News Ticker

Dunia Arab Marah atas Penghinaan di Konferensi Warsawa

LONDON – Konferensi Warsawa, yang diselenggarakan oleh AS di ibukota Polandia pada 13-14 Februari, telah membuat marah para pengamat di dunia Arab yang percaya bahwa para pemimpin mereka menghadiri konferensi itu hanya sebagai “extra” dalam skenario yang telah direncanakan untuk normalisasi hubungan Israel-Arab.

Dalam sebuah artikel editorial pada hari Kamis, Abdel Bari Atwan, pemimpin redaksi situs berita dan pendapat Rai al-Youm, mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu adalah “pengantin pria” pada konferensi Warsawa, dan menteri luar negeri negara-negara Arab “para ekstra” yang dipanggil oleh AS untuk membantu menormalkan hubungan Arab dengan rezim Israel.

“Sementara para pejabat Eropa, sekutu utama AS di NATO, telah memboikot konferensi atau mengirim pejabat rendahan ke Warsawa, para menteri luar negeri Arab Teluk Persia justru memutuskan untuk bergabung dengan “Perjanjian Warsawa” yang baru, yang dipimpin oleh AS dan Israel, untuk perang melawan Iran,” kata komentator senior Palestina itu, menggambarkannya sebagai penghinaan bagi dunia Arab.

Baca: Netanyahu dan Negara-negara Arab Bahas Perang dengan Iran di KTT Warsawa

“Sangat menyakitkan melihat menteri luar negeri dari mantan pemerintah Yaman, Khaled al-Yamani, duduk di sebelah Netanyahu dan bertukar senyum dengannya,” kata Atwan dalam artikelnya.

“Lebih menyakitkan melihat Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi – selalu dipuji karena sikap netral dan penolakannya untuk mencampuri perselisihan di antara negara-negara Arab – adalah satu-satunya menteri luar negeri Arab yang secara terbuka bertemu Netanyahu di depan kamera,” kata Atwan dalam editorialnya.

Pertemuan antara bin Alawi dan Netanyahu tampak sangat memalukan bagi media Oman sehingga dua surat kabar utama, Oman dan Al-Roya, bahkan tidak menyebutkan pertemuan tersebut dalam edisi Kamis mereka.

Namun, jabat tangan itu adalah kelanjutan atas perjalanan lain yang dilakukan Netanyahu pada Oktober ketika ia bertemu dengan sultan Oman, kunjungan pertama semacam itu dalam lebih dari dua dekade.

“Salah satu pejabat tinggi Kuwait, yang baru-baru ini mengatakan bahwa negara Teluk Persia akan menjadi yang terakhir untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, duduk dalam jarak dekat dari kursi Netanyahu pada konferensi di Warsawa,” kata penulis Kuwait Fajr al-Saeed.

Baca: Delegasi Kuwait Diam-diam Kunjungi Israel

“Wakil menteri luar negeri Kuwait duduk di meja yang sama dengan Perdana Menteri Israel Netanyahu pada pembukaan konferensi Warsawa ….. Mengapa dia tidak mundur dari sesi itu[?] Apakah Bukankah Kementerian Luar Negeri Kuwait mengatakan bahwa kita akan menjadi negara terakhir yang menormalisasi hubungan dengan Israel [?]” ujar Saeed dalam tweetnya, pada hari Kamis (14/02).

Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait Khaled al-Jarallah mengatakan kepada outlet berita Kuwait pada bulan Januari bahwa “Kuwait akan menjadi negara terakhir yang menormalisasi hubungan dengan Israel.”

Palestina, yang memboikot konferensi, telah sangat memprotes KTT dan partisipasi para menteri Arab.

Nabil Shaath, seorang penasihat Presiden Palestina Mahmoud Abbas, menulis dalam sebuah kolom yang diterbitkan oleh surat kabar Israel Haaretz bahwa konferensi Warsawa tidak memiliki kredibilitas karena konferensi itu bertujuan untuk “menormalkan” pendudukan Israel atas wilayah Palestina.

“Dengan sepenuhnya berpihak pada pemerintah Israel, [Amerika] telah mencoba untuk menormalkan pendudukan Israel dan penolakan sistematis hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” katanya.

Saeb Erekat, sekretaris jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, menyebutnya “upaya untuk memotong” Inisiatif Perdamaian Arab.

Baca: Tak Seperti Negara Arab Lain, Kuwait Tak Sudi Kerjasama dengan Israel

Mantan Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir, yang mewakili Riyadh dalam Konferensi Warsawa, memposting di akun twitternya setelah pertemuan puncak bahwa ia telah berbicara untuk mendukung inisiatif 2002.

Namun, utusan khusus AS Jared Kushner mengkonfirmasi pada Hari Kamis bahwa rencana perdamaian Presiden Donald Trump tidak akan didasarkan pada inisiatif Saudi 2002. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: