News Ticker

Kisah Penyiksaan Sadis Kolumnis Wanita Arab di Penjara Saudi (2)

Reema Sulaiman Penyiksaan Reema Sulaiman oleh Penguasa Saudi

RIYADH – Selama hari-hari yang saya habiskan di tahanan, di hadapan saya diperlihatkan gambar-gambar dari semua aktivis perempuan yang ditahan yang diancam dengan pelecehan seksual, dicambuk dengan cambuk, disetrum dengan listrik dan disiksa agar mau memberikan pengakuan palsu. Yang paling saya pikirkan saat itu adalah, apakah saya akan bertahan atau bunuh diri. Ya, saya memang berpikir untuk bunuh diri lebih dari sekali karena kengerian yang saya lihat.

Di tempat saya ditahan, tidak ada penjaga atau pengawas penjara wanita, mereka juga bukan laki-laki. Mereka adalah setengah laki-laki, semi-laki-laki yang sama sekali tidak ragu melakukan kebiadaban dan pemukulan hebat. Tanpa kemanusiaan dan tanpa belas kasih terhadap seorang wanita yang memohon belas kasihan. Mereka tanpa ampun, tanpa moralitas atau sikap keislaman atau bahkan sikap kesatria zaman pra-Islam. Mereka adalah binatang buas yang diperanakkan oleh binatang buas.

Baca: Kisah Penyiksaan Sadis Kolumnis Wanita Arab di Penjara Saudi (1)

Sejak kepergian saya dari negara saya yang telah menjadi penjara luas itu, saya telah mendokumentasikan setiap momen yang saya lalui, baik secara visual maupun tertulis. Lalu saya kembali teringat hari-hari gelap tersebut, hari-hari al-Qahtani dan kaki tangannya, dan saya mencatatnya serta mendokumentasikannya. Saya akan mengungkap semua ini dalam mini-dokumenter yang bekerjasama dengan salah satu saluran TV, mungkin CNN atau BBC. Saya belum memutuskan yang mana.

Apa yang telah saya lalui sangat keras sampai-sampai meninggalkan krisis psikologis yang rumit dan cedera permanen di tangan kiri saya. Meskipun sekarang saya aman dan berusaha sebaik mungkin untuk keluar dari krisis ini, semua yang saya lalui tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dilalui aktivis perempuan lain. Mereka dipukuli dan diserang tanpa ampun, terutama Lujain (al-Hathloul) yang malang. Para anjing itu, mereka terus menyerangnya.

Tidak apa-apa untuk mengatakan bahwa saya bukan orang Saudi atau Hijazi atau bahwa saya adalah sisa-sisa dari mereka yang datang dari luar negeri atau sisa-sisa dari para peziarah. Kalian mengatakan hal yang sama juga tentang Jamal Khashoggi. Dulu ia juga sedih mendengarnya. Tetapi jika saya tidak peduli dengan mereka yang lebih penting dari kalian, apakah saya harus peduli dengan kalian atau tentang apa yang kalian katakan?.

Baca: Kolumnis Saudi Beberkan Penyiksaan Fisik & Psikologis Penguasa Saudi

Artikel yang menyebabkan bencana dan menimpakan masalah ke kepala saya serta mengarahkan pihak berwenang untuk menahan saya adalah seruan saya untuk merasionalisasi wacana media di hari-hari awal krisis Teluk ketika pelecehan dan fitnah terus meningkat. Saya menerbitkan sebuah artikel berjudul: “Intelektual dan krisis antara Arab Saudi dan Qatar”. Sayangnya, artikel itu tampaknya telah dihapus.

Sama seperti mereka menyangkal melakukan tindakan mereka terhadap Jamal Khashoggi, dan kemudian kebenaran muncul, dan sama seperti ketika mereka menyangkal telah menyiksa aktivis perempuan dan melakukan pelecehan seksual, dan kemudian kebenaran itu kini muncul, mereka mencoba mengulangi klaim konyol bahwa saya tidak ditindas dan dianiaya oleh Saud al-Qahtani dan antek-anteknya. Seluruh dunia tahu sifat alami kalian, kalian adalah tuannya penindasan dan penekanan. (ARN)

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: