News Ticker

Suriah Takkan Izinkan Teroris Tetap Bercokol di Idlib maupun di Pangkalan Al-Tanf

DAMASKUS – Suriah tidak akan mengizinkan teroris tetap bercokol di provinsi Idlib atau pangkalan AS di Al-Tanf, yang digunakan Washington untuk melatih para militan itu melawan ‘Daesh’. Hilal Hilal, asisten sekretaris regional Partai Sosialis Baath Arab mengatakan hal ini kepada wartawan pada hari Kamis (17/01).

“Ini sama sekali bukan kesalahan kami bahwa [para militan] itu ada di sini. Mengapa kami harus mentolerir kehadiran mereka di tanah kami sekarang? Mereka bisa meninggalkan wilayah kami dan pergi ke negara lain…Kelompok-kelompok ini memiliki dua pilihan: meninggalkan tanah Suriah atau menghadapi pasukan tentara Arab Suriah,” kata Hilal sebagaimana dikutip Sputnik, Kamis (17/01).

Baca: Mufti Agung Suriah: Teroris Mungkin akan Bersembunyi di Zona Aman Turki-AS

Ia juga menekankan bahwa Damaskus akan terus menuntut penarikan pasukan AS dari pangkalan At Tanf, yang, menurut laporan media, mungkinakan tetap mempertahankan sejumlah tentara meskipun Washington telah mengumumkan niatnya untuk menarik pasukannya dari Republik Arab tersebut.

“Suriah memiliki hak untuk mempertahankan bagian mana pun dari negara terhadap pendudukan asing. Presiden Suriah Bashar Assad selalu mengatakan ini. Kami percaya bahwa pangkalan asing apa pun yang dibuat di tanah Suriah tanpa persetujuan presiden dan pemerintah Suriah, mewakili pasukan pendudukan dan agresor. Tentu saja, kami akan memerangi keberadaan pangkalan-pangkalan seperti itu di wilayah kami. Saya tidak hanya berbicara tentang pangkalan militer, tetapi juga tentang orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, formasi bersenjata dan bahkan negara,” kata Hilal lebih lanjut.

Baca: Suriah Kerahkan Pasukan Elit ke Pinggiran Idlib untuk Misi Baru

Seminggu yang lalu, AFP melaporkan dengan mengutip sumber anonim, bahwa AS telah memulai penarikan peralatan yang tidak penting dari Suriah, sementara personil militer mereka masih berada negara itu.

Meskipun Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk menarik sekitar 2.000 tentara dari Suriah hampir sebulan lalu, tidak ada kerangka kerja khusus mengenai penarikan itu yang disuarakan. Ia hanya menjelaskan bahwa ISIS telah dikalahan di negara Arab itu. Keputusannya mendorong pengunduran diri beberapa pejabat pertahanan, termasuk Menteri Pertahanan AS Jim Mattis.

Penarikan ini mempertanyakan nasib kelompok bersenjata dukungan AS di Suriah. Trump, bagaimanapun, menekankan bahwa ia ingin melindungi Kurdi sekutu AS sambil perlahan menarik pasukan keluar dari negara itu, dengan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton menyebut perlindungan milisi Kurdi oleh Ankara sebagai syarat penarikan AS. (ARN)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: