Eko Kuntadhi: Amien Rais Mengkerdilkan Muhammadiyah

Amien Rais, Politikus
Amien Rais, Politikus

JAKARTA – Dalam sebuah kesempatan Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pernyataan, sebagai organisasi perserikatan Muhammadiyah membebaskan anggota untuk menentukan pilihan politik.

Statemen seperti ini sebetulnya biasa. Sejak dulu Muhammadiyah memang tidak berafiliasi dengan satu Parpol. Meski dalam sejarahnya pendirian PAN diinisiatori oleh Amien Rais, yang waktu itu sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, tetapi sebagai organisasi sikap Muhammadiyah clear. Mereka bukan underbow PAN.

Baca: Aktivis ’98 Sri Bintang P Sebut Amien Rais Pengkhianat

Peran politik Muhammadiyah dilaksanakan dalam konsep high politics bukan low politics. High politics mengindikasikan sebuah sikap politik kelas tinggi. Yang memperjuangkan keadilan, kemakmuran, persatuan Indonesia dan nilai-nilai luhur. Bukan politik praktis yang berbentuk dukung mendukung dan mobilisasi kadernya untuk kepentingan politik praktis.

Ada jutaan kader Muhammadiyah, dengan afiliasi politik beragam. Mereka tersebar di berbagai Parpol. Sebagian di Golkar, PKS, PAN, PPP, Nasdem, PSI, PDIP atau Gerindra.

Bahkan Bu Iriana dulu saat di Solo adalah salah satu aktivis Aisiyah, organisasi perempuan di bawah Muhammadiyah. Iriana juga pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Baca: Nasehat Super Pedas Denny Siregar kepada Amien Rais

Sebagai organisasi keagamaan Muhammadiyah berkepentingan mendorong kadernya untuk memperjuangkan sebuah sikap politik etik, politik yang memperjuangkan nilai-nilai. Itu yang dimaksud dengan high politics. Bukan politik yang berorientasi pada kekuasaan semata (low politics).

Statemen Haedar Nashir merupakan sikap yang wajar. Ia menjaga agar kontestasi politik tidak menghadirkan friksi di organisasinya. Ia menjaga independensi Muhammadiyah dari tarikan politik praktis. Sebab baginya tujuan Muhammadiyah jauh lebih besar dari sekadar politik kekuasaan. Jauh lebih besar dari kepentingan praktis.

Tapi, sepertinya Amien Rais merasa sebagai pemilik Muhammadiyah. Ia mengkritik pernyataan Haedar Nashir tersebut. Ami n gak ikhlas jika Muhammadiyah membebaskan pilihan politik praktis kepada kadernya. Bagi Amien, pilihan politik Muhammadiyah harus sesuai dengan kepentingan dirinya. Ia malah mau menjewer Haedar. Sebuah sikap mentang-mentang dan merendahkan organisasi besar tersebut.

Ok, Amien memang bekas Ketua Umum organisasi kemasyarakatan berbasis agama itu. Ketika ia duduk sebagai ketua umum Muhammadiyah, PAN didirikan. Amien kini juga punya pilihan politik mendukung Prabowo. Tapien tentu bukan Muhammadiyah. Muhammadiyah lebih besar dari seorang Amien Rais. Mendorong Muhammadiyah dukung mendukung Capres secara terbuka. Atau mengarahkan kadernya hanya untuk satu partai sama saja mengerdilkan organisasi besar itu.

Baca: Ketua Komisi A DPRD DIY ‘Semprot’ Amien Rais

Tapi begitulah Amien. Ia ingin semua organisasi berada di bawah kepentingannya. Bukan hanya soal pilihan politik. Bahkan untuk soal nonton film saja, Hanum Rais juga memanfaatkan kedudukan ayahnya sebagai bebas Ketum Muhammadiyah.

Masih segar ingatan kita ketika Hanum Rais berkirim surat kepada rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk mengerahkan mahasiswanya nonton film Hanum dan Rangga. Mahasiswa Muhammadiyah yang beragam itu diminta untuk menyaksikan film soal rumah tangga anaknya Amien Rais.

Atau bagaimana surat pengurus PAN yang mewajibkan kader partainya nonton film tersebut. Bahkan dukungannya pada Prabowo-Sandi itu juga dijadikan alasan untuk menarik penonton.

“Film Hanum dan Rangga itu sesuai dengan visi dan misi Prabowo-Sandi,” ujar Hanum Rais. Entahlah, apakah Hanum hendak ngeledek. Masa film menye-menye soal rumah tangga sesuai dengan visi misi Capres. Yang ada kan, malah bikin Prabowo tersinggung. “Jangan ngomong soal rumah tangga deh, Num.”

Muhammadiyah jauh lebih besar dari Amien Rais. Muhammadiyah juga lebih besar dari seorang dokter gigi yang gagal membedakan luka operasi dengan habis digebukin. Muhammadiyah lebih besar dari Prabowo-Sandi. Muhammadiyah juga lebih besar dari PAN. Sebagai ketua umum Muhammadiyah sikap Haedar Nashir sudah pas.

Baca: Ini Jawaban Telak Saiful Huda ke Amien Rais Soal Partai Allah dan Partai Setan

Tapi kepentingan politik Amien Rais ingin mengerdilkan kebesaran Muhammadiyah. Ia ingin agar organisasi perserikatan itu ada di bawah ketiaknya. Ia ingin memanfaatkan Muhammadiyah untuk kepentingannya juga kepentingan keluarganya.

Amien juga sepertinya gak mau lagi mendengar soal high politics. Dia gak peduli jika politik sesungguhnya adalah perjuangan etis. Lihat saja tingkahnya ketika ketika Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan ditangkap KPK. Dia datangi komisi anti korupsi itu sambil mengancam. “Lihat saja dunia berputar,” ancam Amien. “Lagipula korupsinya hanya Rp3 miliar. Masa ditangkap.”

Lho, mau korupsi berapa kek. Yang namanya korupsi ya, tetap korupsi. Jangan mentang-mentang anak buahnya Amien jadi pembela koruptor kalap.

Untung dulu Amien gak terpilih jadi Presiden. Bisa dibayangkan nasib Indonesia jika ia menjabat. Bagaimana juga sikap anak-anaknya.

“Iya mas, untung juga Jokowi tidak kayak Amien Rais. Kaesang kan jualan Pisang Goreng.,” ujar Abu Kumkum.

“Kenapa Kum?”

“Masa Presiden nanti bikin Inpres, rakyat Indonesia wajib sarapan pisang goreng. Kasian Bambang Kusnadi. Buburnya jadi gak laku…”. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Eko Kuntadhi

About Arrahmahnews 26691 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.