News Ticker

Kisah Penyiksaan Sadis Kolumnis Wanita Arab di Penjara Saudi (1)

Reema Sulaiman Penyiksaan Reema Sulaiman oleh Penguasa Saudi

RIYADH – Saya Reem Sulaiman dan saya adalah penulis untuk surat kabar Mekah, al-Wiam dan Anha’. Saya ingin memberi tahu kalian tentang penindasan dan penganiayaan yang saya alami, yang membuat saya meninggalkan Arab Saudi dan datang ke Belanda sebagai pengungsi. Inilah kisah saya:

Kisah ini dimulai ketika saya menerima telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa ia adalah asisten Saud Al-Qahtani. Ia memerintahkan saya untuk berhenti menulis di surat kabar dan mengancam bahwa jika saya tidak mematuhi perintah ini, saya akan menimbulkan banyak kesulitan pada diri saya sendiri, dimana yang paling ringan diantaranya mungkin adalah hukuman penjara. Saya mencoba bertanya mengenai alasannya tetapi ia menjawab dengan marah, “Lakukan saja apa yang diminta tanpa membantah”.

Baca: Kolumnis Saudi Beberkan Penyiksaan Fisik & Psikologis Penguasa Saudi

Saya terkejut dan dipenuhi dengan ketakutan bahwa saya mungkin akan mengalami nasib sebagaimana yang dihadapi (aktivis) lainnya. Saya tidak punya pilihan selain mematuhi perintah mereka. Saya terus dalam kondisi khawatir selama seminggu penuh sebelum orang-orang bersenjata penuh menyerbu rumah saya dan menahan saya.

Mereka membawa saya ke lokasi yang tidak diketahui di Riyadh. Disana, pertanyaan, penghinaan dan siksaan psikologis dimulai dan berlanjut selama dua hari penuh. Mereka menanyai saya tentang artikel yang saya terbitkan dan tweet yang saya buat. Disanalah terjadi kekerasan dan ancaman penyiksaan.

Kemudian mereka memberi tahu saya bahwa mereka akan melepaskan saya tetapi saya dilarang menulis. Mereka memperingatkan agar saya tidak memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi. Saya berada dalam kondisi shock dan takut untuk sementara waktu. Itu adalah hari-hari tersulit dalam hidup saya.

Baca: Saudi Tangkap Mantan Pengkhotbah Masjid Nabawi dan 5 Syekh Lainnya

Mereka membuat saya tidak punya pilihan selain melarikan diri dari negara itu demi keselamatan dan kebebasan. Jadi, saya pergi ke Belanda. Di sinilah sekarang saya hidup sebagai pengungsi. Terus terang, saya ketakutan bahwa saya akan menjadi sasaran, yang akan diperlakukan sebagaimana para aktivis perempuan lainnya diperlakukan, seperti penyiksaan, penghilangan paksa dan bahkan pemerkosaan.

Hati saya bersama negara saya. Hati saya bersama orang tua saya yang mungkin berada dalam bahaya karena saya meninggalkan negara dan mengungkap apa yang terjadi. Hati saya bersama para aktivis, pria dan wanita, yang dipenjara secara tidak adil, disiksa, dianiaya dan dizalimi. Sangat disesalkan bahwa negara telah dirubah oleh para penguasanya dari pelukan yang aman bagi putra dan putrinya menjadi api neraka bagi mereka.

Baca: Lagi! Seorang Aktivis Disiksa Sampai Mati di Penjara Saudi

Saya tidak ingin menjadi sumber kesengsaraan bagi siapa pun. Hati saya penuh dengan kesedihan. Apa yang telah mereka lakukan terhadap saya dan tekanan psikologis serta ancaman yang saya hadapi tidak bisa ditanggung oleh seorang wanita, bahkan seorang pria pun tidak bisa menanggungnya. Saya hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan terbaik saya dan pendukung terbaik  untuk melawan siapa pun yang membawa kami ke kondisi yang menyedihkan ini.

Hal yang menambah rasa sakit dan melukai hati saya adalah kenyataan bahwa teman-teman saya berbalik melawan saya hanya karena saya memberi tahu dunia apa yang terjadi. Beberapa saat yang lalu saya mengetahui bahwa surat kabar Anha’, tempat dulu artikel-artikel saya diterbitkan, telah menghapus semua artikel saya. Berikut ini adalah tautan lama ke beberapa artikel saya di Anha, (yang sudah dihapus) http://www.an7a.com/261735/.

Baca: Tak Salah, Seorang Pemuda Disiksa Hingga Tewas di Penjara Saudi

Saya hanyalah warga negara yang tidak membawa apa pun di tangannya selain pena. Menulis adalah hidup saya. Di sinilah saya membahas penderitaan rakyat biasa dan membela mereka. Saya adalah salah satu dari mereka yang percaya bahwa kami hidup dalam keadaan yang adil. Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa saya akan dianiaya sampai saya mengalami cobaan yang mengerikan ini. Rasanya seperti pedang yang mengoyak semua mimpi. Saya meninggalkan negara itu sementara hati saya tetap disana, dengan para wanita yang ditahan, dengan teman-teman tahanan saya. (ARN)

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: