News Ticker

Maduro: 2 Tersangka Ditahan atas Tuduhan Sabotase

Arrahamhnews.com CARACAS – Pemerintah Venezuela telah menahan dua orang karena dicurigai melakukan sabotase, kata Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Senin malam.

“Kami telah menangkap dua orang yang berusaha menyabotase sistem komunikasi di bendungan Guri untuk menghalangi proses restorasi [pasokan listrik]. Mereka sedang diintograsi”, kata Maduro dalam pidatonya kepada orang-orang Venezuela.

Presiden Venezuela juga berpendapat bahwa Presiden AS Donald Trump memikul tanggung jawab paling besar atas gangguan sistem jaringan listrik Venezuela.

BacaNYT: Rekaman Video Buktikan Anak Buah Guaido Pelaku Pembakaran Truk Bantuan Venezuela.

“Donald Trump adalah orang yang bertanggung jawab atas serangan cyber pada sistem kelistrikan Venezuela. Dia mengatakan bahwa semua skenario [sehubungan dengan Venezuela] adalah mungki, boneka dan badutnya di Venezuela sendiri menggemakannya. Serangan cyber berteknologi tinggi dilakukan terhadap Venezuela, dan hanya pemerintah AS yang memiliki teknologi yang [diperlukan untuk melakukan serangan semacam itu]”, kata Maduro.

Dia menambahkan bahwa serangan siber telah dilakukan dan badan-badan terkait sedang bekerja untuk memulihkan pasokan listrik di negara itu. Guri, yang terletak di negara bagian Bolivar di Sungai Caroni, adalah salah satu bendungan terbesar di dunia.

Perusahaan Listrik Tenaga Nasional Venezuela (Corpoelec) mengumumkan pekan lalu bahwa pemadaman listrik disebabkan oleh tindakan “sabotase yang disengaja” di bendungan Guri. Pemadaman berikutnya menghantam 21 dari 23 negara bagian di Venezuela, membuat jalur metro ditutup dan sebagian layanan seluler terganggu, media lokal melaporkan. Catu daya di bagian timur negara itu telah sepenuhnya pulih.

BacaMaduro: Serangan Cyber AS Penyebab Pemadaman Listrik di Venezuela.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menolak tuduhan Maduro, dan mengatakan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak ada hubungannya dengan pemadaman listrik besar-besaran.

Sejak Januari, Venezuela menghadapi krisis politik yang dalam. Pada 5 Januari, anggota parlemen Juan Guaido terpilih sebagai ketua Majelis Nasional yang dikontrol oposisi, dimana semua cabang pemerintah lainnya menolak untuk mengakui sejak 2016. [ARN]

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: