News Ticker

Muhammad Zazuli: Kenapa Jokowi dan Ahok Dibenci Kelompok Radikal?

Foto Jokowi dan Ahok Foto Jokowi dan Ahok

JAKARTA – Jokowi-Ahok adalah Dwitunggal yang telah dan akan merubah nasib bangsa ini serta akan membawa bangsa ini tinggal landas menuju kejayaan. Mereka adalah tonggak sejarah sebagaimana Dwitunggal Soekarno-Hatta dulu di era Proklamasi Kemerdekaan.

Jokowi-Ahok mengubah seluruh paradigma, stigma dan stereotipe tentang pemimpin dan pejabat yang arogan, jauh dari rakyat serta hobi merampok uang negara. Jokowi-Ahok tampil jujur, sederhana dan apa adanya dan bukan tinggal di menara gading sebagaimana para penguasa sebelumnya terutama di era Orde Baru.

Baca: Jokowi-Ahok Realita yang Membungkam Nalar

Jokowi tidak mau dikawal voojrider ataupun menggunakan fasilitas negara demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Jokowi tidak mau dihormati secara berlebihan dan ingin selalu tampil dekat dengan rakyat. Jokowi ingin mengabdi dan bekerja demi rakyat serta bersungguh-sungguh membangun negara dan bukannya merampok negara demi keluarga dan kroninya saja.

Ahok memiliki gaya yang berbeda dengan Jokowi. Dia tegas dan keras terhadap para aparatur yang malas bekerja demi rakyat dan hanya menggerogoti keuangan negara. Dia tidak mau kompromi dengan para maling hanya demi mengamankan jabatannya. Dia transparan dan tidak mau mengambil hak rakyat demi keuntungan pribadinya.

Jokowi-Ahok adalah “agen perubahan” yang telah secara nyata menunjukkan karakteristik yang 180 derajat berbeda dengan para pejabat dan penguasa sebelumnya. Jika bangsa ini memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk mengubah negeri ini maka bangsa ini akan melesat terbang dan menjadi bangsa besar yang sejajar dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia.

Baca: Tekad Jokowi Berantas Radikalisme di Indonesia

Tapi mengapa Jokowi-Ahok dibenci, dimaki, difitnah bahkan ingin dibunuh segala? Kita semua tahu bahwa ada dua kekuatan utama yang membenci dan ingin menjungkalkan kedua tokoh fenomenal dan sensasional ini. Yang pertama adalah kelompok korup yang berasal dari kekuatan lama yang ingin kembali berkuasa agar bisa menjarah dan merampok bangsa ini seenaknya sebagaimana dulu yang biasa mereka lakukan. Jokowi-Ahok telah mengganggu kenyamanan mereka dan menghabisi proyek-proyek gelap yang menjadi sumber pundi-pundi kekayaan mereka selama ini.

Kedua, adalah kelompok fanatik, radikal, ekstremis dan pro teroris yang ingin mengubah dasar negara dan mendirikan negara tirani agama. Mereka sama sekali tidak peduli dengan nasib dan masa depan negeri ini. Mereka hanya peduli dengan kepentingan kelompoknya sendiri agar bisa berkuasa dengan bersembunyi dan memanfaatkan “kedok agama”.

Sebaik apapun orang yang memimpin bangsa ini pasti akan berusaha mereka jungkalkan hanya demi tujuan mendirikan “Negara Tuhan”. Mereka juga siap bekerjasama dengan orang sejahat apapun asal bisa mendukung mereka untuk merealisasikan “cita-cita mulia” mereka tersebut. Mereka juga akan melakukan upaya apapun dan menghalalkan segala cara demi meraih tujuan besar mereka itu termasuk dengan cara firnah, hoax, kabar bohong, provokasi, isu SARA, adu domba dan memecah belah rakyat.

Baca: Denny Siregar: Kawal Jokowi Berarti Lawan Agenda Kelompok Radikal

Mereka membenci Jokowi karena Jokowi tidak beraliran Wahabi seperti mereka. Mereka membenci Jokowi karena Jokowi dekat dengan kalangan Islam kultural dan tradisional yang menurut mereka sesat dan tidak memiliki “ghirah perjuangan”. Mereka membenci Jokowi karena Jokowi dekat dengan kelompok nasionalis terutama PDIP yang mempunyai slogan “NKRI Harga Mati”, sebuah slogan yang akan senantiasa menjadi musuh abadi yang menghalangi “cita-cita luhur dan mulia” mereka.

Mereka membenci Ahok karena Ahok merepresentasikan simbol kafir, kristen, aseng dan minoritas yang mereka benci. Sebaik dan sejujur apapun Ahok mereka tidak peduli karena mereka telanjur percaya dengan “Mitos Permusuhan Abadi” yang telah mengoyak dunia selama berabad-abad sepanjang sejarah. Mereka membenci Ahok karena Ahok bertentangan dengan kebanggaan identitas mereka. Mereka membenci Ahok karena pasti Ahok juga akan menghalangi “agenda perang suci” mereka.

Baca: Presiden Jokowi: Islam Radikal Bukan Islam Indonesia

Sungguh amat terang benderang bahwa Jokowi-Ahok dibenci bukan karena kejahatan ataupun kesalahan mereka tapi karena Jokowi-Ahok tidak bisa mereka manfaatkan dan tidak bisa mereka ajak kerjasama untuk meraih tujuan-tujuan politik mereka yang sudah lama mereka idamkan sejak masa pemberontakan DI/TII. Jokowi-Ahok akan terus dimusuhi dan difitnah seolah mereka adalah penjahat negara karena bisa menghambat dan menghalangi cita-cita mereka. Kudeta merangkak untuk mengubah dasar negara akan terus mereka jalankan sampai cita-cita mereka ini tercapai.

Mereka akan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan mereka termasuk mendukung, membela dan menyembah seorang pelanggar HAM dan penculik aktifis yang pernah menghilangkan paksa beberapa orang dengan sebutan “Titisan Allah SWT”. Mereka akan mendukung seorang politikus yang tak paham Islam, berasal dari latar belakang non-muslim, non-pribumi dan memiliki ayah seorang pemberontak dengan sebutan sebagai “pemimpin umat”. Bahkan ustadz mereka akan berkata “Haram pilih Jokowi” atau “Jika ingin sorga maka mintalah pada XXX dan YYY (pasangan yang mereka dukung)”.

Saya cebong tapi saya bukan penyembah Jokowi karena sebenarnya prestasinya juga masih memble dan raportnya merah dalam hal penegakan hukum dan keadilan, jaminan serta kesetaraan hukum terutama bagi warga minoritas. Tapi saya masih cukup waras untuk tidak menjadikan seorang penculik dan pelanggar HAM untuk memimpin bangsa ini.

Saya juga masih cukup waras untuk tidak menjadikan kekuatan lama yang korup kembali berkuasa, merampok dan menjarah negeri ini. Saya juga masih cukup waras untuk tidak mendukung kelompok-kelompok pro teroris berkuasa dan menghancurkan warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang ada di negeri ini. Salwase -Salam Waras Saklawase-. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Muhammad Zazuli

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: