Analis: Banyak Aktivis Alami Nasib Lebih Mengerikan dari Khashoggi

Meme Gambar Putra Mahkota Saudi berlumuran darah
Meme Gambar Putra Mahkota Saudi berlumuran darah

WASHINGTON – Arab Saudi telah menargetkan banyak aktivis hak asasi manusia dan pembangkang yang menentang Riyadh dengan melakukan penyiksaan dan pembunuhan, dengan beberapa orang mengalami siksaan yang lebih mengerikan daripada wartawan Saudi, Jamal Khashoggi. Seorang mantan diplomat Amerika di Arab Saudi mengungkap hal ini.

“Khashoggi bukan satu-satunya orang yang telah dibunuh, dihilangkan, dipenjara, atau diculik oleh Saudi,” kata Michael Springmann, kepala biro visa Amerika di Jeddah, Arab Saudi, dari 1987 hingga 1989.

Baca: Turki Akan Rilis Rekaman Pembunuhan Khashoggi, Kerajaan Saudi Terancam

“Orang lain, pangeran lain, aktivis lainnya telah mengalami nasib yang sama atau lebih buruk daripada Khashoggi,” kata Springmann dalam wawancara telepon dengan Press TV pada hari Senin (26/11).

Beberapa senator Republik AS kembali menolak pembelaan Presiden Donald Trump terhadap Arab Saudi setelah pembunuhan Khashoggi, dengan beberapa anggota parlemen dari partainya mengatakan bahwa Kongres harus mengambil tindakan tambahan.

Trump berjanji pekan lalu untuk tetap menjadi “mitra setia” Arab Saudi dengan mengatakan tidak jelas apakah Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman tahu tentang rencana untuk membunuh Khashoggi pada 2 Oktober di konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Baca: Aktivis Saudi Ditangkap Pasca Kritik Upaya Normalisasi Hubungan Riyadh-Tel Aviv

Senator Lindsey Graham, seorang sekutu Trump di Senat, mengumumkan pada hari Minggu (25/11) bahwa Kongres perlu mengambil tindakan terhadap bin Salman setelah CIA menyimpulkan dengan “kepercayaan diri tinggi” bahwa ia telah memerintahkan pekerjaan itu.

CIA yakin bin Salman memerintahkan pembunuhan Khashoggi, seorang warga AS sejak 2017 dan kolumnis The Washington Post yang mengkritik bin Salman, pemimpin de facto Arab Saudi

Namun, presiden AS telah meragukan penilaian CIA, mengatakan kepada wartawan bahwa badan intelijen itu belum membentuk kesimpulan yang pasti.

Baca: Lebih dari 2.500 Aktivis dan Ulama Anti-Rezim Saudi Ditahan

“Ada baiknya mereka (anggota parlemen AS) berbicara tentang menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi,” kata Springmann. “Tetapi ini juga senat yang sama yang pada awal bulan memilih resolusi untuk memblokir penjualan senjata sekitar 300 juta dolar ke Bahrain yang merupakan negara yang sangat represif.”

Analis itu menekankan bahwa anggota Kongres sering sangat “selektif” dalam tanggapan mereka terhadap pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim represif yang didukung oleh Washington.

Riyadh awalnya menolak mengakui pembunuhan Khashoggi, namun kemudian berubah-ubah dalam memberikan keterangan.

Dalam perbedaan pendapat besar dengan Trump, para senator utam di Partai Republik telah menjanjikan tanggapan yang lebih keras terhadap Arab Saudi mengingat pembunuhan dan perangnya di Yaman.

“Saya tidak setuju dengan penilaian presiden. Ini tidak konsisten dengan laporan intelijen yang saya lihat, yang mengimplikasikan putra mahkota,” ujar Senator Republik Mike Lee dari Utah pada hari Minggu dalam Meet the Press, NBC.

Ia mengutip pembunuhan Jamal Khashoggi sebagai alasan lain mengapa ia telah mendorong untuk mengakhiri dukungan AS untuk perang Arab Saudi di Yaman. (ARN)

About Arrahmahnews 26656 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.