News Ticker

NU Tak Pakai Istilah Kafir Bagi Non-Muslim, Kiai Ma’ruf: Demi Kerukunan Bangsa

NU Tak Pakai Istilah Kafir Bagi Non-Muslim, Kiai Ma'ruf: Demi Kerukunan Bangsa Sumber Foto Denny Siregar

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj menyebutkan beberapa hasil Bahtsul Masail yang dinilai penting untuk diketahui masyarakat, terutama bagi warga Nahdliyin. Pertama, perihal istilah kafir.

KH Said Aqil Siradj mengatakan, berdasarkan hasil Bahtsul Matsail istilah kafir tak dikenal dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa. Sebab itu, tak ada istilah kafir bagi warga negara non-Muslim. Dan sebab itu pula, setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama di mata konstitusi.

Baca: NGAKAK, Gus Nadir Jawab Cuitan Tengku Zulkarnaen “Itu Penanggalan Kafir”

“Istilah kafir berlaku ketika Nabi Muhammad di Makkah untuk menyebut orang-orang penyembah berhala yang tidak memiliki kitab suci, yang tidak memiliki agama yang benar. Tapi, setelah Nabi Muhammad hijrah ke Kota Madinah, tak ada istilah kafir untuk warga negara Madinah yang non-Muslim. Ada tiga suku non-Muslim di sana, tapi tak disebut kafir,” katanya dalam kegiatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jumat (1/3/2019).

Cawapres nomor urut 01, KH. Ma’ruf Amin menanggapi hasil pembahasan Bahtsul Masail Maudluiyah Nahdatul Ulama (NU) yang memutuskan untuk tidak menggunakan kata kafir bagi non-Muslim di Indonesia. Menurut penilaian Kiai Ma’ruf, rekomendasi PBNU tersebut dikeluarkan untuk menjaga keutuhan bangsa.

Baca: Kaum Pentol Korek Kafirkan Gur Dur dan Quraish Syihab

“Ya mungkin supaya kita menjaga keutuhan, sehingga tidak menggunakan kata-kata yang seperti menjauhkan, mendiskriminasikan gitu. Mungkin punya kesepakatan untuk tidak menggunakan istilah itu,” ujar Kiai Ma’ruf dalam rilis Tim Kampanye Nasional Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Sabtu (2/3/2019).

Ma’ruf mengaku tidak mengikuti langsung Bahtsul Masail tersebut lantaran saat itu tengah melakukan safari politik ke beberapa daerah di Jawa Barat untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Baca: Cak Nun; Ustad yang Suka Mengkafirkan Namanya “Ustad Setan”

“Saya sendiri tidak ikut sidangnya kan, karena terus mutar,” ucap Mustasyar PBNU ini. Namun, menurut dia, jika para ulama telah sepakat untuk tidak menggunakan istilah kafir bagi non-Muslim di Indonesia, berarti hal itu memang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa.

“Kalau itu sudah disepakati ulama berarti ada hal yang diperlukan pada saat tertentu untuk menjaga keutuhan bangsa, istilah-istilah yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan itu untuk dihindari,” jelas Ketua Umum MUI ini. (ARN/BeritaSatu)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: