News Ticker

Selain Menderita Gizi Buruk, Kini Balita Yaman ini Jadi Piatu

Perang Yaman Krisis kelaparan di Yaman

HODEIDAH – Pada tanggal 2 November lalu, seorang jurnalis dan aktivis kemanusiaan Yaman, Ahmad Algohbary, memposting foto seorang bocah penderita malnutrisi akut berat (severe acute malnutrition/SAM) berusia dua tahun dari Hodeidah, Yaman, yang tidak bisa memperoleh pengobatan layak karena buruknya kondisi disana akibat perang.

Dengan donasi dari beberapa pihak, Algohbary kemudian melakukan perjalanan beresiko menuju wilayah Al-Deiahi di Hodeidah untuk menjemput bocah bernama Omar Ali tersebut dengan tujuan membawanya ke pusat gizi, untuk mendapatkan perawatan lebih baik.

Baca: BIADAB, Koalisi Saudi Serang Minibus di Hodeida Yaman, 6 Orang Tewas

Pada tanggal 13 November, setelah perjalanan menjemput Omar Ali dan mengantarkannya ke pusat gizi, Algohbary mendapat kabar bahwa gedung pusat gizi itu mengalami guncangan hebat akibat serangan udara yang dilancarkan koalisi secara terus menerus ke kota pelabuhan tersebut, menjadikan ibu Omar ketakutan hingga pingsan.

Setelah diperiksa, ibu Omar diketahui ternyata menderita gagal ginjal parah, dan kondisinya justru lebih kritis dari Omar. Kemarin, Sabtu (17/11), Ibu Omar meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya, dan Omar Ali, bocah dua tahun penderita malnutrisi akut berat itu, kini menjadi piatu.

Baca: Kepala WFP Sampaikan Kondisi Mengerikan Anak-anak Yaman akibat Perang

Berbicara kepada wartawan di New York pada hari Jumat, kepala badan pangan PBB, David Beasley, yang baru pulang dari perjalanannya ke Yaman menggambarkan kenyataan yang sangat mengerikan mengenai kondisi anak-anak disana.

Ia menceritakan pengalamannya ketika mencoba membuat tersenyum seorang pasien anak di rumah sakit yang sudah kewalahan menampung anak-anak kekurangan gizi di ibu kota Yaman, Sana’a.

“Rasanya seperti menggelitik hantu,” ungkapnya putus asa.

Pejabat PBB itu juga mengatakan kepada wartawan tentang kesaksian mengerikan yang diberikan oleh seorang dokter di rumah sakit yang mengatakan bahwa “setiap hari sekitar 50 anak dibawa kepada kami,” menambahkan, “Kami terpaksa mengembalikan 30 diantara mereka pulang dalam kondisi meninggal dunia. Kami hanya mampu menolong 20 (diantaranya).”

Baca: Ditengah Bencana Kelaparan, Saudi Bombardir 2 Truk Bermuatan Gandum di Yaman

Nasib seorang bayi laki-laki berumur delapan bulan adalah kisah lain yang diceritakan oleh kepala pangan PBB itu. Bayi tersebut hanya membebani sepertiga dari berat normalnya dan dibawa ke rumah sakit setelah ibunya harus berkendara ratusan kilometer dan melalui pos-pos pemeriksaan militer.

“Bocah kecil itu meninggal kemarin,” katanya.

Rezim Saudi dan sekutunya meluncurkan kampanye mematikan terhadap Yaman sejak Maret 2015 dalam upaya untuk menginstal kembali rezim mantan sekutu Riyadh dan menghancurkan gerakan Houthi Ansarullah.

Perang dukungan Barat, yang sejauh ini gagal mencapai tujuan yang dinyatakannya itu, telah, bagaimanapun, membatasi pengiriman bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan ke negara yang bergantung pada impor tersebut, menyebabkan wabah kolera massal dan kelaparan diseluruh negeri.

Salah satu target utama serangan Saudi adalah kota pelabuhan Hodeidah, pintu masuk 80 persen makanan dan pasokan bantuan negara dan juga baru-baru ini dikunjungi oleh Beasley. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: