News Ticker

Jelang Kunjungan MbS, China Tegaskan Hubungan Erat dengan Iran

BEIJING – Keinginan China untuk mengembangkan hubungan dekat dengan Iran akan tetap tidak berubah, terlepas dari situasi internasional. Presiden Xi Jinping mengatakan hal ini kepada juru bicara parlemen Iran, menjelang kunjungan putra mahkota Arab Saudi ke Beijing pada hari Kamis (20/02).

Menurut laporan Reuters, mengutip sebuah pernyataan kementerian luar negeri China yang dikeluarkan pada hari Kamis (21/02), dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani pada hari Rabu, Xi mengatakan bahwa kedua negara memiliki persahabatan yang panjang dan berbagi rasa saling percaya yang telah teruji.

“Tidak peduli bagaimana situasi internasional dan regional berubah, tekad China untuk mengembangkan kemitraan strategis yang komprehensif dengan Iran akan tetap tidak berubah,” ujar Xi, sebagaimana dikutip laporan tersebut.

Baca: WSJ: Ditengah Sanksi AS, China Tawari Iran Kesepakatan 3 Miliar Dolar

China secara tradisional memainkan peran kecil dalam konflik atau diplomasi Timur Tengah, meskipun mengandalkan kawasan untuk minyak, dengan Iran menjadi pemasok terbesar keempat tahun lalu.

Raja Salman dari Arab Saudi mengunjungi Beijing pada 2017, dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman tiba pada hari Kamis untuk kunjungan dua hari.

Bagaimanapun, China harus pandai menjalankan perannya, karena juga memiliki hubungan dekat dengan musuh regional Arab Saudi, Iran.

“China dan Iran harus lebih memperdalam saling percaya strategis dan terus saling mendukung satu sama lain pada kepentingan inti dan keprihatinan utama,” tambah Xi.

“China menganjurkan kerja sama di antara partai-partai internasional dan regional untuk dengan cepat menempatkan Timur Tengah di jalan stabilitas dan pembangunan,” katanya.

“Kami mendukung Iran dalam memainkan peran konstruktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan bersedia untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan erat pada masalah-masalah regional,” tambah Xi.

Di Beijing, Larijani didampingi oleh Menteri Perminyakan Bijan Zanganeh dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, bertemu dengan mitranya dari negeri tirai bambu itu pada hari Selasa.

Sekutu besar Washington di Eropa menentang keputusan tahun lalu oleh Presiden AS Donald Trump untuk meninggalkan perjanjian nuklir Iran yang mencakup China dan Rusia, dan untuk mencabut sanksi internasional terhadap Iran, sebagai imbalan atas pembatasan pada program nuklirnya. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: