News Ticker

Blokade Bandara Yaman: Sebuah Bencana Kemanusiaan Mengerikan

#EndYemenSiege

#EndYemenSiege #EndYemenSiege

SANA’A – Organisasi bantuan internasional di Yaman menyerukan semua pihak untuk mencabut blokade wilayah udara Yaman dan memungkinkan pembukaan kembali bandara utama negara itu.

Dampak dari keputusan untuk menutup bandara pada kehidupan orang-orang Yaman telah begitu parah, Departemen Kesehatan (Depkes) memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang Yaman telah meninggal karena kondisi kesehatan kritis yang mengharuskan mereka mendapatkan perawatan medis diluar negara itu, tetapi tidak dapat melakukannya karena penutupan bandara.

Baca: PBB Desak Saudi Hapus Total Blokade Yaman

Penolakan akses untuk bepergian telah membawa bencana bagi ribuan warga Yaman dengan penyakit yang beresiko kematian, ”kata Mu’tasim Hamdan, direktur negara Dewan Pengungsi Norwegia di Yaman.

Sebelum konflik, diperkirakan 7.000 warga Yaman bepergian ke luar negeri dari Sana’a setiap tahun untuk mengakses perawatan medis (OCHA). Karena kekerasan yang tak henti-hentinya, orang-orang dalam kondisi kritis yang harus mendapatkan perawatan medis di luar negeri sekarang harus menemukan rute alternatif untuk meninggalkan negara itu, dengan diantaranya harus menempuh jarak  10-20 jam perjalanan ke bandara lain, dimana hal itu seringnya berarti harus melalui daerah-daerah di mana pertempuran aktif terjadi.

Penutupan bandara internasional utama Yaman juga berdampak negatif pada kecepatan organisasi kemanusiaan memberikan pasokan komersial yang sangat dibutuhkan dan bantuan kemanusiaan kepada sekitar 20 juta warga Yaman yang membutuhkannya, hampir semua organisasi kemanusiaan terpaksa mengandalkan Layanan Udara Kemanusiaan PBB, untuk perjalanan keluar masuk negara tersebut.

Baca: Blokade Yaman Membunuh Warga Sipil

Kelompok-kelompok bantuan mengatakan dalam pernyataan mereka bahwa lebih dari 54.000 orang telah terbunuh atau terluka sejak eskalasi kekerasan pada 2015,  epidemi kolera, yang dimulai pada April 2015, telah menginfeksi lebih dari 425.000 orang dan menewaskan 1.900 orang. Menurut PBB, bulan lalu, penilaian kemanusiaan PBB yang direvisi mengatakan jumlah mereka yang membutuhkan bantuan telah meningkat dari 18,8 juta menjadi 20,7 juta, angka yang setara dengan hampir tiga perempat dari total populasi. Blokade yang diberlakukan pada wilayah udara Yaman oleh koalisi Saudi menyebabkan penutupan Bandara Internasional Sana’a dari penerbangan komersial pada 9 Agustus 2016. Tidak ada lalu lintas komersial yang diizinkan mengakses bandara, termasuk untuk membawa warga Yaman yang membutuhkan perawatan medis untuk menyelamatkan nyawa mereka di luar negeri.

Bandara ini malah sering menjadi sasaran serangan udara koalisi, lebih dari lima puluh enam serangan udara koalisi telah dijatuhkan di kompleks bandara selama dua tahun terakhir. Menurut Proyek Data Yaman hal ini merusak infrastruktur penting dan mengancam keselamatan masyarakat sekitar.

Baca: Saudi Masih Blokade Pelabuhan, Rakyat Yaman Diambang Kehancuran Mengerikan

Situasi ini melanggar kebebasan bergerak penduduk, Hak Asasi Manusia yang dilindungi dalam pasal 13 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Warga Yaman menemukan diri mereka dalam situasi yang sangat terbatas untuk bepergian ke luar negeri baik untuk mencari perawatan medis, belajar, melakukan bisnis atau mengunjungi kerabat.

Karena itu, semua saluran gerakan domestik dan internasional harus segera dibuka kembali. Empat tahun perang telah menghancurkan sistem kesehatan Yaman yang sudah rapuh. Kurang dari setengah dari semua fasilitas kesehatan yang tersisa yang masih bisa beroperasi. Sekitar 16 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk mengakses layanan kesehatan dasar. Infrastruktur air yang tidak mencukupi dan tingginya angka gizi buruk telah membuat orang sangat rentan terhadap penyakit, termasuk gelombang ketiga kolera.

“Perang ini tidak hanya membunuh dengan bom dan peluru, tetapi sejumlah besar penyakit yang membuat orang tidak dapat mengakses layanan kesehatan,” kata Mohamed Abdi, Direktur Negara Dewan Pengungsi Norwegia di Yaman.

Lebih dari 60.000 orang telah terbunuh atau terluka sejak eskalasi kekerasan pada tahun 2015, lebih dari satu juta pegawai negeri sipil belum dibayar gaji hampir dua tahun, menyebabkan lambatnya layanan publik dan eskalasi cepat dari krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

“Jutaan orang Yaman secara efektif sekarang tinggal di penjara terbuka antara perbatasan yang dan garis depan perang. Selama bandara ditutup maka demikian juga satu-satunya rute aman untuk perawatan medis yang menyelamatkan jiwa”. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: