News Ticker

Puisi #doayangditukar, Kyai Subang ke Fadli Zon Jangan Kurang Ajar ke Ulama

Mbah Moen Fadli Zon

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Cuitan politisi Kader Gerindra dan juga anggoya DPR Fadli Zon dalam akun twitternya pada minggu (03/01/2019) dengan judul “#doayangditukar” mendapat respon dari pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Hasanah Subang Jawa Barat, KH Muhammad Abdul Mu’min, menilai Wakil Ketua DPR Fadli Zon tak pantas mempolitisir do’a ulama sepuh KH Maimun Zubair atau biasa dipanggil Mbah Moen. Menurut Abdul Mu’min, Fadli Zon tak menghormati Mbah Moen yang menyindirnya dalam sebuah puisi berjudul #doayangditukar.

Baca: Yusuf Muhammad “Semprot’ Fadli Zon “Jangan Ulamakan Para Kriminal”

“Rasulullah memerintahkan agar kita menghormati ulama, takdim kepada ulama, karena ulama adalah yang mengurus umat dan yang memerdekakan republik ini,” kata Abdul Mu’min dalam pesan tertulisnya, Senin 4 Februari 2019.

Dia meminta para politisi tidak mempermainkan ulama terlebih dalam hal ini doa yang dipanjatkan oleh Kiai Maimun. Puisi yang dibuat oleh politikus Partai Gerindra itu disebut sudah merendahkan ulama dan pesantren. Ia menganggap kontestasi pilpres sudah menghilangkan nalar dan akal sehat seseorang.

Baca: Aneh! Fadli Zon Sayangkan Putusan PTUN yang Sahkan Pemburan HTI

“Saya sudah baca puisi Fadli itu, dan isinya merendahkan ulama dengan mengatakan doanya ditukar. Para politisi jangan kurang ajar pada ulama. Pesantren itu sudah berumur ratusan tahun sementara politisi baru lahir kemarin sore,” ujarnya.

Sebelumnya, Fadli membuat puisi bertajuk ‘Doa yang Ditukar’ menanggapi upaya meralat doa merujuk dukungan ke salah satu calon presiden. Doa Kiai Maimun ini dipanjatkan di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada Jumat 1 Februari 2019.

Baca: Mak Lambe Turah, Seword ‘Hajar’ Jawa Pos, Fadli Zon dan Fahri Hamzah Terkait MCA Ahokers

Berikut penggalan kutipan puisi yang dibuat Fadli menyindir doa yang dibacakan Kiai Maimun:

“Doa sakral, kenapa kau tukar, direvisi sang bandar, dibisiki kacung makelar, skenario berantakan bubar, pertunjukkan dagelan vulgar. Doa yang ditukar, bukan doa otentik, produk rezim intrik, penuh cara-cara licik, kau penguasa tengik”. (ARN/Viva)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: