Komisi Eropa Masukkan Arab Saudi ke Daftar Hitam atas Pendanaan Terorisme

BRUSSELS – Eksekutif UE pada hari Rabu (13/02) mengatakan bahwa Komisi Eropa telah menambahkan Arab Saudi, Panama, Nigeria dan yurisdiksi lain ke daftar hitam negara-negara yang dianggap sebagai ancaman karena lemahnya kontrol pada pendanaan terorisme dan pencucian uang, kata.

Reuters melaporkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari tindakan keras terhadap pencucian uang setelah beberapa skandal di bank-bank Uni Eropa. Namun demikian langkah ini telah dikritik oleh beberapa negara Uni Eropa termasuk Inggris yang khawatir akan hubungan ekonomi mereka dengan negara-negara yang masuk daftar tersebut, terutama Arab Saudi.

Pemerintah Saudi mengatakan mereka menyesali keputusan itu dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh Saudi Press Agency, menambahkan: “Komitmen Arab Saudi untuk memerangi pencucian uang dan pendanaan terorisme adalah prioritas strategis”.

Baca: Qassemi: Arab Saudi Pendukung Terorisme Paling Terkenal di Dunia

Sementara itu, Panama mendesak namanya dihapus dari daftar karena baru-baru ini telah mengadopsi aturan yang lebih kuat terhadap pencucian uang.

Meskipun ada tekanan untuk mengecualikan Riyadh dari daftar, komisi tetap memutuskan untuk memasukkan kerajaan dalam daftar, membenarkan laporan Reuters pada Januari.

Selain dari kerusakan reputasi, dimasukkannya negara-negara tersebut dalam daftar hitam akan mempersulit hubungan keuangan dengan UE. Bank-bank Eropa harus melakukan pemeriksaan tambahan pada pembayaran yang melibatkan entitas dari yurisdiksi yang terdaftar.

Daftar ini sekarang mencakup 23 yurisdiksi, naik dari 16. Komisi mengatakan bahwa mereka menambahkan yurisdiksi dengan “kekurangan strategis dalam anti-pencucian uang dan melawan rezim pendanaan teroris”.

Baca: Wakil Kanselir Jerman; Wahabisme Sumber Ideologi ISIS dan Terorisme di Dunia

Yurisdiksi baru dalam daftar itu adalah Libya, Botswana, Ghana, Samoa, Bahama, dan empat wilayah Amerika Serikat di Samoa Amerika, Kepulauan Virgin AS, Puerto Riko, dan Guam.

Negara-negara lain yang terdaftar adalah Afganistan, Korea Utara, Ethiopia, Iran, Irak, Pakistan, Sri Lanka, Suriah, Trinidad dan Tobago, Tunisia dan Yaman.

Sementara Bosnia, Guyana, Laos, Uganda dan Vanuatu dikeluarkan dari daftar.

“Kami telah menetapkan standar anti-pencucian uang terkuat di dunia, tetapi kami harus memastikan bahwa uang kotor dari negara lain tidak menemukan jalannya ke sistem keuangan kami,” kata Vera Jourova, Komisaris Eropa untuk Peradilan, sebagaimana dikutip Aljazeera.

“Uang kotor adalah urat nadi kejahatan terorganisir dan terorisme,” tambahnya, mendesak negara-negara dalam daftar untuk dengan segera memperbaiki kekurangan mereka.

Ke-28 negara Uni Eropa ini sekarang memberi waktu satu bulan, yang bisa diperpanjang menjadi dua bulan, untuk mendukung daftar. ini Mereka bisa menolaknya dengan mayoritas yang memenuhi syarat.

Menurut sumber Uni Eropa, Inggris telah memimpin tentangan terhadap daftar Uni Eropa dalam beberapa hari terakhir, dan pada pertemuan tertutup mendesak agar Arab Saudi dikecualikan.

Kerajaan Arab Saudi adalah importir utama barang dan senjata dari Uni Eropa. Beberapa bank top Inggris beroperasi di sana. Royal Bank of Scotland adalah bank Eropa dengan omset terbesar di Arab Saudi, dengan sekitar 150 juta euro atau Rp 2,3 triliun pada 2015. (ARN)

About Arrahmahnews 26678 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.