NewsTicker

Rouhani dan Kunjungannya ke Irak adalah Pukulan untuk Trump

BAGHDAD – Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menggambarkan kunjungan Presiden Rouhani ke Irak sebagai sebuah pertemuan yang “bersejarah dan terhormat”. Sebuah gambaran yang dipandang oleh para ahli sebagai tanggapan Iran terhadap kunjungan singkat Presiden AS Donald Trump ke Irak pada bulan Desember lalu.

Trump menyelinap ke Irak pada Natal lalu dan menghabiskan sebagian besar kunjungan singkatnya itu hanya di basis dimana militer AS ditempatkan, untuk kemudian mengatakan bahwa ia ingin mempertahankan pasukan AS di negara Arab itu untuk “mengawasi” Iran yang yang berbagi perbatasan sepanjang 1.400 kilometer dengan Irak.

Kunjungan mendadak itu memicu kemarahan para pejabat Irak dan para pemimpin kawasan, termasuk Presiden Rouhani, yang mengatakan kunjungan rahasia itu menunjukkan bahwa AS meremehkan kedaulatan Baghdad.

Baca: #BreakingNews, Trump Mendadak Kunjungi Irak

Tidak seperti Trump, yang harus mendarat di pangkalan militer dalam kegelapan malam tanpa ada pejabat Irak yang menyambutnya, Rouhani mendarat di Baghdad di siang hari bolong dan diterima oleh pejabat tinggi negara itu dengan sambutan kehormatan.

Menanggapi kunjungan rahasia Trump saat itu, Rouhani menegaskan bahwa terbang ke Irak di bawah naungan kegelapan berarti “kekalahan” bagi AS di Irak dan menimbulkan pertanyaan kepada presiden AS mengapa ia tidak memilih untuk “kunjungan terbuka dan resmi” saja.

Presiden Iran itu mengatakan kepada wartawan di Teheran sebelum keberangkatan pada hari Senin bahwa hubungan antara Iran dan Irak tidak seperti hubungan antara Baghdad dan pasukan penjajah Amerika.

Baca:VIDEO: Tiba di Irak, Presiden Iran Diterima dengan Sambutan Kehormatan

“AS dibenci di kawasan, bom yang mereka jatuhkan pada rakyat Irak, Suriah, dan negara-negara lain tidak dapat dilupakan dan pada saat yang sama, persaudaraan Iran terhadap negara-negara di kawasan ini akan selalu diingat,” katanya.

Perjalanan itu dilakukan menyusul kekalahan kelompok teror Daesh di Suriah dan Irak, sebuah pencapaian yang secara luas diyakini tidak mungkin terjadi tanpa peran penting Iran dalam memberikan bantuan konsultasi kepada kedua pemerintah.

Iran dan Irak menikmati hubungan “strategis” yang tidak dapat dilemahkan oleh negara mana pun, kata Zarif di Baghdad pada Hari Minggu, mencatat bahwa pemuda kedua negara bertempur berdampingan melawan ISIS/Daesh.

“Kami menganggap perjalanan ini sebagai awal baru dalam hubungan kami dengan Irak,” kata Zarif, menggambarkan Iran dan Irak sebagai jantung yang berdetak di kawasan itu. “Tanpa Iran dan Irak, kawasan itu tidak akan aman dan stabil,” tambahnya. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: