News Ticker

Media Barat, Antara Pembunuhan Khashoggi dan Genosida Yaman

RIYADH – Jamal Khashoggi memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober; dan ia kemudian menghilang sejak saat itu. Banyak yang menduga bahwa jurnalis Washington Post dan kritikus utama putra mahkota Saudi itu telah tewas dibunuh atas perintah sang putra Mahkota, Mohammed bin Salman.

Bukan rahasia lagi bahwa bagaimanapun Arab Saudi adalah pemerintahan diktator dan pembunuh yang brutal. Selama bertahun-tahun mereka telah membunuh warga sipil Yaman (termasuk anak-anak), dan mengeksekusi banyak aktivis hak asasi manusia. Tetapi bagi banyak orang di dalam media dan lingkaran politik Barat, kemungkinan pembunuhan Khashoggi tampaknya adalah batas toleransi mereka. Baru sekarang mereka berkata saatnya untuk menghadapi Arab Saudi.

Singkatnya, sementara kemungkinan memang pembunuhan Khashoggi telah terjadi dengan tragis, peristiwa ini jelas menunjukkan sikap tebang pilih media-media Barat tentang siapa saja yang layak atau tidak layak mereka anggap sebagai korban.

Batas toleransi Washington Post

Sebelumnya Washington Post terus menuangkan puja dan puji kepada Arab Saudi atas apa yang mereka sebut sebagai ‘reformasi’. Pada April 2017, jurnalis David Ignatius mengklaim bahwa bin Salman adalah “Konsep Baru Arab Saudi”, mengatakan bahwa “rencana reformasi tampak perlahan bergerak maju tapi pasti”.

Ironisnya, setahun kemudian berbagai laporan mengungkap bahwa kerajaan konservatif itu telah mengesahkan “48 eksekuti mati dalam empat bulan pertama di tahun 2018” dimana setengahnya adalah hukuman mati untuk tuduhan tanpa kekerasan.

Baca: Washington Post Cetak Kolom Kosong bentuk Solidaritas atas Hilangnya Khashoggi

Pemilik Washington Post dan orang terkaya di dunia Jeff Bezos, waktu itu, tampaknya terlalu sibuk bersekongkol dengan Muhamad bin Salman daripada memberi perhatian atas hal ini.

Pada Maret 2018, senator AS Bernie Sanders, Mike Lee, dan Chris Murphy mengusulkan undang-undang untuk mengakhiri dukungan AS atas perang menghancurkan Arab Saudi terhadap Yaman. Senat AS menolak RUU itu, kemudian penolakan ini secara tak langsung mendapat dukungan beberapa suratkabar seperti Washington Post, yang dewan editorialnya pada bulan yang sama menulis bahwa “pendekatan lebih baik akan mengkondisikan kelanjutan bantuan militer Amerika sejalan dengan langkah-langkah bantuan kemanusiaan”.

Kemudian pada 11 Oktober, Ben Cardin dari Washington Post menulis tentang kemungkinan pembunuhan Khashoggi dengan mengatakan bahwa “Amerika Serikat tidak bisa diam atau tidak boleh diam dalam menghadapi serangan berbahaya terhadap nilai-nilai universal”.

Singkatnya, sementara serangan terhadap nilai-nilai universal bukanlah hal yang baru bagi Arab Saudi, kebencian seluruh media Barat pada mereka tampaknya baru saat ini benar-benar terjadi.

Batas toleransi New York Times

Sejak tahun 1950-an, New York Times secara konsisten mendeskripsikan keluarga Saudi dengan berbagai ‘kemajuannya’.

Kolumnis Times, Thomas Friedman, sempat menghadapi tuduhan karena seringnya ia menggambarkan bin Salman dan rezim Saudi dengan hal-hal yang baik. Pada bulan November 2017, misalnya, Friedman menulis:

“Putra mahkota memiliki rencana besar untuk mengembalikan tingkat toleransi kepada masyarakatnya.”

Baca: Para Pejabat Turki Punya Bukti Pembunuhan Khashoggi di Konsulat Saudi

Tetapi kemarin, terkait Khashoggi, pada 8 Oktober 2018, Friedman menulis bahwa, jika Arab Saudi benar telah membunuh Jamal Khashoggi, “itu akan menjadi bencana bagi rezim Muhammad bin Salman”.

Sebelumnya, saat Arab Saudi menciptakan krisis kemanusiaan terburuk dunia di Yaman, Times menampilkan bin Salman sebagai seorang reformis. Tetapi kini setelah pembunuhan atas Khashoggi, banyak kontributor Times mengutarakan bahwa pembunuhan Khashoggi adalah langkah Bin Salman yang terlalu jauh.

Untuk pemerintah AS, apakah ada batas toleransi?

Pada tanggal 11 Oktober, Donald Trump menanggapi kemungkinan pembunuhan Khashoggi, mengatakan bahwa “kami tidak menyukainya bahkan sedikit pun”. Tapi apa yang ia katakan dan yang pemerintahan AS lakukan tidak lain tidak bukan hanyalah untuk bisa mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dari penjualan senjata.

“Mengenai apakah kita harus menghentikan perjanjian 110 miliar dolar dari Saudi yang dihabiskan di negara ini (untuk senjata), perlu diketahui bahwa mereka memiliki empat atau lima alternatif …, itu tidak akan bisa saya terima,” kata Trump saat mengemukakan penolakan atas tuntutan menghentikan penjuaan senjata ke Saudi.

Baca: Produsen Senjata AS Khawatir Kontrak dengan Saudi Dibatalkan Pasca Kasus Khashoggi

Salah satu pendiri Koalisi Demokrat, Scott Dworkin, mendesak Trump untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang presiden Amerika sejati.

“Hadapi Arab Saudi atas pembunuhan sadis kolumnis Washington Post Jamal Khashoggi,” katanya.

Tapi sebenarnya Trump sudah berbuat jauh lebih banyak dari presiden-presiden AS sebelumnya. Karena kebijakannya di Arab Saudi sedikit berbeda dengan kebijakan Barack Obama atau dari presiden-presiden AS lainnya, ia behasil menjadikan Arab Saudi sebagai sapi perah AS.

Seperti yang dikatakan wartawan Glenn Greenwald:

Kita harus, tentu saja, menyambut kenyataan bahwa banyak orang di AS sekarang mengkritik rezim Saudi. Tetapi bagi terlalu banyak warga sipil yang tidak bersalah di Yaman, semua itu terlalu sedikit, dan terlambat. (ARN/theCanary.co)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: