News Ticker

Delegasi Yaman: Solusi Politik Satu-satunya Cara Akhiri Perang

Abdul Malik Hajri Abdul Malik Hajri

STOCKHOLMS – Seorang pemimpin senior Houthi Yaman mengatakan bahwa kelompoknya berharap pembicaraan perdamaian yang akan datang di Swedia akan mengarah pada “dialog politik inklusif” yang akan mengakhiri perang.

Kepala delegasi Yaman untuk pembicaraan damai di Swedia, Abdul Malik al-Ajri, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Houthi, yang tiba di ibukota Swedia saat ini sedang mencari cara untuk membahas berbagai masalah politik pada pembicaraan penyusunan konstitusi baru dan masalah Yaman selatan, yang menyerukan pemisahan dari Yaman Utara.

Baca: Delegasi Yaman Tiba di Swedia untuk Pembicaraan Damai

“Kami berharap negosiasi ini akan membantu mengakhiri perang,” kata al-Ajri. “Kami akan menyerukan agar blokade darat, laut dan udara yang diberlakukan di Yaman [oleh Arab Saudi dan UEA] untuk dicabut, dan untuk pembatasan barang yang masuk ke negara itu untuk juga dicabut.

“Solusi politik adalah satu-satunya jalan  untuk menyelamatkan apa pun yang bisa diselamatkan”, kata al-Ajri.

Tekanan internasional telah meningkat pada pihak-pihak yang berperang di Yaman untuk mengakhiri konflik, yang telah menewaskan lebih dari 56.000 jiwa (sebagian sumber menyebut melukai dan menewaskan 600.000 jiwa), dan mejadikan lebih dari 22 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Menurut PBB, “konsultasi” yang direncanakan, yang mungkin  dimulai pada hari Rabu atau Kamis, akan dihadiri oleh “pihak-pihak utama dalam konflik”, bahkan seperti Arab Saudi dan UEA, yang memainkan peran utama dalam perang, dan Iran, yang dianggap mendukung Houthi, tidak diundang.

Baca: Utusan PBB Kunjungi Houthi Jelang Pembicaraan Damai Yaman

Bagaimanapun, ketiga negara, yang memiliki pengaruh besar atas pihak yang berseberangan, mengatakan bahwa mereka mendukung inisiatif PBB untuk mengakhiri perang, kata al-Ajri.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffith, berharap bias membuat kedua belah pihak untuk menyetujui “kerangka” yang “menetapkan prinsip dan parameter untuk negosiasi inklusif yang dipimpin PBB, guna mengakhiri perang, dan memulai kembali transisi politik”.

“Yaman adalah negara kecil dan sederhana. Secara budaya homogen dan tidak ada perbedaan etnis atau budaya,” kata al-Ajri.

“Kami berharap untuk terlibat dalam dialog politik yang inklusif yang akan mengarah pada proses transisi baru.

“Kami akan menyerukan negara Yaman yang federal sehingga tidak ada lagi satu pusat kekuasaan dan kekayaan negara dapat didistribusikan secara adil di antara semua orang”, ujarnya lebih lanjut. (ARN)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: