News Ticker

Tak Seperti Negara Arab Lain, Kuwait Tak Sudi Kerjasama dengan Israel

Palestina Palestina

WASHINGTON – Meskipun dalam berbagai kebijakan, Dewan Kerjasama Teluk Persia (GCC) banyak mencapai kesepakatan, seperti diterimanya kembali pemerintah Suriah ke dunia Arab, beberapa masalah tampaknya tetap tidak terselesaikan karena perbedaan pandangan. Kuwait tidak mengikuti jejak beberapa negara Arab lain yang ingin menormalkan hubungan diplomatik dengan rezim Israel.

Baca: Kepala Intelijen Israel dan Negara-negara Arab Gelar Pertemuan Rahasia

Menurut komentar yang diterbitkan oleh situs media al-Monitor yang berbasis di AS, para pejabat Kuwait tidak setuju dengan rekan-rekan GCC mereka tentang pembentukan hubungan dengan rezim Tel Aviv.

Disebutkan bahwa Kuwait justru menunjukkan dukungannya terhadap Libanon. Di Dewan Keamanan PBB pada 19 Desember 2018, Kuwait mengatakan operasi militer Israel untuk memblokir apa yang mereka klaim sebagai terowongan gerakan perlawanan Hezbollah telah melanggar kedaulatan Lebanon.

“Libanon telah hidup selama bertahun-tahun dengan pelanggaran Israel. Israel telah mencoba membesar-besarkan insiden ini secara militer, dan di media,” ujar Duta Besar Kuwait, Mansour Ayyad al-Otaibi pada saat itu.

Baca: Saudi-Mesir Bujuk Para Pemimpin Negara Arab Berdagang dengan Israel

Otaibi kemudian mengutuk “pelanggaran Israel terhadap kedaulatan Libanon, di darat, udara dan laut,” menekankan bahwa upaya Hizbullah untuk melawan Israel adalah perlawanan “sah” dan bukan terorisme.

Pemerintah Kuwait bahkan mempertimbangkan untuk membuka kedutaan besar di Palestina tahun lalu sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat kehadiran diplomatiknya di wilayah-wilayah pendudukan.

Baca: Presiden Mesir Akui Jalin Hubungan Erat dengan Israel

Presiden Asosiasi Sepak Bola Kuwait, Sheikh Ahmad Yussef, baru-baru ini mengatakan kepada harian Kuwait berbahasa Arab al-Rai bahwa negaranya tidak akan menjadi tuan rumah bersama turnamen sepak bola Piala Dunia FIFA 2022 dengan Qatar karena kerajaan Teluk Persia itu tidak mau mengeluarkan visa masuk bagi orang Israel, sesuatu yang bertentangan dengan peraturan FIFA.

Langkah Kuwait berbanding terbalik dengan UEA, sementara politisi Israel dan pemimpin oposisi Partai Buruh Israel, Avi Gabbay, diam-diam mengunjungi Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, bulan lalu dan membahas berbagai masalah regional dengan tiga pejabat senior Emirat. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: