News Ticker

Analis: Qatar Bikin Saudi Pusing Tujuh Keliling

Arab Saudi dan Qatar Arab Saudi dan Qatar

DOHA – Keputusan mendadak Qatar untuk meninggalkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mungkin hanya sedikit terapi kejut untuk lebih banyak hal yang akan datang, karena beberapa analis memperkirakan bahwa negara kecil Teluk Persia itu berencana untuk mengganggu Arab Saudi bahkan mungkin juga dengan meninggalkan Dewan Kerjasama Teluk [Persia] (GCC).

Qatar menunggu hingga Senin untuk mengumumkan niatnya meninggalkan OPEC, sebuah langkah yang menjamin efek maksimum menjelang pertemuan organisasi tersebut minggu ini di Wina.

Baca: Mengejutkan! Qatar Keluar dari OPEC

Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, mantan perdana menteri Qatar, mengatakan dalam tweetnya bahwa masih bertahan di OPEC tidak ada gunanya karena organisasi itu hanya digunakan untuk tujuan yang merugikan kepentingan nasional mereka.

Saat ini, Bloomberg berpendapat bahwa alasan yang diberikan jauh lebih untuk dapat diterapkan pada GCC [P], dimana diantara anggotanya adalah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), kedua negara yang memelopori blokade multi-negara terhadap Doha.

Arab Saudi telah memberikan undangan kepada para pemimpin Qatar untuk menghadiri pertemuan tahunan dewan, yang akan diadakan di Riyadh pada 9 Desember.

Baca: Raja Salman Undang Emir Qatar Hadiri KTT GCC

Menurut kolumnis Bloomberg, Bobby Ghosh, pengumuman semacam ini oleh Doha sebelum KTT “tidak diragukan lagi akan mengganggu dan mempermalukan Arab Saudi.”

Blokade yang dipimpin Saudi terhadap Qatar telah berlangsung selama 18 bulan dimana Riyadh dan sekutunya, UEA, Bahrain dan Mesir, menuding bahwa Qatar mendestabilisasi kawasan dengan mendukung terorisme, tuduhan yang dibantah keras Doha.

Ketidakmampuan enam anggota GCC untuk menyelesaikan masalah ini menunjukkan betapa terbatasnya kekuatannya, Ghosh menulis, dengan alasan ini Qatar “mungkin sekarang percaya bahwa mereka tidak akan mendapat apa-apa secara materi jika bertahan untuk melanjutkan keanggotaan dalam kelompok tersebut.

Bagaimanapun, ada perbedaan antara OPEC dan GCC [P] yang perlu diperhitungkan oleh Doha.

Menggambarkan OPEC sebagai “kartel kuat dengan dampak nyata pada urusan dunia,” Ghosh berpendapat bahwa sebagai satu-satunya produsen minyak terbesar ke-11 dengan pengaruh kecil dalam proses pengambilan keputusan, Qatar hampir tidak kehilangan apapun dengan berhenti.

Baca: Qatar: Aliansi Arab mirip NATO tidak akan Efektif

Ini adalah cerita yang berbeda dengan (P) GCC, “pengelompokan yang tidak efektif yang berdampak kecil pada urusan regional,” kata Ghosh.

“Jika Qatar mundur, itu akan memperkuat klaim Arab Saudi bahwa keluarga yang berkuasa di Doha merusak konsensus Arab,” tulisnya. “Tetap dalam aliansi memungkinkan Qatar untuk mengisyaratkan bahwa mereka berkomitmen untuk kerjasama regional, meletakkan tanggung jawab untuk mengakhiri blokade terhadap Saudi dan Emirat.”

Ada juga kemungkinan bahwa Riyadh dan Abu Dhabi akan mencoba untuk menendang Qatar keluar dari dewan, yang dalam hal ini akan menjadi kepentingan terbaik Doha untuk mengalahkan mereka dengan pukulan terlebih dahulu yaitu meninggalkannya secara sukarela.

Jika Qatar keluar dari GCC, Keputusan itu mungkin berdampak pada Kuwait, Oman, dan Bahrain, tiga anggota GCC lainnya. Sementara Bahrain cenderung mengikuti kepemimpinan Arab Saudi dalam sebagian besar masalah, Kuwait dan Oman memiliki sejarah sendiri jika kita berbicara tentang menentang “penindasan Saudi.”

Dalam perjalanan keluar, Qatar mungkin memiliki kesempatan untuk meyakinkan Oman dan Kuwait untuk keluar juga, khususnya karena kedua negara tetap netral dalam blokade.

Alasan lain yang mungkin membuat Saudi dan Emirat tidak mengusir Qatar adalah kemungkinan reaksi keras dari Amerika Serikat.

“Washington telah lama menganggap persatuan Arab sebagai “penting untuk menghadapi Iran,” Ghosh memperingatkan.

Memecah GCC (P) oleh kedua pihak akan merugikan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menciptakan “NATO Arab,” sebuah aliansi anti-Iran yang juga akan melayani kepentingan Israel.

“Untuk tujuan itu, administrasi Trump ingin Saudi untuk meningkatkan hubungan dengan Qatar, tidak boleh semakin renggang,” kata sang penulis. (ARN)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: