News Ticker

Netizen ‘Semprot’ Rocky Gerung dan Wahabi

JAKARTA – Sebenarnya sebagian orang tidak terlalu berfikir tentang siapa yang akan menang dalam Pilpres 2019. Tetapi yang menyesakkan dada dan selalu diulang-ulang adalah ketika Agama sangat mudah dijadikan alat politik. Memang banyak tokoh agama yang membantah, atau lebih tepatnya mengelak adanya politisasi agama, tapi fakta-fakta di lapangan jelas menunjukkan adanya gerakan ini.

Contohnya, sekarang kita disuguhi Rocky Gerung mengisi acara di Masjid, Mushola atau pondok-pondok pesantren? Memangnya siapa Rocky? Apa Agamanya?

Rocky adalah seorang filosof (ahli filsafat), berdarah menado dan pernah mengajar di UI. Secara keagamaan dia Katolik, bahkan mungkin dia adalah kelompok yang tidak mempedulikan agama lagi.

Fenomena yang menarik adalah kelompok pro- Prabowo, kelompok 212, dan ormas-ormas radikal yang mendukungnya adalah kelompok yang lebih mengedepankan isu-isu Identitas dan keagamaan. Bahkan kaum puritan, salafy dan wahabi sangat alergi dengan Filsafat, juga dengan hal-hal berbau non-muslim apalagi berbau non-agama, kalau tidak boleh menyebut ‘ateis’ (khas kelompok kiri yang filosof).

BacaKader Wanita Nasdem Asal Minang ‘Damprat’ Rocky Gerung-Fadli Zon di #ILCMegaVersusSBY.

Bagaimana orang seperti Rocky dielu-elukan oleh kelompok yang semestinya alergi dan sangat sulit bahkan mungkin tidak mampu memahami ucapan-ucapannya?

Bagaimana orang seperti ini menjadi selebritis dan dipuja, sehingga punya perkawanan dan panggung besar. Followers yang siap menunggu untuk bertepuk tangan, men-follow, re-tweet, like dll, walau mungkin tidak faham apa yang diucapkan?

Pertanyaannya adalah apakah ini mencerahkan atau hanya momentum Pilpres? Atau sinisme yang terwakili? Dimana sabda-sabda-nya tidak pernah didengar, dipahami apalagi direnungkan?

Rocky Gerung itu Non-Muslim, bahkan mungkin sudah tidak beragama, bagaimana orang seperti ini dielu-elukan? Apa parameter-nya?

Hanya mendukung Ahok, orang Muslim waktu itu dikatakan munafik, jenazahnya haram disalati dll, bukankah Rocky juga kafir?

Apakah Politik dan Kekuasaan menghalalkan segala cara? Menjungkirbalikkan akal-sehat?

Yang lucu lagi dikatakan Rocky yang ber-Akal, mengajari berfikir, berotak, otak ketemu otak. Otak-otak itu makanan khas kota gresik yang sering saya beli untuk dimakan atau dijadikan oleh-oleh kalau keluar kota.

BacaPolitisasi Agama, Cara HTI dan Khawarij Hancurkan Negara.

Agama, Tuhan, Hadist, Nash dan Masjid seakan terserah mereka-mereka mau dimaknai apa dan untuk siapa, kapan dan demi kepentingan apa?

Banyak kalangan menduga bahwa siapa pun yang menolak politisasi agama sebagai manifestasi dari Islamofobia, atau sebagai ekspresi dari ketidaksukaan pada Islam. Dugaan ini salah besar. Menolak politisasi agama justru sebagai bentuk pemuliaan terhadap nilai-nilai agama. Agama harus kita jadikan pedoman dalam merajut kebersamaan, bukan sebaliknya. Agama harus menjadi dasar sikap semua pejabat negara dan politisi bukan hanya dijadikan alat meraih suara kemudian dicampakkannya, bukan hanya sebatas lips service, hanya sebatas jargon politik yang tidak mewujud dalam tingkah laku politik sehari-hari.

Maka, sekali lagi, menolak politisasi agama adalah wujud dari upaya memuliakan agama. Kita mencegah kemungkinan publik tidak percaya lagi pada agama lantaran terlampau sering menjadi penghias bibir para politikus untuk menyerang lawan dengan menghalalkan segala cara bahkan memperjual-belikan ayat-ayat Quran. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada oknum-oknum politikus yang melegitimasi tindakan dan ucapannya dengan dalil-dalil agama.

Kita tidak menolak agama dalam berpolitik. Yang kita tolak adalah setiap upaya politisasi (mengotori) kesucian agama yang akan membahayakan bagi keberagaman dan keutuhan kebangsaan kita.

Jangan jual agama ini dengan harga murah! [ARN]

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: