News Ticker

Muhammad Zazuli: Strategi Baru Perang Medsos Kubu Prabowo

Medsos Perang Medsos

JAKARTA – Jika pada Pilpres 2014 kelompok radikal kubu pendukung Prabowo lebih banyak menyerang dan menyebar hoax dan fitnah lewat medsos kini sepertinya mereka sudah beralih strategi, terutama setelah ada Badan Cyber, UU ITE dan terciduknya oknum maupun kelompok produsen dan distributor industri hoax semacam Jonru, Buni Yani, sindikat Saracen, MCA dan sebagainya.

Kini mereka lebih banyak menggunakan strategi bertahan, merapatkan barisan dan bergerilya. Mereka kini lebih banyak aktif di grup-grup tertutup agar mereka bisa tetap mempertahankan orang-orang mereka sekaligus membentengi diri dari pengaruh cebong yang bisa saja memberikan alternatif pemikiran yang bisa mengubah haluan dan pilihan politik mereka. Mereka juga mulai jarang mampir, kelayapan, membaca, memaki dan menyerang akun cebong karena bakal dibalas oleh pasukan cebong yang kini mulai sadis, ganas dan ketularan sikap barbar mereka.

Baca: Eko Kuntadhi: Lawan Politik Serang Jokowi dari Segala Penjuru

Itulah sebabnya hasil berbagai lembaga survei sepertinya stagnan dan itu-itu saja, hampir tidak banyak berubah. Prabowo hampir tak beranjak di angka 30 persenan sedang Jokowi konsisten di angka 50 persenan. 30% itu hampir pasti adalah pendukung fanatik Prabowo yang mungkin tidak akan pernah mengubah pilihannya, sengaco dan sengawur apapun tindakan maupun perkataannya. Begitu juga angka 50% mungkin juga adalah pendukung setia Jokowi yang akan tetap setia mengabdi dan memilih Baginda Cebong.

Nah angka 20% yang adalah orang-orang yang belum menentukan pilihan ataupun swing voter ini rata-rata adalah generasi milenial dan anak muda yang pesimis dan kurang peduli dengan pulitik. Mereka jenuh dengan hingar-bingar politik dan kemunafikan para politikus termasuk ambivalensi tokoh-tokoh dan kelompok agama. Agak susah merebut simpati dan suara mereka. Bahkan Jokowipun terpaksa harus naik motor dan jumping meski memakai stuntman agar bisa menarik perhatian mereka.

Baca: Denny Siregar: PKS, HTI dan Agenda Khilafah di Pilpres 2019

Melalui Sandi dan Erick Thohir, kedua kubu berusaha menarik simpati mereka. Tapi sepertinya kelompok ini pada akhirnya nanti akan cenderung lebih memilih sosok Jokowi yang dianggap egaliter, humanis dan pro industri kreatif dibanding Prabowo yang lebih merepresentasikan figur ala Orde Baru yang kaku, otoriter, tegang, anti kritik dan militeristik.

Saya sendiri sebenarnya lebih tertarik membahas soal masa depan Ahok di jagad perpolitikan Indonesia daripada perang cebong kampret yang seakan tiada henti ini dalam tulisan ini. Saya membayangkan andai Ahok bersedia meniru dan mengikuti langkah Prabowo, Setya Novanto ataupun Felix Siauw pasti nasibnya akan berubah.

Andai Ahok bersedia jadi mualap meski cuma bisa ngomong Hulaihi Hulaihi dan bersedia teken kontrak politik dengan kelompok radikal maka pasti sejuta persen dukungan akan berubah dan berbalik arah 180 derajat. Jika dulu Ahok dimaki kutil babi dan diteriaki “Bunuh, Bunuh!!” maka dalam waktu singkat bisa saja dia menjelma jadi santri, ulama bahkan titisan Allah SWT, karena begitulah pola kampret dalam menunggangi dan memperjuangkan bonekanya.

Baca: Muhammad Zazuli: Kenapa Jokowi dan Ahok Dibenci Kelompok Radikal?

Akhirul Kalam, mari kita nikmati saja dagelan dan guyonan antara cebong kampret ini. Saya lebih suka jadi cebong karena rata-rata cebong adalah cerdas, humoris dan bangga disebut atau bahkan menyebut diri sebagai cebong. Beda jauh dengan kampret yang sukanya berita hoax dan abal-abal, baperan, tegang, ngamukan, gampang marah dan sewot kalo dipanggil kampret. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Muhammad Zazuli

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: