News Ticker

Kisah Penyiksaan Sadis Kolumnis Wanita Arab di Penjara Saudi (Tamat)

Reema Sulaiman Penyiksaan Reema Sulaiman oleh Penguasa Saudi

RIYADH – Mereka menyerbu rumah keluarga saya. Teriakan mereka memenuhi ruangan seolah-olah mereka sedang mencari teroris yang berbahaya. Mereka mengumpulkan semua anggota keluarga saya di satu ruangan dan membawa saya ke kamar saya. Mereka menyita ponsel dan laptop saya. Mereka kemudian menyisir kamar saya. Mereka menyita beberapa buku saya, sementara yang lain mencari di setiap sudut rumah.

Kemudian salah satu dari mereka berkata kepada saya, ”Kamu akan pergi bersama kami. Kamu hanya punya lima menit untuk bersiap-siap.” Saya ngeri. Saya bertanya kepadanya mengapa? Dia menjawab: “Sekarang tinggal empat menit lagi.” Saya segera bersiap-siap, tangan saya dibelenggu, kemudian mereka menutup mata saya dan membawa saya ke kendaraan sementara anggota keluarga saya tampak ketakutan. Kemudian, mereka membawa saya ke tempat saya selanjutnya, dipenjara.

Baca: Kisah Penyiksaan Sadis Kolumnis Wanita Arab di Penjara Saudi (1)

Dulu saya percaya bahwa pemerintah kita masih memperhatikan kesucian rumah-rumah Muslim dan kesucian kehormatan serta martabat mereka, terutama karena kita hidup dalam masyarakat suku dan Islam. Tetapi kepercayaan saya segera hilang, setelah melalui pengalaman itu, setelah mereka menusukkan pisau mereka ke dalam tubuh kita yang tidak bersalah.

Apa yang memungkinkan saya untuk tetap tabah selama masa itu, terlepas dari beratnya penderitaan, adalah simpati orang kepada saya, sikap orang-orang bebas, jurnalisme manusia, organisasi internasional … Saya ingin berterima kasih kepada mereka semua, satu per satu, setiap institusi. Saya juga ingin meminta maaf kepada semua yang pesannya belum bisa saya jawab sejauh ini. Maafkan saya, karena saya telah menerima lebih dari 2.000 pesan.

Interogasi yang intens

Mobil yang gelap membawa saya ke lokasi penahanan. Ketika saya tiba, salah satu dari mereka menyeret saya dari mobil dan membawa saya ke dalam, di mana saya menghabiskan masa penahanan saya. Baunya busuk. Saya berbaring di tanah dengan mata tertutup dan diborgol. Setelah beberapa jam, mereka membuka ikatan saya dan membuka penutup mata. Saya tetap disana menunggu untuk ditanyai.

Saya diinterogasi oleh seorang pria yang mengenakan pakaian sipil. Mereka memanggilnya Abu Majid. Ketika saya dibawa kepadanya, ia melemparkan di depan saya artikel yang saya tulis dan beberapa tweet saya. Kemudian dia bertanya kepada saya, “Artikel apa ini? Mengapa Anda menulis cuitan-cuitan ini? “Lalu ia bertanya lebih lanjut, “Apa hubungan Anda dengan aktivis perempuan al-Mani, al-Hathlul dan al-Nafnajan?” Lalu ia menuntut agar saya memberinya nama-nama intelektual yang saya kenal.

Baca: Kisah Penyiksaan Sadis Kolumnis Wanita Arab di Penjara Saudi (2)

Sang interogator juga bertanya kepada saya tentang penulis KR, yang sebelumnya menawarkan saya pekerjaan. Ia juga bertanya kepada saya tentang penulis dan jurnalis Abd al-Aziz al-Qasim karena saya satu grup WhatsApp dengannya. Kemudian ia bertanya tentang hubungan saya dengan para Syekh dan mereka yang kenal dengan saya dan apakah saya telah melakukan kontak dengan mereka. Dia bertanya kepada saya tentang segalanya, termasuk kaki saya yang pincang, yang menyebabkan saya sakit. Dia bertanya apa penyebabnya.

Teror Al-Qahtani

Yang paling mengejutkan saya adalah ketika Saud Al-Qahtani menelepon ibu saya saat saya berada dalam tahanan untuk memberi tahunya bahwa saya baik-baik saja dan di sebuah tempat yang “layak”. Kemudian ia (Al-Qahtani) berkata kepadanya: “Biarkan salah satu dari kalian menulis sebagai ‘perwakilan’ untuk mengatakan bahwa Reem hanya seorang wanita muda yang bersemangat yang menulis apa yang ada di pikirannya dan tidak memiliki koneksi dengan aktivis perempuan atau pembela hak asasi manusia lainnya.” Ia meminta mereka untuk memberikan representasi itu kepadanya untuk ditindaklanjuti nanti.

Melarikan diri untuk mendapat suaka

Jembatan Raja Fahd (jalan pintas yang menghubungkan Saudi dan Bahrain) adalah gerbang saya untuk mengetahui apakah saya dilarang bepergian atau tidak. Saya banyak berpikir sebelum pergi ke Bahrain, untuk memastikannya. Lalu saya memutuskan bahwa sudah waktunya. Ketika saya sampai di perbatasan, jantung saya berdetak kencang. Tetapi saya mengetahui bahwa prosesnya normal dan tahu bahwa saya tidak dicekal. Kemudian saya memutuskan untuk mengambil langkah berikutnya. Saya memperoleh visa dan pergi.

Baca: Kolumnis Saudi Beberkan Penyiksaan Fisik & Psikologis Penguasa Saudi

Saya melaksanakan langkah kedua dari perjalanan saya, setelah mengetahui bahwa saya tidak dilarang bepergian. Saya mencari negara-negara yang tidak terlalu sibuk dengan permintaan suaka. Seorang rekan menyarankan saya untuk bepergian ke Belanda. Ia menyarankan saya mendaftar ke universitas untuk mengambil gelar master. Jadi saya lakukan. Saya membayar biaya universitas dan menyerahkan rekening bank yang membuktikan kemampuan saya untuk membiayai diri sendiri. Saya memasuki negara itu dengan visa pelajar.

Memasuki Belanda dan kemudian mengajukan suaka politik terhitung mudah. Dan yang mempermudahnya adalah bahwa para pejabat suaka itu mengetahui tentang pengekangan penguasa Saudi terhadap para aktivis perempuan… Saya akan memberikan rincian lengkap nanti tentang proses permohonan suaka dan bagaimana mencari suaka bagi para aktivis yang ingin meninggalkan negara itu demi mencari kebebasan dan keamanan untuk belajar.

Setelah menceritakan kisah rasa sakit saya, saya akan mencoba sekarang untuk memberikan diri saya ruang guna menenangkan diri dan untuk  menyembuhkan luka di hati saya. Jadi, saya akan menjauh dari Twitter dan dari aktivitas media selama beberapa waktu. Terima kasih untuk semua orang yang membantu saya meninggalkan negara saya dan terima kasih untuk semua orang yang berdiri di dekat saya serta mendukung saya setelah saya pergi. Sampai jumpa. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: