News Ticker

Laporan: Korut Bersiap Luncurkan Rudal atau Satelit Baru

PYONGYANG – Jaringan radio media berita AS, NPR, melaporkan bahwa Korea Utara mungkin sedang mempersiapkan peluncuran rudal atau satelit luar angkasa, berdasarkan analisis citra satelit dari fasilitas utama dekat Pyongyang.

NPR melaporkan Gambar-gambar Sanumdong itu diambil beberapa hari sebelum Trump dan Kim bertemu di Hanoi untuk pertemuan tingkat tinggi mereka, yang berakhir dengan kegagalan. Deretan foto NPR itu muncul setelah sebelumnya ada laporan bahwa situs utama peluncuran roket Korut di Sohae sedang dibangun ulang.

Sanumdong adalah salah satu fasilitas yang digunakan Pyongyang untuk memproduksi rudal balistik antar benua dan roket antariksa.

Baca: Korut: Latihan Militer Gabungan Korsel-AS Pelanggaran Nyata Deklarasi Bersama

Rodong Sinmun, surat kabar Partai Buruh yang berkuasa di Korea Utara, mengakui untuk pertama kalinya pada hari Jumat bahwa kegagalan KTT Hanoi disengaja oleh AS.

“Publik dalam dan luar negeri yang mengharap kesuksesan dan hasil baik dari KTT DPRK-AS kedua di Hanoi merasa menyesal, menyalahkan AS atas KTT yang berakhir tanpa kesepakatan itu,” bunyi kata surat kabar itu dalam komentar, yang merujuk pada hasil KTT Hanoi.

Sejumlah analis meyakini saat ini Korut mungkin hanya akan meluncurkan sebuah satelit ketimbang misil balistik. Namun AS mengatakan jika pun itu hanya satelit, langkah tersebut tetap tidak sejalan dengan komitmen yang ditunjukkan Kim kepada Trump di Singapura dan Vietnam.

Baca: Pejabat Korut: Kim Mungkin Tak Lagi Tertarik Bicarakan Denuklirisasi dengan Trump

Konvoi kendaraan besar terlihat beraktivitas di sekitar Sanumdong. Di masa lalu, adanya aktivitas semacam ini mengindikasikan Korut sedang bersiap meluncurkan semacam misil atau roket.

Sementara fasilitas peluncuran Sohae di situs Tongchang-ri pernah digunakan untuk meluncurkan satelit atau menguji coba misil, tidak pernah untuk misil balistik.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton pernah mengatakan Korut akan terkena lebih banyak sanksi jika tidak ada kemajuan dalam hal denuklirisasi.

KTT perdana Trump dan Kim di Singapura pada Juni tahun lalu hanya menghasilkan kesepakatan semu tanpa detail apapun. KTT kedua di Vietnam lebih parah lagi, karena berakhir tanpa ada pernyataan gabungan antara Trump dan Kim. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: