News Ticker

Bahrain Bela Australia Fakta Pengaruh Kuat Israel di Teluk

Menlu Bahrain Menlu Bahrain

MANAMA – Penentangan Bahrain terhadap pernyataan Liga Arab tentang keputusan Australia untuk mengakui Yerusalem barat sebagai ibukota Israel sebenarnya dengan jelas menunjukkan bahwa kebijakan Israel terkait Timur-Tengah baru-baru ini telah berhasil.

Menyusul langkah AS, Australia baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka mengakui Yerusalem barat sebagai ibu kota Israel. Keputusan itu mengabaikan fakta yang diakui secara internasional bahwa Yerusalem berada di bawah pendudukan Israel.  Langkah itu sendiri dianggap tidak menyenangkan bagi kedua belah pihak, dimana Palestina jelas mengecam negara itu karena melanggar hukum internasional dan menghambat proses perdamaian, sementara Israel mengklaim bahwa seharusnya pengakuan Australia tidak hanya mengenai Yerusalem Barat saja, tetapi Yerusalem secara keseluruhan sebagai ibukota Israel.

Baca: Memalukan! Bahrain Bela Australia yang Akui Yerusalem Ibukota Israel

Bagaimanapun juga, menurut sebuah postingan di surat kabar Turki, Daily Sabah, pada Selasa (18/12), respon yang lebih penting untuk disoroti justru datang dari Bahrain, yang mengatakan bahwa keputusan itu harus disambut sebagai bagian dari proses perdamaian. Pernyataan yang membela kepentingan Israel itu mengindikasikan bahwa kebijakan Tel Aviv terhadap Teluk telah membuahkan hasil.

Pada hari Sabtu pemerintah Australia mengatakan akan mengakui Yerusalem barat sebagai ibukota Israel tetapi tidak akan segera memindahkan kedutaannya. Liga Arab mengeluarkan pernyataan, mengkritik keputusan itu dengan mengatakan bahwa pernyataan tersebut “sangat bias terhadap posisi dan kebijakan pendudukan Israel.” Namun, Bahrain tidak setuju. Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid Al Khalifa mengatakan bahwa pernyataan itu “hanya retorika dan tidak bertanggung jawab”.

Baca: Menteri Ekonomi Israel Diundang ke Bahrain

Dalam salah satu tweet-nya pada hari Sabtu, ia justru membela Australia dan Israel dengan berkata, “Sikap Australia tidak berdampak pada tuntutan sah Palestina, pertama di antaranya adalah Jerusalem timur sebagai ibu kota Palestina, dan itu tidak bertentangan dengan Prakarsa Perdamaian Arab.”

Sesaat, sikap Bahrain mungkin tampak mengejutkan, tetapi setelah menganalisis perkembangan terakhir dan hubungan bilateral dengan Israel, dapat dipahami bahwa pernyataan menteri itu adalah hasil dari sebuah proses. Misalnya, dalam salah satu pernyataan sebelumnya, ia mengatakan Israel memiliki hak untuk membela diri terhadap Iran. Sikap anti-Iran adalah tema umum kunci yang sengaja disebar oleh Israel dan negara-negara Teluk.

Pada akhir bulan lalu, media Israel mengklaim bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersedia untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Bahrain sebagai bagian dari kebijakan Teluk baru-baru ini. Sebagai bagian dari kebijakan baru Israel juga, Netanyahu mengunjungi Oman bulan lalu, bertemu Sultan Qaboos bin Said di Muscat. Ditemani oleh kepala Mossad, kunjungan Netanyahu dianggap sebagai pendahuluan menuju Teluk. Demikian pula, Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miri Regev mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) untuk turnamen judo pada bulan Oktober, menunjukkan jenis hubungan baru negara itu dengan Teluk. Jangan lupa, bahwa Israel memiliki hubungan diplomatik penuh dengan dua negara Arab, yaitu Mesir dan Yordania, kunjungan ini penting dalam hal masa depan kawasan.

Baca: Mahathir Kecam Pernyataan Australia akui Yerusalem Ibukota Israel

Bahrain sebagian besar di bawah pengaruh Arab Saudi dimana negara itu selalu mengikuti kerajaan mengikuti dalam isu-isu internasional. Juga diketahui bahwa Netanyahu telah meluncurkan sebuah inisiatif untuk mengembangkan hubungan positif dengan negara-negara Teluk, dan terutama dengan Arab Saudi. Israel dan Arab Saudi sama-sama menganggap Iran sebagai ancaman terbesar bagi diri mereka sendiri. Arab Saudi percaya Iran mendanai kelompok-kelompok tertentu di Yaman serta di Suriah dan Irak, sementara Israel menganggap Iran dan proksi atau kelompok pendukungnya, seperti Hizbullah, sebagai ancaman eksistensial. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: