Mantan Korban Serukan ISIS Diadili atas Kejahatan Terhadap Minoritas Yazidi Irak

WASHINGTON – Nadia Murad, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian pekan lalu atas usahanya untuk mengakhiri kekerasan seksual sebagai senjata perang, menyerukan agar kelompok militan ISIS diadili atas kejahatan mereka terhadap minoritas Yazidi Irak.

Murad termasuk di antara beberapa wanita dan gadis Yazidi yang diculik dari rumah mereka oleh IS IS di provinsi Sinjar Irak pada tahun 2014. Ia mengatakan telah diperkosa oleh anggota kelompok itu sebelum melarikan diri.

“Bagi saya, keadilan tidak berarti membunuh semua anggota Daesh yang melakukan kejahatan terhadap kami,” kata Murad pada hari Senin (08/10) di National Press Club di Washington, DC, dalam konferensi pers pertamanya sejak ia menerima Hadiah Nobel pada hari Jumat.

“Keadilan berarti membawa anggota Daesh ke pengadilan dan melihat mereka, di depan pengadilan, mengakui kejahatan yang mereka lakukan terhadap Yazidi dan dihukum atas kejahatan itu,” katanya sebagaimana dikutip MEE.

Investigasi PBB terhadap kejahatan yang dilakukan oleh ISIS dibentuk pada tahun 2017 dan mulai mengumpulkan bukti-bukti pada bulan Agustus.

“Sejauh ini kami belum melihat keadilan terjadi untuk Yazidi, terutama korban perbudakan seksual,” kata Murad.

Ia juga meminta pemerintah di seluruh dunia untuk berbuat lebih banyak guna melawan genosida dan kekerasan seksual, dan bekerja sama untuk memastikan bahwa korban mendapatkan keadilan, “terutama dalam kasus pemerkosaan sistematis yang dilakukan oleh Daesh dan kelompok lain”.

“Kita harus bekerja sama untuk mengakhiri genosida, meminta pertanggungjawaban mereka yang melakukan kejahatan ini dan memberi keadilan bagi para korban,” katanya. (ARN)

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.