NewsTicker

Zarif: Iran Tak Sudi Berunding dengan Trump Soal Nuklir

Zarif, Menlu Iran Zarif, Menlu Iran

ROMA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Javad Zarif mengatakan bahwa  negosiasi dengan AS untuk menyelamatkan perjanjian nuklir 2015 tidak ada gunanya karena Presiden AS Donald Trump tidak dapat dipercaya.

Berbicara di Forum Dialog Mediterania edisi ke-4 (MED 2018) di ibukota Italia, Roma, pada Hari Kamis  (22/11), diplomat Iran itu menekankan bahwa Teheran tidak akan mengingkari kesepakatan apa pun yang telah mereka buat.

Baca: UE Lawan AS, Iran-Italia Bahas Sistem Dagang Non-Dolar

Trump menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) pada bulan Mei, dengan menyatakan bahwa perjanjian penting antara Iran dan kelompok negara P5 + 1 (AS, Inggris, Prancis, Cina, Rusia dan Jerman) itu adalah sebuah “bencana”.

Kepala negara Amerika berjanji pada saat itu bahwa ia akan menerapkan kembali sanksi yang dihapus berdasarkan kesepakatan itu dan memaksakan sanksi yang lebih keras sampai Republik Islam Iran setuju untuk merundingkan kembali kesepakatan yang akan semakin membatasi program nuklirnya, melarang mengembangkan rudal balistik tertentu dan menggulingkan pengaruh di kawasan.

Sementara itu Iran telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka tetap mematuhi  ketentuan perjanjian saat ini dan bekerja sama dengan para  penandatangan Eropa untuk menghadapi sanksi tersebut.

Baca: Jawaban Pedas Zarif atas Tuduhan Trump ke Iran

Zarif menekankan bahwa AS tidak dapat dipercaya untuk pembicaraan lebih lanjut tanpa jaminan yang pasti, sesuatu yang dikatakannya terlalu berlebihan untuk diharapkan dari pemerintahan Trump.

“Jika kami membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat, apa jaminan bahwa perjanjian akan berakhir setelah kesepakatan? Anda ingat Kanada?” katanya, mengacu pada sikap Trump dengan penolakannya di KTT G7 pada bulan Juni.

Baca: Zarif: Slogan ‘America First’ Trump jadi Bumerang untuk AS

“Bagaimana kita bisa yakin bahwa tanda tangan tetap ada di atas kertas?” Zarif menambahkan.

Masa depan kesepakatan itu menjadi lebih tidak jelas pada awal bulan ini, setelah berlakunya sanksi baru Amerika yang menargetkan ekspor minyak Iran. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: