News Ticker

Potret Sedih Anak-anak Yaman Sekarat

Anak Yaman kurang Gizi

YAMAN – Reuters melaporkan pekan lalu tentang salah satu dari puluhan ribu kematian yang dapat dicegah di Yaman:

Saleh al-Faqeh diperlihatkan tengah memegang lengan bayi perempuannya yang terkulai saat ia mengehmbuskan napas terakhirnya pada hari Kamis di bangsal malnutrisi di rumah sakit utama di ibukota Yaman, Sana’a.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hajar al-Faqeh yang berusia empat bulan mencapai rumah sakit al-Sabeen minggu lalu dari provinsi Saada, satu dari ribuan anak-anak Yaman yang menderita kekurangan gizi di negara yang telah didorong untuk jatuh ke jurang kelaparan oleh lebih dari tiga tahun perang yang dilancarkan koalisi Saudi.

Baca: Houthi: DK PBB Tak Mampu Akhiri Perang dan Kelaparan di Yaman

Tubuh Hajar terletak di bangsal yang sama di mana bayi laki-laki lain, Mohammed Hashem, meninggal karena kelaparan yang parah pada hari yang sama.

Seorang anak Yaman meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat dicegah setiap sepuluh menit. Para penentang perang sering menyebutkan statistik ini untuk menyampaikan betapa putus asanya situasi di negara itu.

Namun hal ini gagal menggambarkan betapa mengerikan kondisi tersebut bagi lebih dari sebelas juta anak dan jutaan orang dewasa di Yaman yang seolah hidup mereka bergantung pada seutas benang.

Sebelas juta anak-anak di Yaman ini mewakili 80% populasi di bawah 18 tahun, dan menurut UNICEF mereka “menghadapi ancaman kekurangan makanan, penyakit, pengungsian, dan hampir sama sekali  tidak ada akses mendapatkan kebutuhan dasar.”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ini adalah generasi yang telah dirusak oleh perang, wabah penyakit dan kelaparan. Kesehatan serta perkembangan sebagian besar anak-anak Yaman akan harus dikompromikan sangat lama setelah pertempuran berhenti. Sebesar dan semengejutkan jumlah orang yang kekurangan gizi dan kelaparan di Yaman, semua itu adalah ukuran yang tidak sebanding dengan bahaya yang telah dilakukan kepada seluruh rakyat Yaman selama tiga setengah tahun perang yang seharusnya tidak perlu ini.

Baca: Kelaparan Akibat Perang, Warga Hajjah, Yaman, Terpaksa Konsumsi Dedaunan

Setengah dari fasilitas perawatan kesehatan Yaman tidak lagi berfungsi karena telah rusak atau hancur atau karena tidak ada sumber daya lagi untuk menjalankannya. Jumlah penduduk sipil yang membutuhkan layanan kesehatan jauh lebih besar dari fasilitas yang tersisa.

Kepala Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa David Beasley, saat melihat kaki kecil mencuat keluar dari bawah selimut di sebuah rumah sakit di Yaman yang penuh hingga kewalahan menampung anak-anak kekurangan gizi, menceritakan pengalaman menyesakkannya saat mencoba membuat pasien kecil itu tersenyum,

“Rasanya seperti menggelitik hantu,” kata Beasley, direktur eksekutif Program Pangan Dunia, kepada wartawan di New York pada hari Jumat setelah kembali dari kunjungan tiga hari ke negara Arab yang dilanda perang dan miskin tersebut.

Baca: WFP: 12 Juta Warga Yaman Diambang Kelaparan Terburuk dalam 100 Tahun

Beasley menceritakan percakapannya dengan seorang dokter di rumah sakit di ibukota negara itu Sanaa, “Ia mengatakan ‘setiap hari sekitar 50 anak dibawa kepada kami. Kami harus mengirim 30 diantaranya pulang untuk mati. Kami hanya dapat mengakomodasi 20 anak ‘”

Yaman sering disebut “perang yang terlupakan,” tetapi kenyataannya jauh lebih buruk. Yaman bukannya  dilupakan oleh pemerintah asing. Sebaliknya, banyak pemerintah asing, termasuk pemerintah kita (AS), telah membantu koalisi Saudi dalam upaya untuk melenyapkannya. Mereka telah memberi cukup perhatian kepada Yaman dalam rangka membantu koalisi Saudi menghancurkan negara itu, tetapi tidak memberi perhatian cukup untuk mencegah bencana kemanusiaan yang bisa diprediksi dan sudah diprediksi sepenuhnya yang telah berlangsung di depan kita semua selama bertahun-tahun.

Setiap hari AS terus mendukung perang ini. Ini adalah hari lain dimana pemerintah kita secara sadar membantu membunuh orang-orang Yaman yang tidak bersalah, tidak peduli apakah mereka meninggal akibat serangan udara, kelaparan, atau penyakit. Setiap hari, lusinan orang seperti Hajar al-Faqeh yang malang seharusnya tidak perlu binasa dalam perang yang telah dibantu oleh pemerintah kita selama empat puluh empat bulan.

Senat bisa memilih pada S.J.Res. 54 akhir bulan ini. Jika resolusi ini memenangkan pemungutan suara, itu akan mengharuskan presiden untuk menghentikan semua dukungan AS untuk koalisi Saudi. Senat gagal dalam tugasnya delapan bulan lalu ketika mereka membunuh resolusi ini terakhir kali ia dimunculkan, dan sekarang para senator akan memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki kegagalan yang mengerikan itu. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: