kebungkamannya terhadap pembunuhan brutal rakyat Yaman, sekali lagi mengungkapkan kurangnya kredibilitasnya terhadap opini publik dunia. Hingga saat ini, sudah tiga tahun lebih orang-orang Yaman yang tak berdaya hidup di bawah agresi al Saud dan sekutu-sekutunya.

Tiga tahun agresi Saudi ini menyebabkan kekalahan besar Riyadh, kematian sejumlah besar pasukan mereka yang agresif dan, yang paling penting, adalah semakin kuatnya revolusi Yaman (yang dipimpin Houthi). Sanaa, Aden dan Ma’rib telah menjadi simbol kekalahan Al Saud di Yaman.

Arab Saudi bahkan kehilangan kekuatan untuk mengatur hubungan dengan sekutu-sekutunya di Yaman. Kontroversi yang telah terbentuk antara Riyadh dan Uni Emirat Arab di Yaman dapat dianalisis dalam nada yang sama. Konflik-konflik ini adalah hasil dari erosi perang Yaman dan kekalahan bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: