Demo Petani dan Nelayan Gaza Tuntut Diakhirinya Pendudukan Israel

Demo Petani dan Nelayan di Gaza
Demo Petani dan Nelayan di Gaza

JALUR GAZA – Ratusan demonstran Palestina menggelar unjuk rasa di Jalur Gaza yang terkepung, menyerukan diakhirinya pengepungan Israel selama satu dekade di daerah kantong pantai tersebut.

Protes itu diselenggarakan oleh kelompok lokal petani Palestina dan nelayan di Gaza di luar gedung Dewan Legislatif Palestina pada hari Senin (03/12).

Baca: Hamas Bongkar Jaringan Intelijen Israel dalam Serangan di Gaza

Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang menuntut persatuan Palestina dan membawa spanduk serta baliho yang mengutuk pengepungan Israel atas Jalur Gaza sejak Juni 2007 dan keretakan politik antara faksi-faksi Palestina yang bersaing.

Koordinator Komite Pertanian dan Nelayan, Saad Ziyadeh, mengatakan kepada Kantor Berita Ma’an Palestina bahwa protes itu bertujuan untuk menyerukan kepada masyarakat internasional agar mengakhiri kebungkaman terhadap hak-hak rakyat Palestina dan untuk menuntut rezim Israel bertanggung jawab atas kekejaman yang telah mereka lakukan terhadap warga Gaza.

Baca: DK PBB Gagal Sepakati Penyelesaian atas Eskalasi di Gaza

Ziyadeh menekankan bahwa pengepungan Israel telah menyebabkan konsekuensi kemanusiaan di Gaza, termasuk kemiskinan ekstrim, pengangguran, kerawanan pangan dan kelaparan.

Menurut perkiraan internasional, 80 persen orang-orang Palestina di daerah kantong pantai itu bergantung pada bantuan internasional dan 40 persen berada di bawah garis kemiskinan.

Ziyadeh juga meminta para pengambil keputusan di Tepi Barat dan Gaza untuk mengakhiri keadaan mereka yang terpecah belah.

Baca: Jet Tempur Israel Bombardir Delapan Target Hamas di Gaza

Kepemimpinan Palestina telah terbagi antara Fatah, partai terkemuka Otoritas Palestina (PA), dan gerakan perlawanan Hamas sejak 2006. Hamas mencetak kemenangan telak dalam pemilihan parlemen di Jalur Gaza. Hamas sejak itu telah menjalankan pemerintahan di daerah kantong pantai, sementara Fatah telah berbasis di daerah otonom Tepi Barat yang diduduki Israel.

Kedua kelompok saingan itu menandatangani perjanjian rekonsiliasi pada 12 Oktober 2017, Namun, perjanjian itu tidak sepenuhnya dilaksanakan karena perbedaan pendapat besar di antara mereka atas beberapa masalah. (ARN)

About Arrahmahnews 26663 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.