NewsTicker

Kematian Balita Yaman di AS, Dunia Kembali Kecam Kebijakan Rasis Trump

Abdullah Hassan, Yaman Abdullah Hassan, Yaman

OAKLAND – Ucapan duka cita atas meninggalnya Abdullah Hassan, balita Yaman yang akibat larangan Perjalanan Trump sehingga ibunya yang berasal dari Yaman dilarang menemuinya bahkan saat ia menjalani perawatan serius di sebuah Rumah Sakit anak di Oakland, California, terus mengalir di media sosial.

Mereka yang turut berduka atas nasib tragis Hassan juga menyampaikan simpati kepada ibunda Hassan yang harus melewati perjuangan berbulan-bulan menggugat larangan Trump ini hanya agar ia bisa menemani putra kecilnya menjalani perawatan. Sekali lagi kebijakan kontroversial Trump telah memakan korban jiwa anak-anak.

Baca: TRAGIS, Kebijakan Rasis Trump Renggut Nyawa Balita Yaman di RS California

“Beristirahatlah dalam damai…bocah ini meninggal dunia setelah ibunya harus berjuang melawan larangan perjalanan agar bisa menemuinya,” ujar Michale Coscia, pengguna twitter,  dalam cuitannya.

Baca: Legislator AS: Trump Pasti Punya DNA Rasis

“Aaahh! Sungguh bocah yang tampan, dan sungguh betapa seluruh situasi ini menyedihkan! Ibu Abdullah seharusnya memiliki lebih banyak waktu bersamanya,” ujar pengguna yang lain.

Hassan meninggal pada hari Jumat karena penyakit terminal otak genetik bernama hypomyelination di UCSF Benioff Children’s Hospital di Oakland, California.

Hassan, dua tahun, yang merupakan warga negara AS, dibawa ke AS untuk menjalani perawatan sekitar tiga bulan lalu oleh ayahnya, Ali Hassan, yang juga adalah warga negara AS.

Baca: Trump dan Kekacauan Perang Pertamanya di Yaman

Sementara Ibu Hassan, Shaima Swileh, yang adalah warga negara Yaman, dilarang mengunjungi putranya yang sakit parah itu atas dasar larangan perjalanan yang diberlakukan AS terhadap beberapa negara Muslim.

Selama berbulan-bulan, Departemen Luar Negeri AS, atas dasar larangan perjalanan presiden Trump, telah menolak permintaan visa ibu yang ingin bersama anaknya saat menjalani perawatan tersebut.

Setelah perjuangan Swileh dengan menggugat administrasi Trump atas larangan perjalanan dan dukungan berbagai aktivis lewat media sosial agar Ibu dan anak ini bisa bertemu, Ibu Yaman ini  akhirnya diberikan izin untuk memasuki AS beberapa hari sebelum kematian Hassan. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: