NewsTicker

Tulisan Pedas Iyyas Subiakto “Mafia Pilpres”

Tulisan Pedas Iyyas Subiakto Mafia Politik

Arrahmahnews.com, SURABAYA – “Mafia Pilpres” judul dari tulisan oleh salah seorang pegiat medsos Iyyas Subiakto dalam akun facebooknya. Pak Iyyas menjelaskan bagaimana jaringan mafia ingin menguasai sebuah negara dan bagaimana para mafia ini mengorganisir jaringannya untuk menjalankan roda pemerintahan, berikut ulasannya:

Mafia, istilah ini mendunia dan identik dengan kegiatan kriminal. Asal muasal istilah mafia dari Italia, yang disebut “Mafioso” atau orang terhormat. Sudah cukup tua, usianya lebih dari 200 tahun.

Tapi dalam kenyataannya mafia adalah sebuah kelompok kejahatan yang terorganisir, mereka sadis, tindakannya bisa diluar batas kemanusiaan, manusia bisa disiksa melebihi binatang yang disabung. Copy pastenya ada di Amerika, Jepang dengan Yakuza, Hongkong dengan Triad, dll.

Baca: Muhammad Zazuli: Kenapa Jokowi dan Ahok Dibenci Kelompok Radikal?

Mengamati pilpres Indonesia 2019 yang penuh intrik yang perkepanjangan, saya menilai ada usaha yang terorganisir yang di desain sedemikian rupa. Dan kita tau siapa mereka. Walau saya juga curiga hasil pilpres 2004 & dan 2009, bisa bebas dari kecurangan. Dasarnya kenapa AU dan AN selepas pilpres bisa langsung duduk dikepengurusan pusat sebuah partai, ada apa, dan apa dealnya.

Kawan saya pernah menyampaikan, kalau mau menang pemilu harus menguasai KPU, mau nambah jutaan suara tambahkan angka didepannya, atau dibelakang saja. 600.000 +1 angka didepan, jadi 1,6 jt, mau jadi 6 jt, tambah saja angka nol dibelakang, tinggal pencet keyboard, kalau ketahuan bilang saja salah ketik. Ingat pilpres zaman itu, ingat Antasari masuk bui. Masuk di akal. Tapi hal itu sudah berlalu, mudah-mudahan tidak begitu.

Sekarang kita menghadapi modus yang lain. Intriknya tergolong murahan. Dari mulai harga bawang, beras import, orang gantung diri, Ratna dipukuli, kertas suara dalam kontainer. Semua mau dirangkum dalam UUD 45, pasal 33, nggak taunya dia ngemplang pajak, dan makan HTI. Sial kali lah kita hidup sekali ngalami ketemu manusia sialan kayak begini.

Baca: Wahabi, HTI dan Kelompok Radikal Kompak Hancurkan Pancasila dan NU

Mafioso, orang terhormat dalam tanda kutip, duduk di singgasana, bergelimang harta yang didapat dari jalan tercela. Italia pernah dipimpin mafioso, PM Silvio Berlusconi sekaligus pemilik club bola AC. MILAN, adalah seorang mafioso yang bisa menjadi PM. Jangan heran di Italia, jaringan mafia menyusup ke syaraf sosial, dari mulai tukang sapu, polisi, pegawai negeri, pastor, hanya burung gereja yang luput dari mafia.

Di Indonesia, banyak juga, ada mafia bola, tanah, KTP, BPKB, SIM. Kain kafan saja yang tak ikutan mafia, itupun karena jumlah meterannya tak seberapa.

Mengamati intrik yang berjalan pada pilpres 2019, aroma mafia terasa. Semoga saja KPU masih bersih, kalau Bawaslu, kita sulit mengukurnya karena banyak janggalnya, tapi biarlah, kadang orang butuh panggung untuk bisa membuat dada terbusung.

Masing-masing kutub punya magnit untuk menarik suara, kita pada kutub yang sudah jelas, dimana pemimpin yang bergas telah menunjukkan hasil nyata, bukan diatas kertas. #JOKOWILAGI membuat mereka bak kuda tuli, nabrak sana-sini, sampai lupa bahwa mereka sedang dalam kontestasi menjual gagasan untuk terpilih menjadi pemimpin yang disukai rakyat yang mengerti sebuah bakti, bukan caci maki seperti banci.

Mafia menjadi pemegang stigma sebuah kejahatan terorganisir yang sangat licin, mereka memainkan celah hukum dengan baik dan bisa saja masuk ke sumsum penegak hukum, sehingga hukum itu sendiri sudah berdarah mafia, kita tidak bisa memungkiri bahwa disini bibit itu sudah lama ada. Bahkan cara orba menjalankan pemerintahan sudah termasuk cara kerja mafia dengan gaya Indonesia, tiran itu mafia dalam bentuk lain.

Baca: BNPT: Tujuan Radikalisme-Terorisme Ingin Ganti Pancasila dan Dirikan Khilafah

Keberadaan Jokowi dan tim yang dikuatkan di sana-sini adalah untuk mengikis bibit mafia yang mulai menyubur dalam kemasan beragam, bahkan agama di mafiakan, Tuhan diancam, fitnah disebarkan, ini semua mafia yang merusak tatanan kenegaraan.

Pertanyaannya bagaimana cara menangkalnya. Pertama harus ada pemimpin yang bersih dari bibit dan sifat mafia, jelas rekam jejaknya, jelas tindakannya, pro rakyat, tidak memanfaatkan jabatan sebagai ladang keserakahan.

Dan yang lebih penting bisa menjadi tauladan sebagai sosok yang bersih, tindakannya sesuai dengan ucapannya, menjadi komando rakyat melawan kejahatan dalam bentuk apa saja. Semua itu ada dalam sikap Jokowi, kebalikannya PS tidak mampu bersikap yang sama karena terbebani rekam jejak masa lalunya, serta tabiatnya yang tidak mumpuni mengendalikan hal baik yang bisa dijadikan landasan sebuah gagasan kebaikan, dia lebih dekat dengan aroma kejahatan, kebohongan, keserakahan, dia plin-plan. Dia berbakat menjadi jahat.

Kita lawan mafia, Indonesia bukan Italia, kita sedang bangun dari keterpurukan salah kelola oleh orba, sehingga kita jangan memberi ruang munculnya orba jilid 2. Sekarang dan kapan saja. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: