NewsTicker

Raja Salman Cari Cara Lengserkan Putranya dari Kursi Putra Mahkota

RIYADH – Karena tak henti-henti terlibat dalam proyek-proyek dan isu-isu kontroversial, Pangeran mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman saat ini telah mengundang banjir kecaman baik di tingkat nasional maupun internasional, dan juga telah kehilangan kepercayaan ayahnya, sang Raja.

Jaringan televisi Venezuela, Televisora del Sur, yang biasa disingkat Telesur, dalam laporan yang mengutip surat kabar Spanyol Publico pada Senin (10/09), menyebut bahwa posisi putra mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman sebagai putra mahkota sedang menghadapi bahaya karena ayahnya Raja Salman sedang mencari cara untuk menggantikannya.

Baca: Bin Salman Bagai Banteng di Toko China

Surat kabar itu melaporkan bahwa konflik antara raja dan putranya diakibatkan oleh perbedaan pendekatan mereka terhadap berbagai masalah nasional dan internasional. Salah satu perbedaan terbesar di antara mereka adalah perbedaan pendapat tentang masalah Israel-Palestina dimana putra mahkota telah memihak Israel, sementara raja secara terbuka membela Palestina.

Awal pekan ini, raja membatalkan penjualan lima persen saham Aramco, perusahaan minyak milik negara yang sangat penting bagi ekonomi Arab Saudi. Penjualan Aramco adalah ambisi utama dari rencana ‘Vision 2030’ yang dicanangkan Mohammad bin Salman.

Baca: IPO Aramco Batal, Saudi Cari Pinjaman Hingga 11 Triliun Dolar

Proyek ini digadang-gadang oleh putra Mahkota akan membebaskan ketergantungan ekonomi pada minyak dan menciptakan ekonomi kompetitif untuk menggantikannya, dimulai dengan menjual persentase Aramco ke bisnis swasta. Pembatalan penjualan oleh ayahnya adalah kemunduran besar untuk proyek itu dalam waktu dekat, di mana ia ditetapkan untuk menjadi raja.

Pangeran Saudi ini juga telah mengundang kritik dari dunia internasional juga. Keterlibatannya dalam perang Yaman yang sejauh ini telah menyebabkan pembunuhan terhadap puluhan ribu orang dimana sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, telah mengundang kritik tajam dari komunitas internasional.

Faktanya, baru minggu lalu, serangan udara Saudi di negara itu menewaskan sedikitnya 40 anak sekolah. Serangan ini memaksa PBB untuk mengatakan bahwa kerajaan kemungkinan telah melakukan kejahatan perang di negara paling miskin di Timur Tengah tersebut. Meski begitu, putra mahkota tampaknya masih bertekad untuk terus melanjutkan perang di Yaman.

Baca: Mantan Pejabat PBB: Saudi Lakukan Kejahatan Perang Memalukan di Yaman

Tambahan lagi, baru pada bulan Agustus, pangeran calon raja negara itu juga membuat kerajaan terlibat konfrontasi diplomatik dengan Kanada karena memenjarakan aktivis feminis di Arab Saudi. Kritik diplomat Kanada menyebabkan Bin Salman memutuskan hubungan dengan Kanada dan menyebabkan penarikan ribuan siswa Saudi yang terdaftar di universitas-universitas Kanada. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: