News Ticker

Fadli Zon Ngotot Tolak Minta Maaf pada Mbah Moen

Arrahmahnews.com JAKARTA – Sepertinya Fadli Zon tidak paham maksud aksi bela kiai itu. Dia pikir itu gerakan politik. Dia salah total. Justru yang memancing ke arah politik adalah gerombolannya dan dia sendiri. Kalau dia tidak singgung doa dalam puisinya maka tidak akan ada yang akan menuntut dia minta maaf. Atau kalau dia tidak membuat puisi itu sejalan dengan narasi para kampret bahwa Jokowi membegal doa, maka juga tidak akan ada yang mempermasalahkan. Intinya, kamu yang menabur, maka kamu yang akan menuai.

Sudah dikatakan bahwa KH Maimun Zubair sudah pasti akan memaafkan Fadli Zon sebelum dia minta maaf. Masalahnya orang-orang yang menghormati kiai tidak sebesar hati KH Maimun Zubair itu sendiri. Merekalah yang tahu seberapa sakit hati mereka kalau kiai yang mereka hormati dipolitisasi secara sadis dalam suatu bentuk puisi yang dapat diartikan sesuai pembacanya.

BacaPuisi #doayangditukar, Kyai Subang ke Fadli Zon Jangan Kurang Ajar ke Ulama.

Lalu dia sekarang mengatakan untuk apa minta maaf karena dia sendiri tidak melakukan penghinaan. Dia merasa sudah menjelaskan bahwa puisi itu tidak bermaksud menghina KH Maimun Zubair. Lalu dia malah menyalahkan orang lain sebagai tidak paham puisi. Dia menuduh orang-orang yang menuntut minta maaf itu adalah orang yang tidak paham puisi.

“Ya, untuk apa saya melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya udah jelaskan beberapa kali bahwa puisi itu ekspresi dan nggak ada hubungannya dengan Mbah Maimoen. Saya kira bagi mereka yang memahami puisi, itu sangat jelas. Bahkan dalam puisi itu disebutkan kaum penguasa, Mbah Maimoen kan bukan penguasa.” (Fadli Zon, Detik)

Benarkah orang-orang yang merasa sakit hati itu tidak paham puisi? Benarkah para ulama yang meminta Fadli Zon itu tidak paham puisi? Benarkah para santri tidak paham puisi? Semakin blunder.

Para ulama yang merekomendasikan Fadli minta maaf mengaku sudah membaca puisinya. Jadi sangat merendahkan sekali kalau ulama dikatakan tidak paham puisi sementara menafsirkan Al Quran saja sudah biasa. Perlu kita ketahui bersama bahwa menafsirkan kitab suci tidak lebih mudah dari menafsirkan puisi. Memahami kitab suci tidak lebih mudah dari memahami puisi. Ya memang ranahnya sudah berbeda, tetapi mengatakan ulama tidak paham puisi adalah perendahan yang sangat tidak layak.

Sementara itu, santri juga punya posisi yang sama. Interpretasi sastra pasti telah mereka lakukan. Apa makna puisi juga sudah mereka pahami. Karena mereka juga bergelut dengan dunia interpretasi kitab suci yang saya katakan tadi tidak sembarang orang mampu menafsirkannya.

BacaAlissa Wahid dan Rommy Geram dengan Puisi #doayangditukar Fadli Zon.

OK anggaplah para ulama dan para santri itu tidak paham puisi seperti kata Fadli Zon. Apakah dengan demikian dia selamat? Kesalahan Fadli Zon dalam mengkritik penguasa adalah menjadikan puisi sebagai alatnya. Puisi itu tidak bisa dipahami sesuai menurut penulisnya. Puisi selalu bermakna bebas interpretasi tergantung siapa pembacanya, bukan siapa penulisnya. Enak saja orang buat puisi kalau hanya bisa dimaknai penulisnya.

Makanya orang bisa menentukan puisi tertentu masuk dalam kategori tertentu. Puisi perjuangan kemerdekaan dimasukkan dalam kategori puisi perjuangan kemerdekaan. Puisi cinta dimasukkan dalam kategori puisi cinta. Dan lain sebagainya. Intinya selalu ada konteks dan relevansi sebuah puisi dan itulah yang ditangkap para ulama dan para santri tadi.

Untuk menghindar desakan untuk meminta maaf dia berkilah jangan puisinya dipolitisir, digoreng maupun dipelintir. Dia merasa puisinya dipolitisir, digoreng dan dipelintir.

“Jadi jangan dipolitisir, jangan digoreng, maupun dipelintir. Nggak ada sama sekali, saya mengenal beliau adalah ulama yang baik, ulama yang humble, ulama yang arif.” (Fadli Zon, Detik)

Katanya dia mengkritik penguasa, tetapi meminta puisinya jangan dipolitisir. Eh Zonk, lu pikir seenak udelmu mengatur orang. Emang hanya kamu saja yang bisa berpolitik. Justru kamulah yang menggoreng kesilapan seorang kiai menjadi alat politik untuk menyerang penguasa.

Lagian kamu tidak berhak mengekang pemikiran orang. Kamu larang orang menafsirkan puisi sesuai pemahaman mereka dan harus sesuai maksudmu. Kamu larang orang memolitisasi puisimu ketika kamu sendiri menjadikannya alat politik. Kamu larang orang menggoreng puisinya, padahal kamu sendiri menggoreng kesilapan seorang kiai yang sangat dihormati para jemaahnya dan santrinya. Lu sehat?

Sebaiknya kamu minta maaf, bukan malah menantang untuk apa. Sebaiknya kamu minta maaf, bukan malah menambah rasa sakit hati dengan merendahkan kemampuan berpikir orang lain. Sebaiknya kamu minta maaf, sebelum kamu dan tuanmu kelar politiknya. [ARN]

Sumber: Seword.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: