NewsTicker

Soal Tax Ratio, Netizen “Semprot” Dahnil Anzar

Tax Ratio Dahnil Anzar

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Netizen Wahyu Sutono “Semprot” Dahnil Anzar terkait cuitannya soal Tax Ratio. Berikut tulisan Wahyu Sutono dalam akun facebooknya:

AMBIGUNYA TAX RATIO ALA DAHNIL

Dahnil oh Dahnil, mengapa kau selalu brisik sejak masih menjadi Ketua PP Pemuda Muhammadiyah? Apakah tak malu dengan latar belakang pendidikanmu yang tinggi itu? Silahkan berbeda dukungan, dan silahkan juga kritis, karena itu baik.

Tapi bukan nyinyir asal bunyi seperti yang selama ini dilontarkan, termasuk yang terakhir membuat pernyataan tentang ‘Tax Ratio’ untuk mempertajam pernyataan Capres-nya di Debat Capres pertama yang berencana menaikkan tax ratio dari 10% menjadi 16%.

Baca: Cuitan Hanum Rais Hina Nabi, Pengurus NU AS: Nabi Tak Pernah Sebar Hoax

Dahnil mengatakan bahwa: “Tax Ratio itu meningkatkan jumlah wajib pajak yang membayar pajak, dengan menurunkan tarif pajak sehingga memberikan efek luas terhadap beban pelaku usaha dan memiliki efek pengganda”

Ini yang namanya ‘Ambigu.’ Sebab bagaimana mungkin tax ratio bisa naik, bila tarifnya diturunkan, terlebih ada yang akan dihapus. Misal Cawapresnya berjanji akan menghapus pajak bagi para pengusaha milenial. Lalu PKS akan menghapus pajak kendaraan bermotor, dan SIM seumur hidup.

Itu belum terhitung bila ada kebocoran akibat nakalnya petugas pajak seperti di masa lalu, atau nakalnya para pengusaha yang mengakali laporan pajak, atau juga yang menyimpan uangnya di negara lain, bahkan ada yang disimpan di Panama dalam bentuk investasi bodong oleh elite politik yang (….).

Baca: Denny Siregar: Ada Upaya Benturkan Jokowi dengan Muhammadiyah dalam Kasus Dahnil

Dahnil rupanya lupa bila di era Jokowi pendapatan dari pajak menjadi yang terbesar dalam sejarah republik ini. Karena kepercayaan masyarakat luas, termasuk dari dunia usaha. Begitupun jumlah wajib pajak yang mau membayar meningkat pesat, terlebih dengan adanya kebijakkan Tax Amnesty.

Perlu dipahami bahwa Tax Ratio itu merupakan rasio jumlah pajak yang dikumpulkan pada suatu masa dibandingkan atau dibagi dengan produk domestik bruto (PDB) di masa yang sama. Tax ratio bukan satu-satunya alat ukur bagi kinerja otoritas perpajakan nasional lantaran ada beberapa faktor dan kondisi yang perlu diperiksa dan dibandingkan.

Baca: Polisi Panggil Dahnil dalam Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Apel Pemuda Islam

Misalnya, besaran insentif pajak, besarnya sektor informal (underground economy), insentif untuk menghindari pajak, kehandalan sistem, tingkat kepatuhan pajak, dan lain-lain. Tax Ratio dapat diartikan ke dalam pengertian sempit dan arti luas. Jika arti sempit maka lingkupnya hanya penerimaan yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Sedangkan arti luas, maka penerimaan yang berasal dari pajak, bea dan cukai, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) SDA.

Berikut data tax ratio berdasarkan data Kementerian Keuangan:

– Tax ratio 2014 sebesar 13,7%

– Tax ratio 2015 sebesar 11,6%

– Tax ratio 2016 sebesar 10,8%

– Tax ratio 2017 sebesar 10,7%

– Tax ratio 2018 sebesar 11,6% (outlook)

– Tax ratio 2019 sebesar 12,2% (target APBN)

Paham ya lae. “Salam Cerdas untuk Jokowi 2 Periode”. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: