News Ticker

Pahlawan! Pria ini Cegah Teroris Selandia Baru Bunuh Lebih Banyak Korban

CHRISTCHURCH – Ketika teroris supremasi kulit putih dengan darah dingin menembaki jemaah sholat Jum’at di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di Christchurch, New Zealand (15/03) April lalu, ada seorang pahlawan yang hampir tidak tersorot media, yang menghalangi teroris bertindak lebih keji di Masjid Linwood sehingga tidak jatuh lebih banyak korban di masjid kedua tersebut.

Ketika Brenton Tarrant, teoris bersenjata itu berjalan kearah masjid, membunuh setiap orang yang ia temui, pria bernama Abdul Aziz ini tidak lari. Sebagai gantinya, ia mengambil barang pertama yang bisa ia temukan, mesin kartu kredit, kemudian berlari keluar sambil berteriak kearah sang teroris, “Kemarilah!”

Aziz, 48 tahun, kemudian mengejar Tarrant yang tampaknya tidak menyangka akan adanya perlawanan. Kejar-mengejar terjadi beberapa saat sebelum akhirnya Tarrant memasuki mobilnya dan melaju kencang.

Baca: Benarkah ada Keterlibatan Mossad dalam Tragedi Penembakan Selandia Baru?

Aziz yang dipuji sebagai pahlawan karena mencegah lebih banyak kematian saat shalat Jumat di masjid Linwood. Aziz, yang keempat putranya bersama dengan puluhan orang lain tetap berada di masjid saat ia berhadapan dengan pria bersenjata itu, mengatakan bahwa dirinya pikir itulah yang akan dilakukan oleh siapa pun yang ada di posisinya.

Brenton Tarrant menewaskan 49 orang setelah menyerang dua masjid dalam penembakan massal paling mematikan dalam sejarah modern Selandia Baru.

Ia diyakini telah membunuh 41 orang di masjid Al Noor sebelum mengemudi sekitar 5 kilometer (3 mil) melintasi kota dan menyerang masjid Linwood, tempat ia membunuh tujuh orang lagi. Satu orang meninggal kemudian di rumah sakit.

Supremasi kulit putih Brenton Tarrant, 28 tahun, telah didakwa dengan satu tuduhan pembunuhan, dan seorang hakim mengatakan pada Hari Sabtu bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak dakwaan menyusul.

Latef Alabi, Imam masjid Linwood, mengatakan bahwa jumlah kematian akan jauh lebih tinggi di masjid Linwood jika bukan karena Aziz.

Baca: Kenakan Hijab, PM Selandia Baru Kunjungi Keluarga Korban Penembakan untuk Belasungkawa

Alabi berkata bahwa ia mendengar kegaduhan di luar masjid. dan menghentikan sholat yang diimaminya kemudian melihat ke luar jendela. Ia melihat seorang pria berpakaian hitam bergaya militer lengkap dengan helm dan memegang senjata besar. Ia mengira itu adalah seorang polisi. Kemudian ia melihat dua jasad dan mendengar pria bersenjata itu meneriakkan kata-kata kotor.

“Aku sadar ini sesuatu yang lain. Ini pembunuh,” katanya.

Ia berteriak kepada lebih dari 80 jemaat untuk turun. Mereka ragu-ragu. Tembakan terdengar, jendela pecah dan tubuh berjatuhan, dan orang-orang mulai menyadari bahwa itu nyata.

“Kemudian saudara ini datang. Ia mengejarnya, dan ia berhasil mengalahkannya, dan itulah bagaimana kita diselamatkan,” kata Alabi, merujuk pada Aziz. “Kalau tidak, jika dia berhasil masuk ke masjid, maka kita semua mungkin akan meninggal dunia.”

Baca: Trump Bertanggung Jawab atas Pembantaian Muslim di Selandia Baru, Mengapa?

Kata Aziz ketika ia berlari keluar berteriak, ia berharap untuk mengalihkan perhatian penyerang. Ia mengatakan bahwa pria bersenjata itu berlari kembali ke mobilnya untuk mengambil senjata lain, dan Aziz melemparkan mesin kartu kredit kepadanya.

Ia mengatakan dirinya bisa mendengar dua putra bungsunya, 11 dan 5 tahun, mendesaknya untuk kembali ke dalam.

Tarrant yang bersenjata itu kembali, ia menembak. Aziz mengatakan ia berlari, berjalan diantara mobil-mobil yang diparkir di jalan masuk, hingga menyulitkan si teroris itu untuk menargetkannya. Kemudian Aziz melihat pria itu kembali mengambil senjatanya, mengarahkannya dan menarik pelatuknya. Tapi ternyata senjata itu kosong.

Ia mengatakan teroris itu berlari kembali ke mobil untuk kedua kalinya, kemungkinan akan mengambil senjata lain.

“Ia masuk ke mobilnya dan aku langsung mengambil pistol (yang dijatuhkannya) dan melemparkan itu ke jendela mobilnya seperti panah dan menghancurkan jendela (mobil)nya,” katanya.

Kaca depan pecah: “Itu sebabnya ia takut.”

Aziz mengatakan pria bersenjata itu mengutuknya, berteriak bahwa ia akan membunuh mereka semua. Tapi ia melaju pergi dan Aziz mengatakan ia mengejar mobil itu di jalan hingga lampu merah, sebelum kemudian berbelok dan melesat pergi. Video online menunjukkan petugas polisi berhasil mendesak mobil dari jalan dan menyeret tersangka segera setelah itu.

Berasal dari Kabul, Afghanistan, Aziz mengatakan bahwa ia pergi sebagai pengungsi ketika masih kecil dan tinggal selama lebih dari 25 tahun di Australia, sebelum pindah ke Selandia Baru beberapa tahun yang lalu.

“Saya pernah ke banyak negara dan ini adalah salah satu negara yang indah,” katanya. Dan, ia selalu berpikir, yang damai juga.

Aziz mengatakan bahwa ia tidak merasa takut atau apa pun saat menghadapi pria bersenjata itu. Seperti ada yang otomatis menggerakkannya. Dan ia percaya bahwa Tuhan, bahwa Allah, belum menakdirkan kematian untuknya.

Iklan

1 Trackback / Pingback

  1. Polisi Australia Geledah Rumah Saudara Teroris Penyerang Masjid Selandia Baru | Aktual, Akurat, Independen dan Berimbang

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: