News Ticker

Yaman dan Fakta Horor Kejahatan Penguasa Arab Saudi

Yaman Anak Yaman

YAMAN – Sekarang kita tahu apa yang diperlukan untuk secara singkat merubah naskah tentang Arab Saudi. Seorang jurnalis harus terbunuh di kedutaan atas perintah Putra Mahkota, tubuhnya dipotong-potong dengan gergaji tulang dan kemudian potongan tubuh hasil pembantaian itu dilarutkan dalam tong asam.

Bukan sembarang jurnalis, bagaimanapun Saudi telah membunuh dan memenjarakan banyak jurnalis sebelumnya. Jamal Khashoggi adalah jurnalis yang bekerja untuk Washington Post, sebuah surat kabar yang dimiliki oleh orang terkaya di dunia. Biasanya, Saudi tinggal dengan mudah membeli kritik mereka. Tetapi dalam hal Jeff Bezos ini, mereka mungkin menemukan seorang pria yang terlalu kaya untuk dibeli.

Masih belum ada teriakan kesedihan, dari Washington Post atau New York Times, tiga bulan sebelumnya, setelah jet tempur Arab Saudi meluncurkan serangan udara ke sebuah bus sekolah di desa Dahyan Yaman. Bus yang kala itu berhenti di Dahyan untuk beristirahat, setelah piknik, dan kembali ke sekolah. Bus itu dihantam oleh bom MK 82 berpemandu laser yang diproduksi oleh Lockheed dan dijual ke Saudi oleh Pentagon. Lima puluh orang terbunuh dalam pemboman itu, semuanya warga sipil, 30 di antaranya anak-anak, kebanyakan berusia 10 tahun atau kurang, sementara 48 orang lainnya terluka.

Baca: Sebuah Kisah Pendek, Seperti Ribuan Kisah Serupa di Yaman

Salah satu guru sekolah tersebut, Yahya Hussein, mengemudikan mobilnya di belakang bus. Ia tiba di Dahyan beberapa menit setelah serangan udara dan harus menyaksikan adegan horor yang tak terkatakan itu. “Ada potongan tubuh dan darah di mana-mana,” katanya kepada Al Jazeera.

Saudi kala itu tidak mau repot-repot membersihkan darah atau menyembunyikan potongan-potongan tubuh yang terputus itu (sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Khashoggi). Sebaliknya, Putra Mahkota justru menyatakan bahwa pemboman bus sekolah tersebut sebagai “serangan militer sah.”

Beberapa hari kemudian, Saudi mengebom sebuah pemakaman salah satu korban, membunuh dan melukai belasan orang lainnya. Arab Saudi dengan enteng mengatakan para korban digunakan sebagai perisai manusia oleh milisi Houthi.

Baca: Kisah Sameh Diantara Kejamnya Agresi Saudi dan Kemunafikan Internasional atas Yaman

Mungkin kita berharap untuk setidaknya ada sedikit introspeksi dari Pentagon setelah pembantaian anak yang mengerikan ini, tapi sebaliknya, kita disuguhi omong kosong mengerikan dari jenderal favorit liberal, James Mattis, yang mengatakan bahwa peran AS dalam perang itu adalah membantu mencegah korban sipil. “Ada berita yang melaporkan bahwa pilot koalisi Saudi sudah menahan diri,” kata Mattis.

Lalu siapa yang terbunuh itu jika Saudi telah menahan diri dengan senjata Amerika mereka? dan tidak ada pers untuk memeriksa potongan-potongan tubuh itu?

Bagaimanapun, pemboman Dahyan sama sekali bukan pembantaian warga sipil pertama yang dilakukan oleh Saudi menggunakan “bom pintar” buatan Amerika. Pada bulan Maret 2016, 97 warga sipil tewas ketika Saudi membom Pasar Kames di Mastaba. Menurut Human Rights Watch, 25 anak meninggal dalam serangan itu. Tujuh bulan kemudian, Saudi menargetkan rudal berpemandu laser lainnya ke sebuah aula pemakaman di Sanaa, menewaskan 195 warga sipil. Di antara semua kekejaman itu, Saudi juga membom rumah sakit, sekolah, pembangkit listrik dan fasilitas pengolahan air, semuanya melanggar hukum internasional.

Baca: PILU! Bocah Yaman ini Kisahkan Kebrutalan Serangan Saudi

Secara keseluruhan, serangan-serangan udara Saudi yang didukung AS telah menewaskan lebih dari 50.000 orang, 60 % di antaranya warga sipil. Pelanggaran hukum yang mematikan ini jelas membuktikan terlalu banyak bahkan bagi raja drone sendiri.

Setelah pemboman Sana’a, Obama memerintahkan penghentian penjualan senjata baru ke Saudi. Tentu saja pada saat ini, pemerintahannya telah menjual senjata lebih dari 115 miliar dolar kepada Saudi, penjualan terbanyak dari pemerintahan mana pun dalam 70 tahun sejarah hubungan AS / Saudi.

Larangan itu dengan cepat dicabut di bawah Trump, yang tak mau buang waktu untuk membuat  kesepakatan senjata baru senilai 110 miliar dengan House of Saud.

Perang di Yaman, yang dimulai di bawah Obama dan dipercepat di bawah Trump, secara sah dapat disebut perang terhadap anak-anak. Kelaparan yang melanda negara itu terjadi akibat dari embargo menghancurkan terhadap bangsa tersebut. Kelaparan yang menurut PBB, adalah yang terburuk di planet ini dalam lebih dari satu abad. Lebih dari 1,8 juta anak-anak berada di ambang kelaparan, dengan setidaknya 130 anak sekarat setiap hari.

Meskipun angka kematian meningkat, Yaman tetap menjadi tempat dimana hanya sedikit orang Amerika pernah mendengar atau mengetahuinya. Padahal di situlah Barack Obama memerintahkan pembunuhan oleh drone seorang warga negara Amerika, Anwar al-Awlaki, dan dua minggu kemudian memerintahkan serangan lain yang menewaskan putranya yang berusia 16 tahun, Abdulrahman, yang  juga seorang warga negara Amerika. Tak satupun dari pembunuhan itu diproses oleh presiden yang mendapatkan nobel perdamaian itu.

Baca: Kisah Memilukan dari Yaman; Anakku Mati Kelaparan

Yaman juga merupakan tempat Donald Trump melakukan kejahatan perang pertamanya, mengotorisasi serangan komando delapan hari setelah pelantikannya di sebuah desa yang menewaskan 15 warga sipil, termasuk, anak perempuan al-Awlaki yang berusia 8 tahun, Nora.

Mengapa AS membunuh anak-anak di Yaman? Siapa yang memberi mereka wewenang? Apa tujuannya? Kapan ini akan berakhir? Tidak ada yang mengatakan apapun. Beberapa anggota kongres atau bahkan pers pun tidak mau mempertanyakannya.

Ini bukan perang rahasia, seperti di Afghanistan saat pemerintahan Jimmy Carter. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih buruk. Sebuah perang yang hampir tidak ada seorangpun yang cukup peduli untuk menyebut, menilai, atau memperdebatkannya.

Yaman adalah tempat di mana tidak ada yang mendengar kalian berteriak, bahkan ketika kalian berteriak ngeri saat melihat jasad tercabik bocah berusia 10 tahun yang pernah menjadi murid kalian. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: