News Ticker

WOW, Tentara Israel Serang Wartawan Lokal dan Internasional

Tentara Israel dan Jurnalis Bentrok Tentara Israel dan Jurnalis Bentrok

YERUSALEM – Beberapa wartawan Palestina dan wartawan internasional mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki, saat mereka melakukan protes atas kekerasan rezim Tel Aviv terhadap anggota pers di wilayah pendudukan.

Pasukan Israel menembakkan gas air mata untuk membubarkan para wartawan yang berkumpul di pos pemeriksaan Qalandiya di utara Yerusalem al-Quds pada Sabtu sore (17/11).

Baca: Blogger Kontroversial Israel Ditangkap dan Dideportasi dari Kuwait

Kepala Sindikasi Jurnalis Palestina Nasser Abu Bakar termasuk di antara mereka yang terluka. Abu Bakar menuntut agar mereka yang melakukan kekerasan terhadap wartawan harus bertanggung jawab.

Ia mengatakan bahwa wartawan internasional, termasuk anggota Federasi Jurnalis Internasional dan Federasi Jurnalis Arab juga ambil bagian dalam protes itu.

“Sejak awal tahun,” katanya, “tercatat ada sekitar 7.000 pelanggaran dan serangan terhadap warga Palestina oleh militer Israel.”

Baca: Pertama Kali di PBB, AS Terang-terangan Dukung Pendudukan Israel atas Golan

Jurnalis Palestina Ahmad Abu Hussein dan Yasser Murtaja menyerah pada luka tembak yang disebabkan Israel awal tahun ini, saat meliput protes anti-pendudukan di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza yang terkepung dan tanah yang diduduki.

Tel Aviv telah berusaha membungkam media atas tindakan kriminal para prajuritnya, dengan menteri kabinet Israel pada pertengahan Juni mengesahkan RUU yang akan mengkriminalisasi pembuatan film tentang kegiatan militer mereka.

Di bawah undang-undang yang diusulkan, mereka yang ditemukan memotret, merekam atau memfilmkan pasukan Israel “dengan maksud merusak semangat” tentara “akan bertanggung jawab dengan lima tahun penjara” dan mereka yang “berniat untuk membahayakan” keamanan Israel dapat dihukum 10 tahun di penjara.

Baca: Hamas Bongkar Jaringan Intelijen Israel dalam Serangan di Gaza

RUU itu, yang telah banyak dikecam sebagai serangan terhadap kebebasan media, membutuhkan beberapa suara parlemen untuk menjadi undang-undang.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Israel dalam beberapa kesempatan tertangkap kamera secara brutal membunuh warga Palestina, dengan video-video itu menjadi viral secara online dan memicu kecaman terhadap militer rezim. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: